JAKARTA - Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa pemerintah telah memastikan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman dan stabil.
Dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Amran melaporkan perkembangan terkini mengenai stok pangan, produksi, serta harga bahan pokok strategis.
"Stok pangan kita aman. Untuk dua bulan ke depan lebih dari cukup, bahkan sampai Idul Fitri," jelas Amran dalam kesempatan tersebut. Ia menambahkan, stok 11 hingga 12 bahan pokok yang paling dibutuhkan oleh masyarakat tersedia dengan jumlah yang mencukupi dan dalam kondisi terkendali.
Selain itu, Amran juga mengungkapkan bahwa beberapa komoditas pangan sudah berada pada tingkat swasembada, bahkan telah menembus pasar ekspor. Dengan langkah ini, diharapkan Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan daya saing komoditas pangan domestik.
Pencapaian Swasembada dan Ketersediaan Impor Pangan
Amran menjelaskan bahwa dari sembilan bahan pokok utama yang menjadi perhatian pemerintah, sebagian besar telah mencapai tingkat swasembada. Salah satunya adalah bawang merah, yang pada tahun 2025 mampu mengekspor sekitar seribu ton.
"Bawang merah kita sudah swasembada, bahkan ekspor," ujar Amran, yang menyebutkan bahwa ke depannya pemerintah akan terus memperbaiki rantai pasokan untuk menjaga kestabilan harga komoditas tersebut.
Namun, meskipun banyak komoditas yang sudah swasembada, masih ada beberapa bahan pangan yang membutuhkan pasokan impor, seperti kedelai dan gula. Meski demikian, Amran memastikan bahwa pemerintah telah mempersiapkan stok yang cukup untuk menghindari kelangkaan selama periode kritis seperti Ramadhan dan Idul Fitri.
Dengan strategi ini, pemerintah berharap dapat menjaga kestabilan pasokan pangan dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor yang dapat mengganggu kestabilan harga di pasar domestik.
Penguatan Cadangan Beras Nasional untuk Stabilisasi Harga
Dalam rapat tersebut, Amran juga mengungkapkan pentingnya penguatan cadangan beras nasional. Saat ini, stok beras nasional mencapai 3,4 juta ton dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 3,8 juta ton pada akhir Februari 2026. Pada bulan Maret, stok beras diperkirakan akan menembus angka 4 juta ton.
"Stok beras kita sudah cukup dan terus menguat. Ini penting untuk menjaga kestabilan harga di pasaran," kata Amran.
Peningkatan stok beras ini didorong oleh lonjakan produksi beras yang tercatat sepanjang tahun 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan bahwa produksi beras Indonesia pada tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat sekitar 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian ini sejalan dengan proyeksi dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), yang memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2025 berada di kisaran 34,6 juta ton, menjadikannya yang tertinggi di kawasan ASEAN.
Dengan stok beras yang mencukupi, Amran menegaskan bahwa cadangan beras pemerintah menjadi kunci utama untuk menjaga kestabilan harga. Ia menambahkan, intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk mencegah lonjakan harga yang dapat meresahkan masyarakat, terutama pada saat permintaan tinggi seperti menjelang Ramadhan.
Langkah Intervensi Pemerintah untuk Mengendalikan Harga Pangan
Amran juga menggarisbawahi pentingnya intervensi pemerintah dalam menjaga kestabilan harga pangan. Pemerintah, lanjutnya, harus memiliki cadangan pangan yang cukup agar dapat mengambil langkah-langkah pengendalian harga jika terjadi gejolak pasar.
"Jika pemerintah tidak memiliki cadangan yang cukup, bagaimana kita bisa melakukan intervensi pasar," ujar Amran.
Sebagai contoh, Amran menyebutkan keberhasilan pengendalian harga pangan pada Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 yang relatif stabil. "Kita sudah buktikan bahwa dengan penguatan stok dan kebijakan intervensi yang tepat, harga pangan bisa terkendali," tambahnya.
Pemerintah juga terus memperkuat pengendalian harga melalui kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) pada komoditas pangan strategis seperti beras, minyak goreng, daging, ayam, dan telur. Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap dapat menjaga agar harga-harga bahan pokok tetap terjangkau bagi masyarakat, terutama pada masa-masa kritis seperti Ramadhan dan Idul Fitri.
Proyeksi Ketersediaan Pangan Selama Ramadhan dan Idul Fitri
Menteri Pertanian menekankan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk memastikan bahwa stok pangan tetap aman dan harga tetap terkendali menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Dengan penguatan cadangan beras, pengendalian harga, dan strategi pengelolaan rantai pasokan, diharapkan masyarakat dapat merayakan Ramadhan dengan tenang tanpa harus khawatir tentang kelangkaan atau lonjakan harga bahan pangan.
Pemerintah juga akan terus memonitor perkembangan pasar dan ketersediaan pangan di seluruh Indonesia, agar dapat segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika terjadi ketidakseimbangan pasokan.
"Kami ingin memastikan masyarakat bisa menjalani Ramadhan dan Idul Fitri dengan harga pangan yang stabil dan terjangkau," kata Amran.