Pernahkah Anda mencari tahu apa saja 10 mata uang terendah di dunia saat ini? Hingga sekarang, dolar Amerika Serikat (USD) masih menjadi tolok ukur utama untuk menilai kekuatan kurs dari berbagai nama mata uang dunia.
Anjloknya nilai tukar sebuah mata uang bisa dipicu oleh beragam faktor, mulai dari dinamika ekonomi domestik hingga hukum permintaan dan penawaran di pasar global. Ketika permintaan terhadap suatu mata uang melonjak, posisi nilainya pun berpotensi menguat. Sebaliknya, jika sepi peminat, mata uang tersebut bisa merosot.
Lantas, apa saja 10 mata uang terendah di dunia yang mencatatkan nilai tukar paling lemah? Mari kita bedah daftar lengkapnya di bawah ini berdasarkan data ekonomi terbaru.
Daftar Negara dengan Nilai Kurs Paling Lemah
Merujuk data dari Bank Bazaar, berikut adalah beberapa negara yang memiliki mata uang dengan nilai tukar paling rendah di pasar global:
1. Riel Kamboja (KHR)
Riel Kamboja tercatat sebagai salah satu mata uang paling rendah di dunia. Jika disandingkan dengan mata uang global lainnya, popularitas Riel tergolong minim. Bahkan, mayoritas warga lokal di Kamboja justru lebih nyaman bertransaksi menggunakan dolar AS atau mata uang asing yang lebih stabil. Saat ini, nilai tukar Riel berada di kisaran 4.121 KHR per satu dolar AS (nilai ini dapat berubah sewaktu-waktu).
2. Franc Guinea (GNF)
Franc Guinea juga masuk dalam jajaran 10 mata uang terendah di dunia. Ironisnya, Guinea sebenarnya merupakan negara yang melimpah akan kekayaan alam, seperti emas, berlian, dan aneka mineral berharga. Namun, negara di kawasan Afrika ini masih terjebak dalam pusaran kemiskinan ekstrem. Masalah inflasi yang tinggi serta pertumbuhan ekonomi yang lambat membuat nilai tukar Franc Guinea terpuruk, di mana satu dolar AS kini setara dengan 8.604 GNF.
3. Rubel Belarusia (BYR)
Beralih ke kawasan Eropa Timur, ada Rubel Belarusia yang menempati posisi sebagai salah satu mata uang dibawah rupiah. Faktor utama pelemahan ini adalah laju pertumbuhan ekonomi tahunan yang sangat lambat. Pasca runtuhnya Uni Soviet pada 1992, Belarusia mengganti mata uangnya dari Rubel Soviet menjadi Rubel Belarusia. Sejak saat itu, serangkaian kebijakan redenominasi justru membawa mata uang ini ke titik terendahnya dengan nilai konversi sekitar 2,5 BYR per dolar AS.
4. Som Uzbekistan (UZS)
Sebagai sesama pecahan Uni Soviet, Uzbekistan juga menghadapi tantangan ekonomi yang serupa. Akibat pertumbuhan ekonomi yang stagnan, Som Uzbekistan ikut terseret menjadi salah satu mata uang paling rendah di dunia. Meski pemerintah setempat telah melakukan berbagai reformasi ekonomi selama bertahun-tahun, hasilnya belum menunjukkan perubahan signifikan. Saat ini, satu dolar AS dihargai sekitar 11.471 UZS.
5. Rupiah Indonesia (IDR)
Cukup disayangkan bahwa Rupiah Indonesia masih masuk dalam daftar 10 mata uang terendah di dunia. Penurunan nilai ini memiliki akar sejarah yang panjang, terutama sejak badai krisis moneter menghantam Asia pada akhir tahun 1990-an. Walaupun kondisi makroekonomi Indonesia saat ini jauh lebih stabil dan menunjukkan tren positif, nilai konversinya terhadap mata uang asing belum menguat secara drastis, dengan estimasi berada di kisaran Rp15.000 per dolar AS.
6. Kip Laos (LAK)
Mata uang Kip Laos resmi diperkenalkan sejak tahun 1952. Meski sektor industri dan pertumbuhan ekonomi Laos sebenarnya menunjukkan grafik yang konsisten dari waktu ke waktu, negara ini rupanya belum sepenuhnya pulih dari dampak krisis finansial tahun 1990-an. Alhasil, Kip Laos masih terkategori sebagai mata uang dibawah rupiah dengan nilai konversi yang menyentuh angka 18.432 LAK per satu dolar AS.
7. Leone Sierra Leone (SLL)
Sierra Leone merupakan negara Afrika Barat yang menggunakan mata uang Leone. Faktor utama yang membuat Leone menjadi salah satu mata uang paling rendah di dunia adalah sejarah konflik bersenjata berkepanjangan yang memicu devaluasi parah dan kemiskinan ekstrem. Kondisi ini diperparah oleh hantaman wabah virus Ebola beberapa tahun silam yang melumpuhkan sendi ekonomi mereka. Kini, satu dolar AS setara dengan kisaran 19.750 SLL.
8. Dong Vietnam (VND)
Vietnam juga harus menerima kenyataan bahwa Dong termasuk dalam jajaran mata uang dengan nilai terendah. Masalah struktural ekonomi domestik memicu devaluasi yang membuat Dong sulit merangkak naik di pasar valuta asing. Walau berbagai upaya perbaikan regulasi terus digenjot oleh pemerintah Vietnam, Dong masih menduduki posisi lemah dengan nilai tukar berkisar 23.528 VND per satu dolar AS.
9. Rial Iran (IRR)
Rial Iran menjadi salah satu dari 10 mata uang terendah di dunia akibat tekanan devaluasi ekstrem yang berlangsung sejak revolusi tahun 1979. Konflik geopolitik yang berkepanjangan membuat banyak pelaku usaha angkat kaki dan memindahkan modalnya ke negara yang lebih aman. Ditambah lagi dengan sanksi ekonomi internasional terkait program nuklir, nilai tukar Rial merosot tajam hingga menyentuh angka sekitar 42.263 IRR per satu dolar AS.
10. Bolivar Venezuela (VES)
Dalam satu dekade terakhir, Venezuela dihantam krisis ekonomi yang sangat hebat. Sejak tahun 2013, inflasi di negara Amerika Selatan ini meroket hingga ratusan persen—menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Ketidakstabilan politik dan minimnya lapangan kerja membuat para investor global menarik modal mereka. Akibat hiperinflasi ini, Bolivar terpuruk menjadi mata uang dibawah rupiah yang paling ekstrem, dengan nilai konversi mencapai kisaran 2.723.800 VES per satu dolar AS.
Itulah ulasan mengenai daftar 10 mata uang terendah di dunia beserta faktor ekonomi yang melatarbelakanginya. Fenomena ini membuktikan bahwa dolar AS masih mendominasi kekuatan finansial global. Mengingat Rupiah masih berada di daftar tersebut, diversifikasi aset ke mata uang asing seperti dolar AS bisa menjadi langkah strategis dalam perencanaan keuangan masa depan Anda.