JAKARTA - Indonesia Investment Authority (INA) memastikan komitmennya terhadap strategi investasi jangka panjang, meskipun portofolio saham perbankan mereka mengalami floating loss karena adanya volatilitas pasar.
Manajemen menegaskan bahwa fluktuasi harga saham, termasuk pada kepemilikan di Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI), tidak menggeser keyakinan INA terhadap fundamental investasi atau arah strategi jangka lima tahun mendatang melalui INA 2.0.
Chief Financial Officer INA, Eddy Porwanto, menyebutkan bahwa kepemilikan saham BBRI dan BMRI merupakan bagian dari modal awal yang diterima INA saat lembaga tersebut berdiri dan masih dipertahankan hingga saat ini.
"Kalau kami lihat sejarahnya, saham-saham itu merupakan bagian dari modal awal yang diberikan kepada INA. Sampai sekarang masih kami simpan dan kami pegang," ujar Eddy di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, volatilitas di pasar modal saat ini adalah dinamika wajar dan bukan alasan bagi INA untuk mengubah strategi investasi.
"Memang saat ini pasar modal sedang mengalami volatilitas. Namun kalau melihat sejak aset tersebut diberikan kepada kami hingga saat ini, bahkan ke depan, kami percaya prospek return dari saham-saham tersebut masih sangat kuat. Posisi kami masih solid dan kami tetap akan mempertahankan kepemilikan itu sebagai investasi jangka panjang," katanya.
Eddy menambahkan, INA lebih berfokus pada penciptaan nilai jangka panjang daripada bereaksi terhadap pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
Sementara itu, Chief Executive Officer INA, Oki Ramadhana, menyatakan bahwa lembaganya kini memasuki fase baru, yakni INA 2.0, setelah menuntaskan tahap pembangunan fondasi organisasi pada lima tahun pertama.
Oki menjelaskan bahwa fokus utama INA lima tahun ke depan adalah memperluas investasi pada sektor-sektor prioritas yang dapat mengakselerasi transformasi ekonomi nasional, seperti advanced materials, manufaktur, infrastruktur, energi, dan ekonomi digital.
"Setelah melewati lima tahun pertama membangun fondasi, kami memasuki fase INA 2.0. Fokus kami adalah memperkuat investasi di sektor-sektor prioritas sekaligus memperluas investasi ke sektor advanced materials dan manufaktur yang mendukung industrialisasi Indonesia," ujarnya.
Selain itu, INA akan menjalankan strategi Indonesia Nexus dengan menempatkan investasi pada berbagai dana global yang memiliki kaitan strategis dengan Indonesia untuk menarik lebih banyak investor internasional.
Oki menilai kehadiran INA menjadi instrumen penting guna meningkatkan kepercayaan investor asing di tengah berbagai tantangan investasi nasional.
Menurutnya, INA berperan sebagai mitra yang menjembatani investor global dengan proyek strategis nasional melalui tata kelola kuat dan proses investasi transparan.
"Yang kami bangun bukan hanya investasi, tetapi juga kepercayaan. Dengan INA ikut berinvestasi, investor global memiliki keyakinan yang lebih besar untuk masuk ke Indonesia dan mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang," kata Oki.
Merujuk laporan keuangan INA periode 2024–2025, sovereign wealth fund Indonesia tersebut mencatatkan kerugian yang belum direalisasi (unrealized loss) sebesar Rp 18,46 triliun akibat penurunan nilai investasi di saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Hal tersebut menyebabkan nilai investasi INA pada kedua emiten perbankan BUMN itu turun menjadi Rp 64,99 triliun di akhir 2025, atau menyusut 15,2 persen dari posisi awal 2024 yang mencapai Rp 76,64 triliun.
Tekanan pada kedua saham tersebut masih berlanjut di pasar, di mana pada penutupan perdagangan Rabu (1/7/2026), saham BMRI melemah 1,04 persen ke Rp 3.810 dan saham BBRI terkoreksi 2,2 persen ke level Rp 2.670 per saham.