JAKARTA - Total suspek virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) kini melonjak hingga 543 orang, dengan 136 di antaranya meninggal dunia.
Sejauh ini, baru 32 kasus yang dipastikan positif Ebola strain Bundibugyo, varian yang obat maupun vaksinnya belum tersedia.
Menteri Kesehatan RD Kongo Roger Kamba menyatakan bahwa proses pelacakan masih berjalan.
Sebab, sumber penularan awal dari wabah ini masih belum diketahui secara pasti.
Di wilayah Bunia, ibu kota provinsi Ituri, pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Adelheid Marschang Ancia menyebutkan bahwa pihak medis pun belum berhasil menemukan 'patient zero' atau pasien pertama yang terinfeksi.
"Yang kami ketahui saat ini adalah pada 5 Mei ada seseorang yang meninggal di Bunia," ujarnya, seraya menambahkan bahwa jenazah kemudian dibawa ke Mongbwalu, tempat paparan saat prosesi pemakaman kemungkinan ikut memicu penularan.
Seperti diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan status darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional terhadap wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo.
Meski begitu, pihak WHO menyebut situasi ini belum masuk dalam kategori darurat pandemi.
Kendati demikian, WHO memberikan peringatan bahwa skala wabah ini berpotensi menjadi "jauh lebih besar" dari data yang berhasil dilacak dan dilaporkan sekarang.
Potensi penularan di tingkat lokal maupun regional dinilai tinggi dan membawa dampak yang serius.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan bahwa sampai sekarang belum ada kasus Ebola yang terdeteksi di dalam negeri.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyampaikan bahwa penetapan status darurat oleh WHO menjadi alarm bagi kewaspadaan global.
Kebijakan ini dikeluarkan lantaran adanya persebaran antarwilayah, angka fatalitas yang tinggi, serta ketidakpastian mengenai cakupan riil dari wabah di Afrika Tengah tersebut.
"Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak," beber Aji dalam edaran yang diterima detikcom, Rabu (20/5/2026).
Aji memaparkan bahwa langkah antisipasi akan diperkuat melalui penyiagaan petugas medis di lapangan serta pengetatan proses skrining bagi para pelancong.
Kemenkes juga sudah menyusun standar prosedur rujukan ke rumah sakit jika nantinya ditemukan penumpang internasional yang menunjukkan gejala klinis mirip Ebola.
Seluruh data dan laporan dari pintu-pintu masuk wilayah Indonesia bakal diawasi secara terpusat melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta Public Health Emergency Operation Center (PHEOC).
Walau pengetatan dilakukan, Aji meminta warga untuk tetap tenang dan tidak panik.
Aji juga mengimbau publik agar tidak menelan mentah-mentah kabar tidak benar atau hoaks yang beredar di media sosial.
"Ebola merupakan penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan kematian dengan tingkat fatalitas rata-rata mencapai 50 persen. Saat ini terdapat tiga jenis strain virus yang sering menyebabkan wabah, yaitu Ebola Virus Disease (EVD), Sudan Virus Disease (SVD), dan yang saat ini berkembang di Kongo yaitu Bundibugyo Virus Disease (BVD)," jelas Aji.
"Langkah terbaik saat ini adalah tetap waspada dengan rajin mencuci tangan menggunakan air dan sabun, mengenakan masker jika merasa kurang sehat, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Hindari juga kontak langsung dengan orang atau hewan yang sakit," lanjut Aji.
Apa faktor pemicu wabah ini?
Ebola ialah infeksi akibat virus yang tergolong langka, namun sifatnya sangat fatal dan mematikan.
Ada tiga jenis spesies virus Ebola yang kerap memicu wabah, dan varian yang tengah merebak saat ini dinamakan Bundibugyo.
Bagaimana cara penularannya?
Virus Ebola menular antarmanusia lewat kontak dengan cairan tubuh penderita yang terinfeksi, seperti darah ataupun muntahan.
Seberapa tinggi tingkat fatalitasnya?
Pada kasus wabah virus Ebola jenis Bundibugyo yang pernah terjadi sebelumnya, tingkat kematian berkisar di angka 30%.
Berapa lama masa inkubasinya?
Gejala klinis umumnya mulai muncul dalam rentang waktu dua sampai 21 hari pasca-infeksi.
Apa saja gejala yang muncul?
Tanda awal infeksi datang secara mendadak menyerupai gejala flu, seperti demam tinggi, pusing, dan tubuh lemas.
Seiring memburuknya kondisi, pasien akan mengalami muntah serta diare, diikuti penurunan fungsi organ.
Sebagian penderita juga bisa mengalami pendarahan di area dalam maupun luar tubuh.
Bagaimana asal-usul Ebola?
Wabah biasanya bermula ketika ada manusia yang tertular virus Ebola dari hewan pembawa infeksi, contohnya kelelawar buah.
Apakah obat atau vaksinnya sudah ada?
Vaksin siap pakai sudah tersedia untuk varian Zaire, namun belum ada vaksin untuk varian Bundibugyo.