JAKARTA - Penurunan nilai tukar rupiah yang terus terjadi memicu para pemodal di dalam negeri untuk mulai mengalihkan perhatian pada aset valuta asing (valas) demi memproteksi nilai kekayaan mereka melalui instrumen lindung nilai (hedging).
Berdasarkan data dari Bloomberg, mata uang garuda di pasar spot mengalami depresiasi sebesar 0,03 persen secara harian sehingga berada di posisi Rp 17.801 per dollar AS pada hari Rabu (27/5/2026).
Jika dihitung sejak awal tahun atau year to date (YTD), nilai tukar rupiah dilaporkan telah merosot berkisar 6,8 persen terhadap dollar AS.
Tekanan yang dialami oleh rupiah rupanya tidak hanya terjadi pada dollar AS, melainkan juga terhadap beberapa mata uang utama dunia yang lain.
Mata uang rupiah mengalami pelemahan terhadap dollar Selandia Baru (NZD) hingga 8,89 persen, franc Swiss (CHF) sebesar 7,78 persen, serta dollar Singapura (SGD) di kisaran 7,50 persen.
Di samping itu, rupiah juga tergerus sebesar 6,72 persen terhadap poundsterling Inggris (GBP), sebesar 6,06 persen terhadap dollar Kanada (CAD), dan sebesar 5,59 persen terhadap euro.
Untuk wilayah Asia, kemerosotan rupiah yang paling dalam tercatat terhadap yuan China (CNY) dengan angka mencapai 10,07 persen secara YTD.
Rupiah pun terpantau melemah terhadap ringgit Malaysia (MYR) senilai 9,25 persen serta dollar Singapura (SGD) senilai 7,52 persen.
Sementara terhadap yen Jepang (JPY), nilai rupiah menyusut sekitar 5,02 persen, lalu terhadap peso Filipina (PHP) tingkat pelemahannya menyentuh 2,14 persen sepanjang tahun berjalan ini.
Seorang pengamat pasar uang dan komoditas bernama Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa dollar AS tetap menjadi opsi nomor satu bagi warga Indonesia yang ingin berinvestasi di sektor valas.
Menurut dia, kecenderungan tersebut dapat diidentifikasi dari melonjaknya jumlah dana warga yang disimpan dalam bentuk rekening tabungan valas.
Mengacu pada data milik Bank Indonesia, jumlah simpanan valas di sektor perbankan mengalami kenaikan sebesar 8,6 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 2.338,6 triliun per Maret 2026.
Adapun produk tabungan valas berhasil mencatatkan kenaikan yang paling signifikan, yaitu menyentuh angka 24,4 persen secara tahunan hingga menjadi sebesar Rp 242,9 triliun. “Sebenarnya masyarakat Indonesia, kalau dilihat dari tabungan, dari data Bank Indonesia itu sekitar 24 persen sudah dipindahkan ke valas. Kebanyakan ditempatkan pada dollar AS karena masyarakat menilai dollar paling kuat,” ujar Ibrahim kepada Kontan.
Dia memberikan penjelasan bahwa besarnya dominasi dollar AS ini didorong oleh cara pandang publik yang selalu mengaitkan penurunan rupiah dengan penguatan mata uang dollar AS.
Situasi inilah yang memicu para investor untuk lebih condong membuka rekening tabungan dollar ketimbang memilih jenis mata uang asing yang lain.
Menurut pandangan Ibrahim, pergerakan pasangan mata uang USD/IDR masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatannya lantaran tekanan terhadap rupiah dinilai belum mereda.
Bahkan, andai saja dollar AS berhasil melewati angka Rp 18.000, maka kans untuk terus merangkak naik menuju Rp 20.000 per dollar AS masih terbuka lebar, di mana hal tersebut akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
Dia berpendapat bahwa tensi geopolitik di tingkat global masih menjadi stimulus utama yang bakal mendikte arah pergerakan pasar.
Walaupun saat ini sedang ada upaya perundingan antara Amerika Serikat dengan Iran, permasalahan yang berkaitan dengan program uranium dinilai tetap meninggalkan sebuah ketidakpastian.
Di luar dollar AS, Ibrahim beranggapan bahwa pergerakan dollar Singapura terhadap rupiah (SGD/IDR) juga mempunyai daya tarik tersendiri sebagai opsi alternatif untuk investasi valas.
Kondisi fundamental perekonomian negara Singapura yang dinilai kokoh serta tingginya intensitas pergerakan warga Indonesia ke negara tetangga tersebut menjadi faktor pendorong utamanya.
Pada saat yang sama, instrumen yen Jepang terhadap rupiah (JPY/IDR) juga sudah mulai banyak diminati karena dinilai memiliki harga yang lebih terjangkau serta berpotensi dijadikan sebagai alat untuk diversifikasi investasi.