JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini memberikan desakan kepada pemerintah untuk memperketat pemantauan di bandara serta pelabuhan guna mencegah masuknya Hantavirus ke Indonesia pada Jumat (8/5/2026).
Upaya preventif ini dilaksanakan guna menanggapi laporan mengenai merebaknya virus tersebut pada kapal pesiar mewah MV Hondius yang sedang berlayar di perairan Argentina, seperti yang dilansir dari Nasional.
Politikus dari Partai Golkar ini berpendapat bahwa penjagaan yang ketat mesti dilakukan pada seluruh pintu masuk, termasuk jalur tidak resmi atau jalur tikus.
Sampai saat ini, memang belum tersedia laporan resmi terkait temuan kasus penyakit tersebut di dalam negeri, namun kewaspadaan sejak dini dipandang sangat krusial lantaran risiko kematian yang dibawa.
"Pengawasan ketat di pintu-pintu masuk wilayah Indonesia harus dilakukan. Baik di bandara dan pelabuhan, bahkan pelabuhan di jalur-jalur tikus. Ini sebagai langkah pencegahan," ujar Yahya, saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).
Yahya memberikan penekanan bahwa penyakit ini mempunyai tingkat bahaya yang sangat tinggi bagi manusia.
Ia pun mendorong pihak pemerintah agar segera menaikkan status kewaspadaan sebelum virus tersebut masuk ke dalam wilayah kedaulatan Indonesia.
"Pemerintah harus meningkatkan kewaspadaan terhadap masuknya Hantavirus ke wilayah Indonesia. Karena penyakit tersebut sangat berbahaya yang sampai menimbulkan kematian," ujar Yahya.
Legislator ini pun memberikan sorotan terhadap pentingnya kesiapan sarana infrastruktur kesehatan nasional.
Ia meminta adanya perumusan standar operasional prosedur (SOP) yang terang bagi seluruh tenaga medis supaya penanganan dapat dilaksanakan secara cepat serta tepat sasaran jika ditemukan adanya kasus.
"Harus ada penguatan di semua fasilitas kesehatan. Baik dari infrastruktur, maupun tenaga kesehatan yang harus sudah memahami prosedur penanganan Hantavirus," kata Yahya.
Pemberian sosialisasi secara masif mengenai karakteristik serta bahaya dari penyakit ini perlu dilakukan kepada publik secara umum.
Yahya menegaskan bahwa edukasi ini bukan memiliki tujuan untuk menimbulkan kepanikan, namun untuk membangun sebuah kesadaran kolektif dalam melakukan pencegahan wabah.
"Bukan bermaksud untuk menakut-nakuti, tapi sekali lagi, pencegahan lebih baik. Pemerintah harus masif memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyakit Hantavirus dan bahayanya bagi manusia," tutur Yahya.
Langkah deteksi dini pun diharapkan dapat tersedia di pelbagai rumah sakit, baik pada tingkat pusat maupun daerah.
Fasilitas pengujian laboratorium seperti PCR perlu disiapkan guna mempermudah proses identifikasi warga negara yang memiliki riwayat perjalanan dari negara yang berisiko.
"Lebih baik mencegah daripada menangani, karena kami tidak ingin penyakit ini mewabah di Indonesia," sambungnya.
Yahya memberikan saran agar pemeriksaan kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh terhadap setiap individu yang datang ke Indonesia.
Penempatan alat deteksi di area bandara dinilai menjadi instrumen yang penting bagi mereka yang tiba dari wilayah suspek.
"Siapkan juga PCR di rumah-rumah sakit pusat dan daerah untuk mengantisipasi masuknya Hantavirus ke Indonesia. Jika perlu juga di bandara untuk mengecek mereka yang baru datang dari negara-negara suspek Hantavirus atau negara berisiko," pungkas dia.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengonfirmasi bahwa pihak pemerintah telah menjalin koordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Pemerintah saat ini tengah memohon pedoman teknis yang berkaitan dengan penanganan serta sistem deteksi dini virus tersebut.
Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa penyebaran saat ini masih bersifat terlokalisasi di dalam kapal pesiar tersebut.
Walaupun demikian, Kementerian Kesehatan tetap menyiapkan skema deteksi yang serupa dengan cara penanganan pandemi Covid-19 melalui pemanfaatan rapid test maupun reagen PCR.
"Ini kan virus yang lumayan berbahaya, yang kami lakukan kami mempersiapkan agar skriningnya kami punya apakah itu dalam bentuk rapid test kayak Covid-19 dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR," tutur dia.
Rasa optimis muncul dikarenakan infrastruktur mesin PCR di Indonesia sudah tersebar secara luas di pelbagai wilayah.
Keadaan ini memungkinkan pihak pemerintah untuk melakukan tindakan medis secara responsif jika terjadi indikasi penyebaran di dalam negeri.