MAKKAH - Suara langkah kaki terdengar saling bersahutan di area pelataran Masjidil Haram.
Ribuan jemaah terus bergerak tanpa henti menuju tempat tawaf, sementara yang lainnya berupaya menemukan jalur pulang ke arah terminal pemondokan.
Di tengah padatnya arus manusia, Murtini yang bertugas sebagai Petugas Perlindungan Jemaah Seksi Khusus (Seksus) Masjidil Haram Daker Makkah terus berpindah titik untuk membantu jemaah Indonesia yang kebingungan.
Berbagai persoalan muncul, mulai dari jemaah yang kehilangan alas kaki, terpisah dari kelompoknya, hingga lansia yang kehabisan tenaga setelah menyelesaikan ibadah sa’i.
Pekerjaan di sektor khusus Masjidil Haram ini berlangsung hampir tanpa jeda bagi para petugas.
Apabila ada jemaah yang kehilangan tas, petugas segera melakukan pencarian hingga ke pusat penampungan barang hilang di sekitar area WC 9.
Petugas juga dengan sigap mendorong kursi roda yang telah tersedia di tiap pos untuk membantu jemaah lansia yang tidak sanggup berjalan menuju terminal.
Dalam kesehariannya, Murtini berulang kali mengantar jemaah menuju Terminal Syib Amir, Ajyad, maupun Jabal Ka’bah.
"Kami tidak pernah tahu kondisi jemaah setelah selesai umrah. Ada yang awalnya sehat, selesai tawaf dan sa’i langsung lemas, kakinya sudah tidak kuat," ujar Murtini saat ditemui tim Media Center Haji di Masjidil Haram, Sabtu 9 Mei 2026.
Tantangan tugas kian meningkat saat kepadatan jemaah mencapai puncaknya setelah waktu salat berakhir.
Faktor kelelahan dan belum mengenali medan sering kali membuat jemaah kehilangan arah menuju terminal pemondokan.
Murtini mengungkapkan bahwa ia menemui beragam karakter jemaah, di mana ada yang mudah diarahkan dan ada pula yang merespons dengan ketus karena panik.
"Namanya manusia macam-macam. Ada yang kami tanya baik-baik, jawabnya juga baik. Ada juga yang ketus karena mungkin sudah capek," kata dia sambil tertawa kecil.
Segala tantangan tersebut dianggapnya sebagai bentuk pengabdian, terlebih para petugas telah dibekali latihan pengendalian emosi selama satu bulan penuh sebelum berangkat.
"Kami diajarkan untuk melayani jemaah dengan senyum, walau mungkin hati lagi capek atau dongkol," ucap Murtini.
Kemampuan bahasa daerah menjadi kelebihan tersendiri bagi personel TNI yang berdinas di Kodiklat TNI Serpong ini, terutama saat membantu jemaah asal Nusa Tenggara Barat.
"Banyak jemaah Lombok yang akhirnya nyaman karena bisa ngobrol pakai bahasa daerah," ucap Murtini.
Ia menceritakan pengalaman menyentuh saat menolong seorang lansia asal Lombok yang menunggu 14 tahun untuk berhaji hingga rela menjual rumah.
"Dia bilang, 'Saya tidak apa-apa tidak punya rumah, yang penting saya bisa datang ke rumah Allah'," cerita Murtini menirukan ucapan jemaah tersebut.
Pengalaman-pengalaman seperti inilah yang sering kali menghapuskan rasa lelah Murtini selama bertugas di Tanah Suci.
Ia berpesan agar para jemaah tidak merasa sungkan untuk meminta bantuan kepada petugas PPIH jika mengalami kesulitan.
"Kalau ada masalah atau terpisah dari rombongan, jangan malu menyapa petugas. Semua petugas pasti akan membantu," ucap Murtini.
Meski sibuk melayani, Murtini tetap menyempatkan diri menghubungi anak-anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar setiap malam untuk melepas rindu.
"Yang paling saya kangenin ya anak. Jadi setiap malam saya usahakan tetap telepon," kata Murtini.
Tugasnya sebagai penyambung lidah dan penunjuk arah terus berlanjut saat ia kembali menyambut sekelompok jemaah yang kelelahan di tengah keramaian Masjidil Haram.