Viral Wanita Berruam Mirip Cambukan Akibat Jamur Shiitake

Viral Wanita Berruam Mirip Cambukan Akibat Jamur Shiitake
Ilustrasi penyakit (FOTO: NET)

JAKARTA - Sebuah kasus medis yang tidak biasa menimpa seorang perempuan berumur 23 tahun di Florida, Amerika Serikat.

Ibu yang masih dalam periode memberikan ASI tersebut harus dibawa ke unit gawat darurat setelah bagian punggungnya dipenuhi oleh ruam kemerahan berpola garis mirip sabetan pecut yang parah.

Melansir dari Live Science, kejadian pada Oktober 2021 yang dimuat dalam jurnal kedokteran Journal of Education & Teaching Emergency Medicine ini sempat membuat para dokter bingung, sebelum akhirnya teridentifikasi bahwa pemicunya merupakan santapan yang dimakan sehari sebelumnya, yakni jamur shiitake.

Pada mulanya, ruam itu hanya tampak berupa bintik radang kecil di area punggung bagian atas.

Pasien pun sempat memeriksakan diri ke klinik darurat dan memperoleh resep obat steroid serta antihistamin.

Akan tetapi, kondisi kulitnya justru memburuk dan menyebar hingga ke punggung bawah dengan pola garis panjang acak yang tampak persis seperti cedera akibat cambukan.

Petugas medis sempat mengecek potensi adanya gejala alergi berat, gangguan pernapasan, hingga riwayat penyakit meningitis.

Meski begitu, seluruh indikator vital pasien berada dalam batas normal, terkecuali temperatur badannya yang agak naik mencapai 37,3°C.

Saat tim medis mulai menelusuri riwayat menu makanannya, perempuan itu menyampaikan bahwa dirinya mengonsumsi masakan yang dicampur jamur shiitake sehari sebelum rasa gatal melanda punggungnya.

Berpatokan pada informasi tersebut, dokter pun menyimpulkan bahwa pasien mengalami Shiitake Dermatitis.

Dalam ranah kedokteran, gangguan ini dikenal pula dengan sebutan Flagellate Dermatitis (Dermatitis Bendera).

Nama tersebut pertama kali diperkenalkan oleh seorang peneliti asal Jepang bernama Takehiko Nakamura pada tahun 1977.

Penamaan ini terinspirasi dari kaum Flagel di zaman pertengahan, yaitu sebuah kelompok keagamaan yang anggotanya terbiasa memecut diri sendiri demi memperlihatkan keyakinan mereka.

Secara medis, problem alergi ini dipicu oleh zat lentinan yang terdapat di dalam jamur.

Bagi beberapa individu yang memiliki sensitivitas tinggi, lentinan dapat merangsang produksi protein peradangan dalam tubuh (interleukin-1 dan sitokin) secara berlebih, sehingga memunculkan ruam berbentuk sabetan di kulit.

Gejala ini umumnya muncul apabila jamur shiitake dikonsumsi mentah-mentah atau dimasak kurang matang.

Pihak dokter memastikan bahwa gangguan kesehatan ini sama sekali tidak menimbulkan risiko bagi bayi pasien, sehingga proses menyusui tetap boleh diteruskan dengan aman.

Pasien pun disarankan melanjutkan terapi pemulihan lewat pemakaian krim hidrokortison topikal, klotrimasol, serta meminum obat antihistamin oral.

Setelah melewati masa tiga minggu, ruam yang menyerupai luka pecut tersebut dilaporkan telah bersih total tanpa menyisakan bekas.

Walaupun jamur shiitake sangat digemari di berbagai belahan dunia, fenomena Shiitake Dermatitis ini termasuk sangat jarang ditemukan secara global.

Sejauh ini baru ada kisaran 100 kasus yang terdokumentasi secara resmi dalam publikasi ilmiah, dengan sebagian besar laporan datang dari kawasan Asia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index