Kisah ASN Jatim Jalani WFH Rabu Demi Efisiensi dan Urus Orang Tua

Senin, 11 Mei 2026 | 09:14:55 WIB
Ilustrasi Seorang Wanita saat melakukan kegiatan kantornya di rumah (FOTO: NET)

SURABAYA - Kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak April 2026 memberikan warna baru bagi ribuan aparatur sipil negara (ASN).

Kebijakan ini mewajibkan sebagian pegawai bekerja secara daring setiap hari Rabu sebagai langkah penghematan bahan bakar dan efisiensi energi di tengah kondisi global yang tidak menentu.

Bagi para pegawai, aturan ini bukan sekadar urusan pindah tempat kerja, melainkan perubahan pola hidup yang memungkinkan mereka lebih dekat dengan keluarga di tengah urusan domestik.

Dewi Ariyanti, seorang pegawai Dinas Pendidikan Pemprov Jatim, telah merasakan manfaat dari skema kerja hybrid ini selama lebih dari satu bulan.

Dewi menilai pekerjaan tetap bisa berjalan secara efektif karena dukungan sistem digital yang mumpuni.

“Ya setiap Rabu. Sebenarnya kalau berbicara efektif atau tidak ya. Efektif di kantor cuma kalau kerja dari rumah bisa dibilang istilahnya bisa efektif juga tapi kadang ke-distract sebentar sama pekerjaan rumah,” ujar Dewi kepada Kompas.com.

“Sama-sama efektifnya kerja bisa melalui aplikasi, kerja tinggal kirim email atau PDF,” imbuhnya.

Ia tidak menampik bahwa bekerja di rumah sering kali membuat konsentrasinya terpecah dengan urusan rumah tangga yang biasanya dikerjakan pada sore hari.

“Ya kan kalau di kantor bisa fokus dengan kerjaan kantor nah kalau di rumah kan misal kelihatan ada yang belum diberesin jadi break dulu beresin, ada piring kotor yang biasanya dikerjakan saat sore hari dicuci dulu,” kata Dewi sambil tertawa.

“Terus lihat cucian numpuk ya nyempatkan untuk masukkan ke mesin cuci ditunggu sambil ngerjain kerjaan kantor,” sambungnya.

Meski suasana terasa lebih santai karena bisa melakukan beberapa aktivitas sekaligus, ia merasa fokusnya tidak setajam saat berada di kantor.

“Jadi kayak gitu, lebih enak sih sambil nyambi-nyambi tapi enggak fokus juga,” katanya.

Pemprov Jatim menerapkan jadwal WFH ini bagi sekitar 81.700 ASN yang berlaku mulai 1 April sampai 1 Juni 2026.

“Menurutku kalau di hari Jumat malah enggak enak, kelamaan libur kayaknya semakin tidak produktif kalau libur kepanjangan. Lumayan enak sih di hari Rabu,” ujar Dewi.

Perbedaan yang paling menonjol menurutnya adalah rutinitas pagi hari yang tidak lagi terburu-buru seperti saat harus berangkat ke kantor.

“Selama WFH bedanya sama WFO saat masak pagi hari untuk orang-orang di rumah. Kalau masuk kantor harus ngebut jadi jam 6 sudah harus selesai karena prepare untuk ke kantor,” ujarnya.

“Nah kalau ada WFH kali ini agak molor. Gitu aja sih perbedaannya jadi tidak ada perubahan signifikan,” sambungnya.

Sisi positif lain yang sangat disyukuri Dewi adalah ia bisa memantau kesehatan ayahnya yang sedang sakit secara langsung setiap hari Rabu.

“Bisa ngontrol seharian sekarang tiap Rabu, bisa merawat langsung, bisa makan bersama, lihat minum obatnya tepat waktu,” ujar dia.

Walaupun sudah mulai terbiasa, ia tetap menganggap interaksi fisik di kantor sangat penting untuk menjaga sinergi antarpegawai.

“Kalau pandemi dulu kan sulit banget untuk komunikasi semuanya menggunakan via Zoom dan harus ready on jam berapa-berapa, apalagi dengan jangka waktu yang lama kan boring banget ya,” tutur perempuan berusia 40 tahun itu.

“Kalau saat ini cuma sehari, ada meeting juga sehari sekali. Kalau waktu pandemi sehari bisa sampai berkali-kali,” sambungnya.

Dewi memastikan bahwa pelayanan publik tetap berjalan prima karena sistem piket kantor masih diberlakukan bagi pegawai tertentu.

“Jadi tidak semua orang tidak masuk, ada satu-dua orang bergiliran setiap minggunya. Kalau di kantor saya hanya ada kepala kantor dan kepala bidang saja yang di kantor. Untuk staf tidak ada, itu kebijakan dari bidang masing-masing,” ujar perempuan asal Bojonegoro tersebut.

Dewi berharap kebijakan ini membawa dampak positif bagi efisiensi tanpa mengganggu produktivitas kerja para ASN.

“Kalau ini berimbas pada efisiensi dan lain sebagainya atau kebijakan lain yang bisa efisien di kantor. Menjalankan seperti ini beda vibes-nya kerja di rumah dan kantor,” kata Dewi.

“Sama-sama produktifnya tapi kan mungkin ada yang butuh ketemu untuk merealisasikan ini. Di waktu WFH semuanya juga sebenarnya bisa komunikasi melalui WA atau yang lain,” pungkasnya.

Terkini