JAKARTA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat bersama Pemkot Tangerang mempererat kerja sama dalam sektor pembangunan infrastruktur serta sistem transportasi lintas wilayah.
Langkah ini diambil guna meningkatkan konektivitas dan menjaga stabilitas ekonomi di kedua kawasan tersebut.
Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainah, menjelaskan bahwa pembangunan akses jalan memegang peranan krusial dalam menghubungkan antarwilayah dan mendongkrak roda ekonomi warga.
"Membangun jalan sama saja dengan membangun peradaban. Jalan membuka konektivitas antarwilayah sehingga aktivitas ekonomi dapat berjalan lebih optimal," kata Iin saat menghadiri Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Transformasi Infrastruktur dalam Menunjang Akselerasi Perekonomian" di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Iin berpendapat bahwa keberlanjutan sebuah infrastruktur tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata, namun juga memerlukan perawatan kolektif antara otoritas pemerintah, warga, dan para pengguna jalan.
Ia pun menggarisbawahi urgensi kolaborasi dengan daerah penyangga seperti Kota Tangerang, mengingat arus mobilitas warga Jabodetabek yang sangat masif setiap harinya.
"Permasalahan wilayah tidak bisa diselesaikan sendiri. Perlu kolaborasi agar tidak terjadi friksi dalam pelaksanaan pembangunan," ujar Iin.
Iin menambahkan bahwa koordinasi lintas batas telah dijalankan dalam skema pengembangan area perbatasan, contohnya di wilayah Joglo dan Kembangan, agar tiap kebijakan pembangunan tetap sinkron.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya terobosan dalam hal pendanaan melalui skema creative financing supaya proyek pembangunan tidak melulu membebani APBD.
"Anggaran tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Perlu alternatif pembiayaan agar pembangunan tetap berjalan," ucap Iin.
Senada dengan hal itu, Taufik Hendayana selaku Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Barat, memaparkan bahwa komunikasi antarwilayah sebenarnya sudah terjalin sejak lama, namun memang belum tertuang dalam sebuah ikatan formal yang kuat.
"Koordinasi antarwilayah sudah sering dilakukan, tapi memang secara formal belum maksimal. Ke depan, ini yang akan kami dorong," tutur Taufik.
Menurut Taufik, konsep pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta Barat memiliki keterkaitan langsung dengan wilayah Tangerang, seperti di area Jalan Basoka.
Ia mendorong adanya nota kesepahaman (MoU) antar pemerintah daerah untuk mengintegrasikan tata kota, penyediaan ruang terbuka hijau, hingga skema pembiayaan kreatif.
"Walaupun asetnya berada di Bina Marga, pemanfaatannya bisa disiapkan untuk ruang hijau berkelanjutan maupun mendukung sektor perekonomian," imbuh Taufik.
Di sisi lain, Taufik menyebutkan bahwa proyek penanganan banjir di Jalan Salak II yang kini berjalan juga memerlukan dukungan sarana tambahan, mulai dari relokasi rambu peringatan dini hingga pembuatan saluran teknis.
"Infrastruktur ini saling beririsan, maka MoU menjadi penting agar tidak terjadi hambatan di lapangan," ungkap Taufik.
Pada kesempatan tersebut, Maulana A. Damanik selaku Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Kota Tangerang, menyampaikan bahwa sistem transportasi yang kini semakin terpadu telah menyokong konektivitas antarwilayah.
"Harapannya, tentu masyarakat bisa berpindah menggunakan angkutan massal yang aman dan nyaman, serta terhubung dengan Transjakarta, KRL, hingga kereta bandara," kata Damanik.
Dalam diskusi itu, Budi Haryadi yang merupakan pegiat media sosial, menyarankan adanya pembentukan badan koordinasi pembangunan infrastruktur yang lebih terpadu bagi wilayah lintas kawasan.
Ia menilai mobilitas tinggi di Jabodetabek butuh sistem koordinasi kuat agar pembangunan lebih efektif.
"FGD ini jangan berhenti di sini. Selain masyarakat dan pemangku wilayah, penyatuan pemahaman antarperangkat daerah juga sangat penting," pungkas Budi.
Ketua Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ), Endriansyah, turut memandang jalan sebagai instrumen vital dalam sistem ekonomi kota yang memengaruhi distribusi barang dan daya saing daerah.
"Infrastruktur jalan bukan sekadar fasilitas, tetapi instrumen strategis dalam mendorong akselerasi ekonomi," tutur Rian.
Ia berharap FGD ini bisa menghasilkan masukan strategis dalam memperkokoh konektivitas dan ketahanan ekonomi Jakarta Barat melalui infrastruktur yang terintegrasi.
"Maka dari itu, saya ingin FGD ini menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat konektivitas wilayah dan ketahanan ekonomi Jakarta Barat melalui pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dan berkelanjutan," ungkap Rian.