JAKARTA - Terdapat sejumlah berita humaniora menarik yang terjadi pada Selasa (19/5) dan bisa dibaca kembali untuk mengawali hari ini.
Berita diawali dengan serba-serbi pencegahan kekerasan di Indonesia hingga belum ditemukannya kasus Ebola di Indonesia.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengimbau segenap kader Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) untuk makin waspada terhadap imbas negatif media sosial seperti kekerasan berbasis online yang mengancam kaum perempuan serta anak-anak.
"Kejahatan berbasis online saat ini tidak hanya mengancam anak-anak, tetapi juga mempengaruhi pola asuh, moralitas, dan ketahanan keluarga. Orang tua perlu meningkatkan literasi digital dan memahami aktivitas anak di ruang digital agar anak terhindar dari berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi daring," kata Menteri PPPA Arifah Fauzi.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memotivasi tiap perguruan tinggi untuk memaksimalkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) demi mewujudkan lingkungan kampus yang aman.
Direktur Pembelajaran dan Mahasiswa Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja mempertegas bahwa kebijakan ini diterapkan demi memfasilitasi ruang belajar yang bersih dari bermacam bentuk intimidasi.
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menyebutkan bahwa pondok pesantren memegang andil yang strategis bukan cuma sebagai wadah pendidikan, melainkan juga sebagai kiblat pembentukan karakter, moral, beserta peradaban bangsa.
"Sebagai salah satu ponpes tertua di Jawa Timur, Pesantren Zainul Hasan Genggong bukan sekadar lembaga pendidikan, namun juga tumbuh menjadi benteng pertahanan moral yang sangat kokoh bagi Jatim dan Indonesia," kata Khofifah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa curah hujan berintensitas tinggi selama 24 jam terakhir telah memicu luapan banjir yang menggenangi area di tiga provinsi, yaitu Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengabarkan bahwa banjir akibat luapan air sungai yang dipicu hujan lebat tersebut merendam ribuan tempat tinggal warga serta sarana publik, hingga membuat sebagian penduduk harus dievakuasi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan sampai detik ini belum mendeteksi adanya kasus Ebola di tanah air, namun pihak otoritas tetap memperketat kewaspadaan sebagai respons atas langkah WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC).
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menerangkan bahwa penetapan status darurat oleh WHO tersebut menandakan krusialnya kewaspadaan global, kendati penyebaran virus ini belum masuk kategori pandemi.
Langkah tersebut diambil karena adanya penyebaran lintas wilayah, tingginya tingkat kematian, serta masih adanya ketidakpastian mengenai luasnya penyebaran wabah di Afrika Tengah.
"Kementerian Kesehatan terus memantau situasi global dan melakukan penguatan kewaspadaan lintas sektor. Kami memastikan seluruh pintu masuk negara, baik pelabuhan maupun bandara, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan, terutama yang berasal dari negara terdampak," ujar Aji.