Laut Manusia Banjiri Teheran dalam Prosesi Pemakaman Ayatollah Khamenei

Selasa, 07 Juli 2026 | 17:59:01 WIB
Ratusan ribu orang memadati kompleks kawasan Grand Mosalla (FOTO: NET)

TEHERAN - Jutaan orang tampak memadati wilayah ibu kota Iran, Teheran, guna menghadiri prosesi iring-iringan jenazah pemimpin tertinggi Iran yang telah wafat, Ayatollah Ali Khamenei.

Khamenei beserta sejumlah anggota kerabatnya, yang peti matinya menjadi pusat perhatian utama dalam iring-iringan tersebut, meninggal dunia akibat serangan udara pada awal masa perang yang dilancarkan terhadap Republik Islam tersebut oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Kehadiran lautan massa yang begitu masif tersebut dinilai sebagai langkah dari rezim Iran untuk mempertontonkan apa yang mereka klaim sebagai kekuatan sekaligus persatuan negara yang tetap kokoh, di saat mereka tengah menempuh jalur negosiasi demi mengakhiri perang secara permanen.

Stasiun televisi pemerintah Iran menyiarkan rekaman yang diambil dari helikopter, memperlihatkan kerumunan warga yang mengular mulai dari Lapangan Azadi (Kebebasan) di Teheran hingga sejauh beberapa kilometer di sepanjang jalan tersebut.

Peti mati dari Khamenei, yang mengembuskan napas terakhirnya di usia 86 tahun, bersama para kerabatnya yang turut menjadi korban tewas dalam serangan udara itu, dibawa menggunakan sebuah truk yang dihiasi ornamen mirip jeruji dekoratif khas di sekeliling makam seorang imam.

Banyak warga di sekitar truk pengangkut jenazah serta di sepanjang rute yang dilewati kedapatan mengusung poster, hiasan, dan spanduk yang menyuarakan tuntutan kematian bagi Presiden AS Donald Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Petugas juga tampak menyemprotkan air ke arah kerumunan peserta prosesi guna menyegarkan tubuh mereka di tengah kondisi cuaca dengan suhu yang menyengat.

Iring-iringan tersebut dijadwalkan bakal bergulir di Teheran selama kurun waktu 12 jam sebelum akhirnya tiba di titik pemberhentian terakhir di Bandara Internasional Mehrabad, mengacu pada pernyataan Jenderal Hasan Hasanzadeh dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selaku pengawas jalannya acara.

Masa berkabung nasional yang ditetapkan secara resmi untuk melepas Khamenei telah dimulai semenjak hari Sabtu (3/7) dan dijadwalkan bakal berakhir pada hari Kamis (8/7) lewat prosesi pemakaman di area kompleks makam Imam Reza di Mashhad, yang merupakan kota kelahirannya.

Putra dari Ali Khamenei, yakni Ayatollah Mojtaba Khamenei, yang kini telah ditunjuk untuk menggantikan posisi sang ayah sebagai pemimpin tertinggi yang baru, sejauh ini masih belum menampakkan diri dalam rangkaian upacara pemakaman mana pun.

Dirinya disinyalir tengah berada di tempat persembunyian setelah sempat dikabarkan menderita luka-luka yang cukup parah dalam insiden serangan udara yang merenggut nyawa ayahnya tersebut.

Pihak Israel sendiri sebelumnya telah melayangkan ancaman untuk menghabisi nyawanya, sebagaimana tindakan yang pernah mereka lakukan terhadap sejumlah pejabat tinggi Iran di masa-masa lampau.

Sementara itu, tiga putra Ali Khamenei yang lainnya sempat muncul di hadapan publik dalam sebuah momen langka saat menghadiri upacara pemakaman pada hari Minggu kemarin.

Di sisi lain, jalannya diskusi antara pihak AS dan Iran yang bertujuan untuk menyudahi konflik peperangan ini tampaknya bakal ditangguhkan terlebih dahulu hingga seluruh rangkaian prosesi pemakaman Ali Khamenei rampung dilaksanakan.

Agenda negosiasi tersebut sampai saat ini masih berfokus pada sejumlah bahasan krusial, di antaranya seperti pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi distribusi minyak bumi dan gas dunia yang sempat hampir ditutup total oleh Iran selama masa konflik, hingga masalah program nuklir Teheran yang dituding oleh AS bertujuan untuk merancang senjata pemusnah massal — sebuah tuduhan yang langsung dibantah oleh pihak Iran.

Terkini