Psikologi di Balik Adegan Cringe Film yang Tetap Populer

Psikologi di Balik Adegan Cringe Film yang Tetap Populer
Ilustrasi film (FOTO: NET)

JAKARTA - Pernahkah Anda menonton film lalu tiba-tiba merasa malu sendiri melihat adegannya?

Pernah menyaksikan adegan tokoh utama tersandung, jatuh, lalu semua buku di kampus berhamburan tepat di hadapan pria populer yang kelak menjadi pasangannya?

Atau karakter perempuan yang mendadak berkata, "Aku gak kayak cewek lain," hanya demi memperlihatkan bahwa dirinya lebih spesial?

Adegan receh, cheesy, dan cringe semacam ini sejatinya telah lama menjadi bagian dari industri perfilman.

Wujudnya pun beraneka ragam.

Ada yang berasal dari plot yang terlampau tidak masuk akal, ada pula yang muncul melalui dialog sok unik yang justru membuat penonton mengernyitkan dahi.

Misalnya saat Netflix merilis film My Oxford Year yang menampilkan karakter Ana De La Vega, seorang mahasiswi kutu buku yang digambarkan sangat terobsesi dengan sastra klasik.

Dalam salah satu adegan, Ana berkata: "Aku punya fetish dengan perpustakaan. Aku suka dikelilingi oleh buku. Bagiku bau buku tua adalah yang terbaik. Saat umurku sepuluh tahun aku membaca seluruh novel Phillip Pullman."

Bukannya terlihat natural, dialog tersebut justru dinilai terlalu dibuat-buat.

Banyak penonton merasa karakter Ana seperti dipaksa tampak berbeda dari perempuan lain melalui cara yang terlampau pretensius.

Walaupun kerap dikritik, adegan cringe rupanya tidak pernah benar-benar lenyap dari film maupun serial.

Dan kemungkinan besar, kita semua masih akan terus menjumpainya hingga bertahun-tahun ke depan.

Sisi menariknya, rasa malu ketika menyaksikan adegan cringe ternyata dapat muncul karena adanya empati.

Patrick Lenton dalam artikelnya di ABC memaparkan cringe terjadi ketika seseorang tanpa sadar membayangkan dirinya berada di posisi karakter tersebut.

"Rasa malu akan sesuatu di luar diri pada dasarnya adalah bentuk dari empati. Rasanya seperti kami menempatkan diri sendiri di posisi orang lain, lantas merasa malu untuk mereka," tulis Patrick Lenton.

Semakin dewasa usia seseorang, biasanya rasa cringe yang dirasakan juga semakin kuat.

Isi pikiran yang lebih kompleks membuat orang dewasa lebih sulit memisahkan logika dunia nyata dengan adegan dalam film.

Oleh sebab itu, dialog atau tindakan absurd yang dahulu terasa normal saat remaja, sekarang justru membuat ingin melewati adegan tersebut.

Namun, di balik rasa malu itu ternyata terdapat alasan psikologis lain yang cukup menarik.

Seorang psikiater bernama Steve Ellen menyebutkan humor cringe sebenarnya berhubungan dengan kebiasaan manusia yang terus membandingkan diri dengan standar sosial.

"Manusia (punya kecenderungan) untuk minder dengan kelakuan sendiri, ini membuat setiap orang terus-menerus mengevaluasi diri berdasarkan standar orang lain."

Secara tidak sadar, penonton pun mengasosiasikan diri mereka dengan adegan yang tengah disaksikan.

Adegan cringe pada akhirnya terasa dekat lantaran hampir setiap orang pernah mengalami momen canggung dalam hidupnya.

Tidak hanya itu, adegan cringe juga dinilai sebagai sebuah bentuk simulasi sosial.

Penonton dapat belajar memahami situasi sosial yang aneh tanpa harus benar-benar mengalaminya secara langsung di dunia nyata.

Maka dari itu, meski membuat geleng-geleng kepala, adegan receh dan cringe boleh jadi memang akan terus bertahan di dunia film.

Sebab di balik rasa malu tersebut, manusia diam-diam sedang belajar untuk memahami dirinya sendiri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index