Khofifah Dorong RS Jatim Adopsi AI dan Alkes TKDN

Khofifah Dorong RS Jatim Adopsi AI dan Alkes TKDN
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa (FOTO: NET)

SURABAYA - Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong seluruh rumah sakit di wilayahnya untuk adaptif terhadap implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi kedokteran global.

Langkah ini dinilai krusial guna mempercepat transformasi sistem pelayanan kesehatan nasional yang kompetitif.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menjelaskan bahwa teknologi medis saat ini telah berkembang pesat berbasis digitalisasi.

Oleh karena itu, tim manajemen dan tenaga medis di Jawa Timur dituntut untuk terus memperbarui kompetensi dan infrastruktur kesehatan mereka.

"Dari berbagai booth yang saya lihat di pameran ini, hampir semuanya sudah mengintegrasikan AI. Ini memberikan sinyal bahwa ekosistem kedokteran kami harus sangat adaptif dengan perkembangan teknologi terkini," ujar Khofifah saat membuka pameran Surabaya Hospital Expo XX 2026 di Grand City Surabaya, Selasa (19/5/2026).

Khofifah menegaskan, Jawa Timur memiliki peran yang sangat strategis dalam penguatan sistem pelayanan kesehatan nasional.

Saat ini, Jatim mengoperasikan 448 rumah sakit, menjadikannya salah satu provinsi dengan kapasitas jaringan layanan kesehatan terbesar di Indonesia.

Namun, seiring dengan pertumbuhan jumlah fasilitas, tantangan rumah sakit kini bergeser dari sekadar fungsi kuratif menuju penguatan layanan promotif, preventif, dan rehabilitatif secara terintegrasi.

Rumah sakit juga dituntut responsif terhadap transformasi digital dan tuntutan efisiensi sistem pembiayaan kesehatan.

"Peningkatan jumlah rumah sakit harus berbanding lurus dengan pembaruan teknologi kedokteran demi menjamin keselamatan dan mutu layanan pasien," jelasnya.

Di sisi pemenuhan kebutuhan infrastruktur medis, Pemprov Jatim juga menekankan pentingnya optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk alat kesehatan (alkes).

Hilirisasi dan peningkatan porsi komponen lokal diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap produk impor.

"Porsi TKDN pada alkes harus diikhtiarkan agar semakin hari semakin tinggi nilainya, meskipun kami akui ada beberapa instrumen teknologi tinggi yang saat ini masih harus diimpor 100%," tambah Khofifah.

Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Wilayah Jawa Timur, dr. Bangun T. Purwaka, menambahkan bahwa pameran dan seminar ini menjadi media strategis bagi pelaku industri dan pengelola rumah sakit untuk mengukur peta jalan teknologi medis di Indonesia.

Menurutnya, pembaruan fasilitas kesehatan di Jawa Timur akan diarahkan pada penguatan keunggulan komparatif antarrumah sakit tanpa mengesampingkan standar keselamatan pasien (patient safety).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index