JAKARTA - Konten kreator Sabrina Chairunnisa memberikan tanggapan atas komentar negatif netizen setelah dirinya menyoroti persoalan presensi kuliah sebagai salah satu indikator kelulusan, bahkan bagi jenjang mahasiswa S3.
Sabrina memberikan penjelasan tersebut lewat kolom komentar seusai dirinya menerima banyak kritikan dari warganet.
"Hehehe karena aku sadar betul enggak bisa seenaknya makanya gagalnya diri mba, Kebetulan prioritasku saat ini memulai karir di NY jadi memang enggak memungkinkan untuk melanjutkan s3 di Indonesia," tulis Sabrina di media sociauxnya.
"Soal presensi hanya harapan kedepannya untuk univ di Indonesia. Terakhir, poin dari beasiswa ini karena jalan seumur hidup berubah. Itu aja sih," jelas Sabrina.
Istri Deddy Corbuzier tersebut turut mengklarifikasi anggapan yang menyebut dirinya tidak memahami konsekuensi bobot kehadiran saat memantapkan diri mengambil kuliah tingkat doktoral.
"Bukan enggak tahu, tapi keadaan berubah, rencana pun berubah," tulisnya.
"Aku pun enggak pernah tahu kalau hidupku tiba-tiba ada perubahan besar tahun lalu yang bikin aku akhirnya memilih untuk pindah," jelasnya lagi.
Oleh sebab itu, ia memberikan penegasan bahwa tidak ada pernyataan dari dirinya yang menyudutkan aturan yang berlaku.
Bagi dirinya, segala hal yang ia kemukakan murni berbentuk harapan, bukan sebuah tindakan menyalahkan.
"Bagian mana nyalahin sistem? Kataku semoga saja. Jadi hanya sekedar harapan," kata Sabrina.
"Best emang netizen kalau udah soal giring opini," lanjutnya.
Perbedaan pendapat tersebut mengemuka setelah Sabrina membubuhkan komentar pada unggahannya ketika membagikan informasi mengenai langkah dirinya yang memilih mundur dari S3 Universitas Indonesia (UI).
Sabrina mengungkapkan bahwa mengambil keputusan untuk menyudahi pendidikan S3 di dalam negeri bukanlah perkara yang gampang, tetapi terpaksa ia lakukan lantaran harus menetap di New York.
"Mau gimana lagi, aku punya prioritasku sendiri sekarang, " tulis Sabrina.
“Dan semoga kedepannya, universitas-universitas di Indonesia tidak menjadikan absensi sebagai bobot utama syarat kelulusan/ syarat ujian akhir kayak negara-negara lain ya,” lanjutnya.
Pernyataan Sabrina pada mulanya memperoleh banyak respons positif dari warganet, di mana dirinya pun memberikan ilustrasi mengenai sistem perkuliahan di Singapura yang tidak terlalu kaku mengenai kehadiran.
"Baru tahu kalau S3 pun masih disetujui absensi ya. Kalau S1 oke lah, lagi masa-masa belajar emang. Tapi kalau sudah S3 berarti kan lebih banyak materi kehidupan nyata yang harus diurus daripada mahasiswa S1. Kok gitu enggak dipertimbangin ya?" tulis warganet.
"Nah ini maksudnya kak, real life things yg harus diurus, entah kerjaan, keluarga, S3 tuh rata-rata pasti udah 30an keatas enggak sih? Udah usia enggak nganggur lagi. You layak mendapatkan lingkungan yang lebih baik sih memang kak. Semangat ya," tulis yang lain.
Terkait kepindahannya ke New York, sebelumnya Sabrina yang menyandang status sebagai mahasiswi program doktoral Ilmu Komunikasi UI, mengabarkan keputusannya untuk menyudahi masa perkuliahannya di Indonesia lantaran mesti pindah ke New York, Amerika Serikat.
"Segala sesuatu berubah. Rencana berubah. Orang berubah. Tapi satu hal tetap sama, kami harus terus bergerak maju. Sampai jumpa, UI," tulis Sabrina.
Mengenai riwayat pendidikan Sabrina Chairunnisa, sebelumnya ia telah merampungkan studi S1 di Universitas Trisakti dengan mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual.
Ia lalu meneruskan studi tingkat magister di Universitas Pelita Harapan pada program studi Ilmu Komunikasi.
Selanjutnya pada tahun 2025, Sabrina sempat menempuh program Summer School di Yonsei University, Korea Selatan.
Ia menjalani program belajar tersebut dari bulan Juni sampai Agustus 2025.
Usai menyelesaikan jenjang S2, pada tahun 2024 Sabrina membagikan berita bahagia mengenai status barunya yang resmi terdaftar sebagai mahasiswa S3 Universitas Indonesia.