Mandiri dan Disiplin, Cerita Anak Punk Solo yang Kini Jualan Sayur

Senin, 11 Mei 2026 | 11:44:50 WIB
Cerita anak punk, Hafid (22) (FOTO: NET)

SOLO - Sebagai anak punk, penampilan Hafid (22) kerap dipandang sebelah mata.

Potongan rambutnya mohawk dan dicat merah menyala.

Hidungnya dipasang piercing yang sering disimbolkan sebagai anak rebel.

Pakaiannya juga serba hitam, lengkap dengan jaket kulit berduri, celana ketat, dan sepatu boot.

Bedanya, pria asal Pemalang, Jawa Tengah itu saban pagi tak lagi mengamen di jalan.

Dia menaiki kendaraan roda duanya menuju ke Pasar Legi di Solo.

Sejak pindah ke Solo pada awal 2025 hingga saat ini, Kipli, begitu sapaan akrabnya menjadi kurir sayur.

Dia bekerja di Depot Sayur Sejahtera milik rekannya, Hilman Ramadhon (29).

"Sebelumnya, pas di Pemalang, aku kerja di bengkel sama jualan kopi juga," kata dia, saat ditemui Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Meski kini pekerjaannya berubah, Kipli tetap mempertahankan identitasnya sebagai anak punk.

Setiap hari, aksesori punk melekat di tubuhnya meski tujuannya adalah kulakan ke pasar.

Jauh sebelum menjadi kurir sayur di Solo, Kipli menghabiskan waktu remajanya di Pemalang.

Dia tumbuh seperti anak laki-laki pada umumnya, memiliki rasa penasaran yang tinggi.

Termasuk ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat lingkungannya mulai menggandrungi style punk.

Dia pun ikut karena penasaran.

"Awalnya aku ngelihat anak punk itu apaan sih, hidupnya enggak jelas di jalan terus ngamen," kata dia.

Namun, saat ikut dalam komunitas itu, punk justru mengajarkan banyak hal.

Gerakan yang identik dengan kebebasan individu ini mengajarkan Kipli bahwa manusia itu harus mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

"Punk adalah cara berpikir, mentalitas dan sikap hidup, dan nilainya. Kalau dalam anak punk itu ada istilah 'Do It Yourself', yaitu inisiatif untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bergantung atau mencari validasi," kata Kipli.

Pemahaman itulah yang membuat Kipli mantap untuk pindah ke Solo dan ikut berjualan sayur dengan Hilman.

Perkenalan Kipli dengan Hilman bermula ketika pria itu sedang berkumpul di acara Vespa di Solo pada 2024.

Di sana, dia berkenalan dengan Hilman, yang ternyata juga anak punk.

Penampilan Hilman sama sekali tidak menggambarkan identitas anak punk.

Pria asal Jakarta itu hanya mengenakan kaos, celana pendek, dan berkacamata.

Tak ada jaket kulit, sepatu boot, piercing, atau tato di tubuhnya.

Rambut lelaki itu juga ditata rapi dan dibiarkan berwarna hitam alami.

Ketertarikan Hilman dan Kipli terhadap style punk membuat keduanya lekas akrab.

"Dari situ akhirnya kenalan, tukeran kontak, saling follow. Aku juga main ke tempat dia tinggal," katanya.

Kipli mengenang, kala itu Hilman masih berjualan kopi gerobak dan baru saja pindah dari Jakarta ke Solo, Jawa Tengah.

Tak ada yang menyangka pertemuan itu justru mengubah hidup Kipli.

Beberapa bulan setelah pulang ke Pemalang, Kipli melihat video Hilman yang sedang berjualan sayur dengan sepeda motornya.

Pria itu ternyata membuka usaha Depot Sayur Sejahtera.

"Dia (Hilman) bilang kalau lagi membuka Depot Sayur Sejahtera dan butuh rekan kerja. Ya sudah, aku menawarkan diri," ucapnya.

Gayung bersambut, Hilman menerima tawaran Kipli.

Malam itu juga, dia meminta Kipli untuk pergi ke Solo dan mulai bekerja.

"Malamnya aku langsung berangkat. Enggak punya modal, enggak punya apa. Langsung berangkat," kenang Kipli.

Penampilan Kipli sebagai anak punk dinilai aneh oleh masyarakat.

Apalagi ketika dia blusukan ke pasar untuk mencari sayuran segar.

"Sering banget di pasar waktu aku pakai baju seperti ini, orang-orang pada bilang, 'Wong opo iki? (Orang apa ini?)'. Terus beberapa juga ada yang takut," cerita Kipli.

Dia juga mengaku pernah ditanya oleh ibu-ibu saat membeli bawang untuk diantar ke customernya.

"Ibu itu bilang ke penjualnya, 'Bu, iki sopo? (Bu, ini siapa?)'. Terus ibu penjualnya bilang kalau aku pelanggan tetap. Habis itu, ibunya bilang lagi, 'Kok ngene? (Kok kayak gini?)'. Rambutnya merah," tambah Kipli.

Tapi Kipli tak tersinggung.

Dia diam saja ketika masyarakat memandangnya "aneh".

Menurutnya, stigma di masyarakat telanjur mengenal anak punk melalui aksesori yang dikenalkan, kemudian menyimbolkannya dengan anak nakal dan rasa kebebasan.

"Ternyata masyarakat itu tahunya punk ya cuma sebatas tampilan. Rebel karena tindikan, misalnya. Mereka enggak tahu kalau punk itu sebenarnya bukan cuma fashion," terang Kipli.

Meski masih mempertahankan gaya punk-nya, Kipli mengaku mengalami banyak perubahan setelah menjadi kurir sayur.

Dia kini lebih sering bangun pagi karena harus pergi ke pasar untuk mendapat sayur-mayur yang segar.

"Aku sekarang bisa bangun lebih pagi. Tadinya aku bangun jam 10.00 WIB terus enggak tahu mau ngapain. Semenjak berjualan sayur, aku bangun pagi, jam 05.00 WIB buat ke pasar," ucapnya.

Tak hanya itu, keramaian pasar juga membuat Kipli lebih sering berinteraksi dengan orang asing, kegiatan yang sebelumnya tak pernah dirasakan ketika menjadi anak punk.

"Di sini aku belajar untuk lebih disiplin karena itu tanggung jawabku sekarang," kata Kipli.

Dia mengaku sangat menikmati kehidupan barunya sebagai kurir sayur bersama dengan Hilman.

Selain lebih disiplin dan menjadi morning person, Kipli juga bisa menyalurkan hobi motorannya.

"Nambah berat badan juga di sini," kata Kipli sambil tertawa.

Seiring dengan dikenalnya Depot Sayur Sejahtera, identitas "punk" semakin melekat di bisnis yang didirikan Hilman.

Kendati demikian, pria berkacamata itu mengaku tak keberatan.

Label "anak punk" dari masyarakat justru menjadi wadah pembuktiannya.

"Selama ini stigma orang soal punk itu bau, terus ngamen di pinggir jalan. Tapi di situ aku mencoba ngebuktiin kalau ada punk ada kok yang mau bekerja, mau mandiri untuk hidupnya sendiri," kata dia.

Bagi Hilman, punk juga menjadi salah satu fase hidup yang pernah dilalui dan mengajarkan banyak hal kepada dirinya.

Meskipun identitas itu masih melekat di hidupnya, Hilman mengaku tak terganggu sama sekali.

"Ya emang kenapa kalau punk jadi tukang sayur?" tuturnya tersenyum.

Terkini