Cemas Minggu Malam Sinyal Bahaya Kesehatan Mental

Jumat, 12 Juni 2026 | 16:03:24 WIB
Ilustrasi seseorang yang merasa cemas dan lelah menjelang hari Senin (FOTO: NET)

JAKARTA - Banyak pekerja merasakan penurunan suasana hati ketika masa libur akhir pekan akan segera usai.

Adanya gambaran mengenai tumpukan tugas yang menanti pada Senin pagi sering kali memicu rasa khawatir, gelisah, hingga mengganggu seseorang untuk menikmati masa senggangnya.

Meski begitu, para pakar psikologi mengingatkan bahwa rasa cemas menghadapi hari kerja tidak selalu menjadi penanda rasa malas biasa untuk kembali beraktivitas.

Pada kondisi tertentu, fenomena tersebut justru dapat menjadi petunjuk bahwa individu yang bersangkutan sedang mengalami tekanan psikologis yang jauh lebih berat terkait dengan beban tugasnya.

Seorang Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog, memaparkan bahwa masyarakat perlu membedakan dengan jelas antara fase penyesuaian karier yang tergolong normal dengan keadaan yang mulai mengganggu stabilitas kesehatan mental.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Danti saat diwawancarai oleh pihak Kompas.com pada Kamis (11/6/2026).

Menurut pandangan Danti, ketika berada di awal masa merintis karier atau saat berhadapan dengan posisi baru, merupakan hal yang wajar jika seseorang dihinggapi rasa jenuh, tidak nyaman, ataupun merasa kurang tertantang.

Dalam kondisi yang normal seperti ini, seorang individu dinilai masih mampu menempatkan pekerjaannya saat ini sebagai sebuah proses pembelajaran atau sarana untuk mencapai target yang lebih besar.

"Pada fase adaptasi yang wajar, saat seseorang mungkin merasa bosan atau kurang tertantang, namun orang tersebut bisa tetap memandang pekerjaan tersebut sebagai batu loncatan sementara," ujar Danti.

Meskipun belum merasa puas sepenuhnya dengan profesi yang sedang dijalani, mereka tetap menyimpan rasa percaya terhadap kompetensi yang ada di dalam diri mereka sendiri.

Selain itu, energi emosional yang terkuras habis sepanjang hari kerja umumnya masih dapat dipulihkan kembali setelah menggunakan waktu libur di akhir pekan.

Masalah baru akan muncul saat rasa tidak nyaman terhadap dunia kerja berubah menjadi sebuah tekanan yang konstan serta sulit untuk dihilangkan.

Berdasarkan penjelasan Danti, situasi buruk ini biasanya ditandai oleh munculnya perasaan kehilangan harapan, kecenderungan menyalahkan diri sendiri, serta memandang diri sendiri sebagai sosok yang tidak berhasil.

"Situasi sudah berdampak negatif dan berbahaya bagi mental jika mulai menyalahkan diri sendiri, merasa terjebak dalam keputusasaan, dan menganggap diri sendiri sebagai produk gagal," kata Danti.

Di bawah bayang-bayang kondisi seperti itu, rasa cemas menjelang Senin pagi bukan lagi dianggap sebagai bentuk kemalasan belaka untuk pergi bekerja.

Sebab yang terjadi sebenarnya adalah perasaan tersebut telah berubah menjadi bagian dari keletihan emosional yang jauh lebih mendalam.

Danti menerangkan bahwa salah satu indikator yang patut diwaspadai secara serius adalah munculnya rasa cemas yang sangat intens setiap kali momen akhir pekan akan berakhir.

Sensasi cemas tersebut sering kali dibarengi pula dengan hadirnya gangguan-gangguan lain yang mengganggu ritme aktivitas sehari-hari.

"Kondisi ini biasanya diikuti dengan kelelahan emosional kronis yang tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat, munculnya kecemasan intens seperti kecemasan menjelang Senin pagi, gangguan tidur, serta sikap sinis atau penarikan diri secara ekstrem dari lingkungan kerja karena rasa apatis yang mendalam," jelasnya.

Dengan kata lain, waktu libur di akhir pekan terbukti tidak lagi mampu menjalankan perannya sebagai momen untuk memulihkan energi tubuh dan pikiran.

Meskipun seseorang telah mengambil jeda istirahat selama dua hari penuh, mereka akan tetap merasa didera kelelahan emosional yang hebat saat dipaksa kembali menghadapi rutinitas pekerjaan.

Dilihat dari kacamata Danti, salah satu faktor pemicu utamanya adalah adanya ketidakcocokan yang berlangsung lama antara kompetensi diri, ekspektasi, serta realitas pekerjaan yang dijalani sehari-hari.

Saat seorang pekerja merasa terjebak dalam suatu pekerjaan yang dirasa tidak memberikan esensi makna atau melampaui batas kapasitas dirinya, tumpukan beban psikologis lambat laun akan terus menumpuk.

Dampaknya, rutinitas kerja tidak lagi ditempatkan sebagai sebuah tantangan positif yang dapat diatasi, melainkan bergeser menjadi sumber stres yang selalu menghantui pikiran.

Dalam dinamika yang demikian, rasa cemas setiap kali menyambut Minggu malam berfungsi sebagai salah satu indikator bahwa pasokan energi emosional seseorang sebenarnya sudah terkuras terlalu dalam.

Oleh karena itu, Danti memberikan penekanan mengenai pentingnya mendeteksi perubahan kondisi psikologis personal sejak dini.

Jika gejolak cemas, keletihan emosional, masalah tidur, hingga keputusasaan terus melanda dan tidak kunjung mereda meskipun sudah berelaksasi, kondisi ini tidak boleh lagi dianggap enteng sebagai kejenuhan kerja yang lumrah, melainkan sinyal kuat bahwa kesejahteraan psikologis telah terganggu oleh dinamika yang sedang dihadapi.

Terkini