WHO Sebut Frekuensi Wabah Meningkat dan Pemulihan Terbatas

Rabu, 20 Mei 2026 | 05:37:01 WIB
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus (FOTO: NET)

MOSKOW - Dewan Pemantauan Kesiapsiagaan Global (GPMB) yang didirikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Bank Dunia mengungkapkan bahwa kemunculan wabah penyakit menular di tingkat global kini kian intens dan membawa dampak yang lebih masif.

GPMB dalam laporan kesiapan pandemi teranyar yang dikeluarkan pada Senin (18/5) menegaskan bahwa situasi bumi saat ini belum sepenuhnya aman dari bahaya pandemi.

"Seiring meningkatnya frekuensi wabah penyakit menular, dampaknya juga semakin luas — meliputi kesehatan, ekonomi, politik, dan sosial — serta kapasitas pemulihan yang semakin terbatas," sebut laporan itu.

Badan yang dibentuk pasca-merebaknya wabah Ebola di kawasan Afrika Barat periode 2013-2016 ini memberi peringatan bahwa alokasi investasi selama sepuluh tahun terakhir belum cukup untuk mengimbangi eskalasi risiko pandemi.

"Setelah lonjakan pendanaan respons COVID-19, bantuan pembangunan untuk kesehatan kembali ke level 2009 dan menurun sebagai bagian dari keseluruhan bantuan pembangunan," kata laporan tersebut.

Lembaga yang masa baktinya selesai pada 2026 tersebut mendesak agar segera dibentuk sistem pemantauan mandiri yang bersifat permanen guna mengevaluasi risiko pandemi.

Hasil laporan tersebut turut menggarisbawahi krusialnya pemerataan akses terhadap vaksin, alat uji, serta metode pengobatan yang krusial melalui kesepakatan pandemi global.

Pada hari Minggu, WHO mengumumkan status darurat kesehatan masyarakat, walaupun belum masuk klasifikasi pandemi, menyusul temuan lebih dari 250 kasus suspek dan jatuhnya 80 korban jiwa yang ditengarai akibat wabah Ebola di Kongo.

Kondisi tersebut dipicu oleh virus Ebola varian Bundibugyo, jenis yang berbeda dari varian Zaire yang sempat menjadi biang keladi wabah di Afrika Barat satu dekade lalu.

Terkini