Perkuat Kemandirian Benih, Wonosobo Optimis Meland-1 Jadi Varietas Unggul

Kamis, 09 Juli 2026 | 18:36:01 WIB
Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Wonosobo bersama BRIN memulai uji keunggulan varietas bawang daun lokal Meland-1. (FOTO: NET)

WONOSOBO - Kabupaten Wonosobo kembali menunjukkan komitmen dalam menciptakan terobosan di sektor pertanian.

Benih bawang daun lokal unggulan bernama Meland-1 kini tengah menapaki fase krusial untuk meraih status Varietas Unggul Baru (VUB), agar bisa diproduksi serta dipasarkan secara luas di tingkat nasional.

Sebagai rangkaian proses tersebut, Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melaksanakan pengujian ulang keunggulan Meland-1.

Proses tersebut berlangsung di Kompleks Kebun Belajar dan Riset Dispaperkan Wonosobo beberapa waktu lalu.

Pengujian ini menjadi langkah sangat krusial untuk membuktikan bahwa Meland-1 memiliki kualitas lebih baik jika dibandingkan dengan jenis bawang daun lain yang telah beredar luas di pasaran.

Apabila seluruh proses berjalan lancar sesuai target, Meland-1 memiliki peluang besar mendapatkan izin pelepasan serta izin edar resmi sebagai varietas unggul baru pada tahun 2026.

Koordinator Tim Peneliti BRIN, Dr Retno Pangestuti, memaparkan bahwa Meland-1 adalah jenis bawang daun lokal dari proses identifikasi dan karakterisasi yang sudah didaftarkan ke Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada akhir 2024.

"Selanjutnya, pada awal 2025, varietas tersebut resmi memperoleh sertifikat sebagai Varietas Unggul Lokal," kata Retno dalam keterangan resminya pada Kamis (9/7/2026).

Berdasarkan penjelasan Retno, sebelum meraih status resmi sebagai varietas unggul baru, Meland-1 harus melewati rangkaian pengujian untuk memastikan aspek keunggulannya.

"Pada Oktober 2025 lalu kami telah melaksanakan uji keunggulan tahap pertama dengan pembanding varietas Bahana, Lara, dan Blis. Hasilnya menunjukkan bahwa Meland-1 memiliki ketahanan paling baik ketika dibudidayakan pada musim hujan," ujar Retno.

Keberhasilan dalam tes gelombang pertama tersebut dijadikan landasan untuk menyelenggarakan pengujian lanjutan pada periode musim kemarau.

Proses ini dilakukan untuk mengukur tingkat adaptasi Meland-1 pada kondisi alam yang berbeda.

"Kami tetap menggunakan varietas Bahana, Lara, dan Blis sebagai pembanding agar data yang dihasilkan benar-benar objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," katanya.

Proses pengujian dimulai melalui penanaman bibit bawang daun yang sebelumnya telah melewati masa penyemaian selama 35 hari.

Dalam waktu sekitar dua bulan ke depan, peneliti BRIN bersama Dispaperkan Wonosobo akan melakukan pengamatan berkala pada seluruh varietas yang sedang diuji.

Berbagai faktor akan menjadi indikator penilaian, mulai dari pertumbuhan tanaman, tingkat adaptasi lingkungan, kekuatan menghadapi musim kemarau, hingga capaian hasil panen.

Tanaman diproyeksikan bisa dipanen saat memasuki usia kurang lebih 65 hari setelah masa tanam, sebelum nantinya dilakukan penilaian akhir pada seluruh hasil riset.

Retno menaruh harapan besar agar hasil pengujian gelombang kedua ini kembali memberikan performa baik, sehingga Meland-1 sanggup melengkapi semua syarat administrasi maupun sains demi mengantongi izin pelepasan varietas unggul baru.

"Kami berharap hasil pengujian musim kemarau ini kembali menunjukkan performa yang baik sehingga Meland-1 memenuhi seluruh persyaratan pelepasan varietas. Semakin lengkap data yang diperoleh, semakin kuat dasar ilmiah untuk proses pelepasannya," tutur Retno.

Pada kesempatan lain, Kepala Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Dwiyama Satyani, merasa sangat optimistis bahwa Meland-1 bisa segera mendapatkan izin pelepasan serta izin edar pada tahun ini.

Menurut pandangannya, kesuksesan tersebut akan menjadi pencapaian besar dalam memperkokoh kemandirian benih hortikultura di wilayah Kabupaten Wonosobo, sekaligus menekan ketergantungan petani terhadap pasokan benih dari luar wilayah.

"Harapan kami, tahun ini Meland-1 sudah memperoleh izin pelepasan dan izin edar sehingga dapat dikembangkan secara lebih luas sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Wonosobo," ujar Dwiyama.

Ia menerangkan, ketersediaan benih lokal unggulan akan memberi keuntungan bagi petani karena nilainya lebih ekonomis serta memiliki daya adaptasi yang sangat klop dengan kondisi agroklimat di daerah Wonosobo.

Bukan hanya sanggup menghemat pengeluaran produksi, pemakaian benih lokal ini juga diproyeksikan dapat membantu petani dalam mengatur sistem tanam, sehingga potensi kerugian akibat ketidakstabilan harga atau penumpukan hasil panen bisa dicegah.

Dwiyama menambahkan, Meland-1 diproyeksikan tidak hanya sekadar menjadi kebanggaan warga Wonosobo, melainkan juga sanggup mendongkrak daya saing pada sektor pertanian daerah melalui penyediaan benih yang subur, adaptif, serta berkelanjutan.

"Pengembangan Meland-1 menjadi salah satu bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam mendorong lahirnya benih hortikultura unggul berbasis potensi lokal," katanya.

Di sisi lain, Retno memberikan apresiasi terhadap kolaborasi antara BRIN serta Pemerintah Kabupaten Wonosobo yang semakin berkembang dalam mendukung inovasi tani berbasis riset.

Bahkan, pada tahun ini Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Wonosobo turut memberikan dukungan dana terhadap realisasi berbagai program penelitian tersebut.

"Kami berharap kerja sama yang sudah terjalin semakin solid dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya petani di Wonosobo."

"Semoga ke depan semakin banyak riset yang dapat dilakukan bersama untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat sektor pertanian nasional," pungkasnya.

Terkini