JAKARTA - Insiden kebakaran hebat yang melanda kawasan permukiman padat akhirnya dapat ditanggulangi setelah petugas berjibaku memadamkan api selama tujuh jam hingga dini hari.
Ketika pagi menjelang, pemandangan di lokasi terdampak hanya menyisakan tumpukan sisa kebakaran berupa abu, seng, serta kayu yang telah legam.
Pihak berwenang mencatat kerugian material mencapai ratusan unit tempat tinggal yang dihuni oleh ratusan kepala keluarga kini rata dengan tanah.
Kondisi tersebut memaksa ratusan jiwa penduduk yang kehilangan tempat tinggal untuk bertahan di area pengungsian sementara yang disediakan oleh seorang pengusaha setempat.
"Lalu ada delapan korban mengalami luka-luka, terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki. Korban luka telah mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Hermina," ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, di lokasi pengungsian, Selasa.
Pemerintah daerah bergerak cepat dengan mendirikan belasan tenda darurat guna menampung seluruh logistik dan warga yang kehilangan tempat tinggal.
Pasokan makanan siap saji beserta air bersih juga langsung disalurkan ke posko darurat bagi para korban terdampak.
Masyarakat yang tertimpa musibah sangat mengharapkan adanya uluran tangan dari pihak berwenang agar dapat mendirikan kembali tempat beralih berteduh mereka.
Seorang warga sepuh menceritakan bahwa seluruh aset bangunan kontrakannya serta rumah kerabatnya kini sudah tidak ada yang tersisa.
Seluruh bangunan miliknya kini telah menjadi arang pascaamukan si jago merah.
"Semuanya habis. Ada delapan rumah," ujar Kotnawi usai memeriksa puing-puing sisa rumahnya, Selasa.
Lelaki yang sudah puluhan tahun menetap di kawasan tersebut menggantungkan hidupnya dari hasil berniaga pakaian di pasar yang letaknya bersebelahan dengan area kebakaran.
Dirinya menegaskan keinginan kuat untuk memperbaiki kembali tempat tinggalnya apabila mendapatkan sokongan dana atau material dari pemerintah.
"Mau bangun lagi. Mau rehab kalau ada bantuan. Saya sih mohon bantuannya saja kalau bisa gitu, untuk memperbaiki," tutur Kotnawi.
"Namanya kan kami usaha di sini, tinggal di sini. Jadi kan kalau enggak ada tempat tinggal, bingung," jelasnya.
Kendati demikian, warga menyadari sepenuhnya bahwa status tanah yang mereka bangun selama puluhan tahun ini merupakan aset milik kementerian negara.
Hal mengenai kepemilikan lahan tersebut diakui sudah menjadi pengetahuan bersama bagi masyarakat yang tinggal di sana.
Warga lain juga mengonfirmasi hal senada mengenai status kepemilikan tanah negara tempat bangunan mereka berdiri selama ini.
Ibu rumah tangga tersebut harus merelakan rumah hasil jerih payahnya bersama sang suami ikut lumat terbakar malam itu.
"Itu tempat (rumah) sendiri. Tapi misalkan digusur ya bareng-bareng soalnya kan tanahnya tanah pemerintah. Saya cuma nempelin bangunan," katanya, Selasa.