Okupansi Hotel

Tren Penurunan Okupansi Hotel Sepanjang 2025: Fakta dan Kota Favorit Wisatawan Nusantara

Tren Penurunan Okupansi Hotel Sepanjang 2025: Fakta dan Kota Favorit Wisatawan Nusantara
Tren Penurunan Okupansi Hotel Sepanjang 2025: Fakta dan Kota Favorit Wisatawan Nusantara

JAKARTA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) memperkirakan okupansi hotel sepanjang 2025 menurun dibanding tahun sebelumnya. Penurunan rata-rata mencapai 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), menurut Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata okupansi dari Februari hingga Oktober 2025 lebih rendah dibanding 2024. Satu-satunya pengecualian adalah Januari, di mana angka okupansi meningkat, meski tidak signifikan.

Biasanya, libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) jatuh pada 25 Desember, apalagi bila berada di tengah minggu. Hal ini memungkinkan okupansi hotel tinggi selama empat hari berturut-turut, bahkan bisa di atas 80%.

Namun, tren itu tidak terlihat pada tahun ini. Maulana menuturkan, “Tapi kali ini kelihatannya nggak terlalu banyak ya, paling lama tuh bisa cuma dua hari okupansi tertinggi rata-rata.”

Kota Favorit Wisatawan Nusantara Tetap Mendominasi

Meski okupansi hotel menurun, sejumlah kota tetap menjadi destinasi favorit wisatawan. Bandung, Yogyakarta, Puncak, dan Surabaya tetap menarik perhatian pengunjung lokal.

Pulau Jawa menjadi primadona karena populasi tinggi dan akses transportasi yang lebih mudah. Daerah lain seperti Bali, Sumatra, dan Kalimantan menghadapi keterbatasan mobilitas yang menahan kunjungan wisatawan.

Beberapa daerah luar Jawa mengalami hambatan karena keterbatasan penerbangan. Pembatalan dan penundaan jadwal pesawat juga menjadi faktor utama dalam menurunnya kunjungan ke daerah tersebut.

Wisman Masih Terfokus pada Bali dan Jakarta

Untuk wisatawan mancanegara (wisman), gerbang kedatangan terbesar berada di Bali dan Jakarta. Secara keseluruhan, wilayah lintas batas seperti Kepulauan Riau dan Batam juga menjadi titik masuk, meski perannya lebih kecil.

Bali dan Jakarta berperan sebagai hub penerbangan utama. Maulana menekankan, data kunjungan wisman selama ini hanya menghitung saat mereka masuk border, tanpa memperhatikan perjalanan domestik berikutnya.

PHRI menilai, data yang lebih rinci diperlukan. Hal ini penting agar setiap daerah dapat mengetahui apakah terjadi peningkatan kunjungan wisman secara akurat.

Tingkat Penghunian Kamar Hotel Berdasarkan Data BPS

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang secara rata-rata mencapai 52,84% pada Oktober 2025. Angka ini menunjukkan kenaikan 2,68% poin dibanding bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).

Namun, bila dibandingkan secara tahunan, TPK hotel masih turun 2,83% poin. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa meski ada perbaikan bulanan, tren tahunan menunjukkan penurunan.

TPK hotel klasifikasi bintang pada Oktober 2025 tercatat di angka 52,84%. “TPK hotel klasifikasi bintang pada Oktober 2025 mencapai 52,84% atau mengalami peningkatan secara bulanan sebesar 2,68% poin, tetapi mengalami penurunan secara tahunan sebesar 2,83% poin,” ujar Pudji.

Penurunan okupansi sepanjang tahun 2025 menunjukkan tantangan bagi industri perhotelan. Faktor mobilitas wisatawan domestik dan internasional menjadi kunci dalam menentukan tren hunian.

Beberapa kota di luar Pulau Jawa masih menghadapi hambatan transportasi yang membatasi kunjungan wisatawan. Sementara itu, daerah populer di Jawa mampu mempertahankan tingkat hunian yang relatif stabil.

Libur Nataru biasanya menjadi momen puncak hunian hotel, namun pada 2025 tren tersebut tidak terjadi secara signifikan. Hal ini menunjukkan perubahan perilaku wisatawan dan dampak faktor eksternal pada industri perhotelan.

Secara keseluruhan, okupansi hotel masih menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya. Meskipun ada peningkatan kecil pada bulan tertentu, tren jangka panjang menunjukkan perlunya strategi baru dalam menarik pengunjung.

PHRI menekankan pentingnya data yang lebih detail mengenai wisatawan mancanegara. Informasi ini akan membantu daerah mengetahui sejauh mana wisatawan lokal dan internasional berkontribusi pada industri perhotelan.

Pulau Jawa tetap menjadi pusat kunjungan wisatawan domestik. Kota-kota populer di Jawa menawarkan kombinasi kemudahan transportasi dan berbagai atraksi wisata yang menjadi daya tarik utama.

Hambatan transportasi di luar Jawa menjadi salah satu penyebab penurunan okupansi. Penerbangan terbatas dan jadwal yang sering berubah membuat wisatawan kesulitan menjangkau daerah tersebut.

Meski Bali tetap menjadi hub utama bagi wisman, data kunjungan wisatawan yang masuk ke border belum cukup mencerminkan tren perjalanan domestik. Ini menjadi tantangan bagi pengelola destinasi wisata di daerah lain.

BPS mencatat, meski ada kenaikan bulanan pada TPK hotel berbintang, angka tahunan tetap menurun. Hal ini menegaskan perlunya evaluasi strategi promosi dan pengelolaan destinasi wisata di Indonesia.

Okupansi hotel yang turun sepanjang 2025 memberikan gambaran mengenai dinamika industri perhotelan. Tren ini menjadi perhatian bagi pelaku usaha untuk menyesuaikan layanan dan strategi pemasaran.

Libur Nataru yang biasanya memicu lonjakan hunian hotel tidak mampu mengembalikan tren okupansi seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan perubahan pola liburan wisatawan di dalam negeri.

Kota-kota favorit wisatawan domestik tetap menjadi penyelamat bagi industri perhotelan. Bandung, Yogyakarta, Puncak, dan Surabaya mampu mempertahankan kunjungan meski secara nasional terjadi penurunan okupansi.

Kesimpulannya, tren okupansi hotel sepanjang 2025 menunjukkan tantangan yang harus dihadapi industri perhotelan. Strategi promosi, kemudahan akses, dan data yang lebih akurat menjadi kunci untuk meningkatkan kunjungan wisatawan di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index