Anies Baswedan Desak Pemerintah Transparan Soal Kondisi Ekonomi

Rabu, 20 Mei 2026 | 05:42:01 WIB
Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (FOTO: NET)

JAKARTA - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengatakan, dalam kondisi saat ini publik dan pasar membutuhkan kepastian, bukan masalah yang disembunyikan.

Hal ini disampaikan Anies berkenaan dengan situasi ekonomi saat ini yang dinilai sudah tidak baik-baik saja.

"Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula, tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran, dari arah yang jelas, dari pemerintah yang tahu akan kemana negeri ini dibawa," katanya melalui akun instagram @aniesbaswedan, Rabu (20/5/2026).

Kompas.com telah mendapat konfirmasi dari tim Anies terkait dengan pengutipan video yang diunggah tersebut.

Dalam video tersebut, Anies juga menyinggung transparansi yang dibutuhkan pasar dan publik saat ini justru tidak didapatkan dari pemerintah.

"Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan," katanya.

Padahal menurut Anies, sudah sangat terang rupiah jatuh pada titik terendah sepanjang sejarah yang menyebabkan harga-harga menjadi naik.

Dia juga menyinggung kesempatan kerja yang menyempit, daya beli melemah, dan berdampak pada hajat hidup orang banyak.

"Tantangan di depan juga masih panjang, geopolitik yang memanas, konflik membayang di timur tengah, dan para ilmuwan mengingatkan El Nino terkuat dalam sejarah pengamatan itu sudah ada depan mata," tuturnya.

"Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan maka beratnya berlipat," kata Anies lagi.

Anies juga menyoroti komentar para pejabat negara yang dinilai terlihat enteng melihat situasi krisis di depan mata.

"Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri bahkan sebagian kabur," ucapnya.

Anies menyebut keteladanan juga tidak hadir saat rakyat diminta berhemat mengencangkan ikat pinggang.

Paradoks disebut terlihat sejalan karena pemerintah justru sibuk dengan hal-hal yang bukan prioritas.

"Pemborosan di atas, pengetatan di bawah. Ini tampak sebagai ketidakpekaan Peringatan sudah datang dari mana-mana, dari ekonom dalam negeri, dari lembaga keuang internasional, dari media-media nasional dan internasional yang mengelamati Indonesia," imbuh Anies.

"Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat yang sama. Ini yang dipertaruhkan sudah hajat hidup ratusan juta orang maka situasi ini harus diperlakukan dengan keseriusan yang sepadan," katanya.

Para kritikus, kata Anies, sudah mengajak kepada pemerintah untuk membuka secara transparan apa yang sebenarnya sedang dihadapi.

"Berhentilah memberi obat tidur kepada publik," katanya.

Dia menyarankan agar pemerintah menyammpaikan masalah dengan jujur dan memberikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten.

"Pimpin secara solid, ajeg dan dari atas sampai bawah. Itu yang menenangkan pasar dan itunya akan menenangkan rakyat," ucapnya.

Presiden Prabowo Subianto menekankan, Indonesia merupakan negara yang memiliki fundamental ekonomi yang kuat.

Ia menegaskan, semua pemimpin di Indonesia, termasuk ketua umum partai politik, harus bekerja untuk rakyat.

"Percaya ekonomi kami kuat, fundamental kami kuat. Orang mau ngomong apa, Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kami, percaya kepada rakyat kami," tegas Prabowo saat meresmikan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), dikutip dari siaran Youtube Sekretariat Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyinggung terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, selama Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya masih bisa tersenyum, masyarakat Indonesia diminta tidak perlu khawatir.

"Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, nggak usah kau khawatir, mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar, yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri," ujar Prabowo.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen pada triwulan pertama tahun ini.

Dia menekankan, semua pihak baik pemerintah maupun swasta turut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

"Kalau kami lihat dengan pangsanya, sebenarnya kalau lihat dari 5,6 itu, mungkin 2,9 dari belanja konsumen, 1,7 dari investasi, 1,3 itu dari belanja pemerintah. Jumlahnya nanti ke arah 6 sana, ada juga export import ya. Jadi gitu caranya," kata Purbaya.

Menurut Purbaya, daya beli masyarakat juga masih cukup baik sehingga ia kembali menegaskan bahwa publik tidak perlu khawatir.

"Yang men-drive dan memberi kontribusi menyumbang terbesar ke pertumbuhan adalah belanja masyarakat, artinya daya belinya masih cukup bagus. Jadi jangan khawatir," kata dia.

Purbaya memastikan pemerintah betul-betul memperbaiki ekonomi, yang terlihat dari data pada triwulan keempat tahun 2025 dan triwulan pertama tahun ini.

Terkini