Udara Jakarta Terburuk Keempat Dunia, Warga Diimbau Pakai Masker

Udara Jakarta Terburuk Keempat Dunia, Warga Diimbau Pakai Masker
Ilustrasi seorang warga menutup mulut dan hidung untuk mengurangi paparan polusi udara (FOTO: NET)

JAKARTA - Kondisi udara di ibu kota pada Rabu pagi tergolong tidak sehat dan menempati posisi keempat sebagai kota dengan polusi tertinggi di dunia, warga pun dianjurkan untuk selalu memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Merujuk pada data dari laman pemantau kualitas udara IQAir pukul 05.42 WIB, indeks kualitas udara (AQI) daerah ini menyentuh angka 158 yang berarti masuk kategori tidak sehat dengan polutan utama PM2.5 serta konsentrasi sebesar 65 mikrogram per meter kubik.

Skor tersebut menunjukkan bahwa derajat kebersihan udara bersifat tidak sehat bagi kelompok sensitif lantaran berisiko merugikan manusia maupun jenis hewan yang rentan, serta berpotensi memicu kerusakan pada tanaman ataupun nilai keindahan.

Laman itu pun memberikan saran mengenai keadaan udara di ibu kota, yaitu bagi masyarakat sebaiknya menghindari aktivitas di luar ruangan.

Jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

Sementara itu, kriteria baik merupakan tingkatan mutu udara yang sama sekali tidak membawa dampak buruk bagi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, maupun nilai estetika dengan batas PM2,5 pada rentang 0-50.

Selanjutnya, kriteria sedang menandakan kualitas udara tersebut belum memengaruhi kesehatan manusia atau hewan secara umum, namun mulai berdampak pada tumbuhan yang peka serta nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

Berikutnya, kriteria sangat tidak sehat berada pada rentang PM2,5 sebesar 200-299 yang berarti mutu udaranya bisa merusak kesehatan sebagian kelompok masyarakat yang menghirupnya.

Terakhir, kriteria berbahaya (300-500) yang berarti secara umum mutu udaranya dapat memicu gangguan kesehatan fatal pada masyarakat luas.

Wilayah dengan polusi udara paling parah di posisi pertama ditempati oleh Lahore (Pakistan) dengan skor 343, diikuti Johannesburg (Afrika Selatan) di posisi kedua dengan skor 172, Kuwait di peringkat ketiga dengan skor 162, dan Delhi (India) di urutan kelima dengan skor 132.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menyiagakan langkah kilat demi mengatasi polusi udara di kota metropolitan ini selama masa kemarau, yang diperkirakan berlangsung dari awal Mei sampai Agustus nanti.

Tindakan taktis untuk mengatasi pencemaran udara di musim kemarau tersebut mencakup pemaksimalan sistem monitoring mutu udara serta pelaksanaan uji emisi bagi kendaraan bermotor.

Bukan hanya itu, Pemprov DKI juga mempunyai Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang kini tengah ditinjau ulang dari berbagai lini, mulai dari perkembangan PM2.5, total emisi di tiap sektor, hingga efeknya bagi kesehatan warga.

Berdasarkan keterangan Pemprov DKI, upaya menekan pencemaran udara ini mustahil dituntaskan oleh satu daerah secara terpisah, sehingga amat membutuhkan tindakan bersama yang terpadu antarinstansi pemerintah daerah sekaligus kerja sama lintas wilayah di lingkar luar Jakarta.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index