JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 2,71 persen ke level 5.902,38 pada perdagangan Rabu (10/6).
Laju penguatan indeks ini ditopang oleh apresiasi saham BBCA yang melesat 9,71 persen, TLKM sebesar 7,25 persen, serta BBRI yang naik 3,23 persen.
Di sisi lain, saham SMMA menjadi pemberat utama usai merosot 10,42 persen, diikuti EMAS yang melemah 4,05 persen dan AMMN yang terkoreksi 2,93 persen.
Kendati IHSG melaju di zona hijau, investor asing terpantau masih membukukan aksi jual bersih senilai Rp2,93 triliun di pasar reguler dan mencapai Rp3,13 triliun di seluruh pasar.
Dari sektor perdagangan, seluruh 11 sektor mendarat di area positif, dengan sektor transportasi memimpin penguatan tertinggi sebesar 4,51 persen.
Kondisi yang kontras terjadi di bursa saham Amerika Serikat (AS) yang justru menyudahi perdagangan di zona merah.
Indeks Dow Jones terpangkas 1,87 persen ke posisi 49.918, disusul S&P 500 yang melemah 1,62 persen ke 7.266 dan Nasdaq yang merosot 1,98 persen menuju level 25.169.
Saat ini, fokus pelaku pasar tertuju pada strategi pemerintah dalam mengawal penguatan nilai tukar rupiah.
Selain itu, publikasi data penjualan ritel domestik diproyeksikan turut menjadi motor penggerak sentimen pasar selanjutnya.
Di tengah tekanan arus modal asing yang masih keluar, kedua faktor tadi diperkirakan bakal menentukan arah pergerakan IHSG dalam periode pendek.
Pada instrumen lain, indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing mencatatkan penguatan sebesar 4,48 persen dan 5,04 persen.
Beralih ke kabar emiten, PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) mematok target pendapatan senilai Rp1,39 triliun pada tahun 2026.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 12,09 persen jika dikomparasikan dengan target tahun sebelumnya yang berada di angka Rp1,24 triliun.
Pencapaian target itu disokong oleh rencana pemrosesan tandan buah segar (TBS) yang diproyeksikan mencapai 336.400 ton sepanjang tahun depan.
Manajemen perseroan memproyeksikan volume produksi crude palm oil (CPO) menyentuh 73.292 ton dan palm kernel (PK) sebesar 15.031 ton hingga penghujung 2026.
Pihak manajemen memakai asumsi harga jual rata-rata untuk komoditas CPO sebesar Rp14.750 per kilogram.
Kendati demikian, hingga periode Mei 2026, realisasi harga jual rata-rata CPO perseroan terpantau masih bertahan di atas level Rp15.000 per kilogram.
Meninjau pergerakan sahamnya, MKTR terpantau masih bergerak dalam rentang konsolidasi dengan potensi penguatan menuju level Rp130.
Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) berencana melancarkan aksi pembelian kembali saham dengan alokasi dana maksimal Rp8 triliun.
Sumber pendanaan aksi korporasi tersebut bakal diambil dari kas internal perusahaan yang per kuartal I-2026 berada di posisi Rp49,05 triliun.
Apabila seluruh program buyback ini dirampungkan, akumulasi aset ASII diproyeksikan menyusut dari Rp517,80 triliun menjadi Rp509,80 triliun.
Sejalan dengan hal itu, total ekuitas perusahaan juga diperkirakan tergerus dari Rp293,12 triliun menjadi Rp285,12 triliun.
Meski nilai aset dan ekuitasnya menyusut, tingkat laba per saham atau earnings per share (EPS) diproyeksikan menguat dari Rp146 ke angka Rp149 per saham karena berkurangnya volume saham yang beredar di publik.
Perseroan membatasi volume saham yang akan dibeli kembali tersebut paling banyak 10 persen dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh.
Adapun kepemilikan saham publik pasca-buyback dipastikan akan tetap dipertahankan di atas batas minimum regulasi yaitu 15 persen.
Agenda besar ini bakal diajukan untuk memperoleh persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 17 Juli 2026.
Jika mengantongi restu dari para pemegang saham, periode eksekusi buyback akan dilaksanakan mulai 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027.
Pada laporan emiten lain, PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) berniat menerbitkan saham baru sebanyak 219,48 miliar lembar lewat skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I).
Memakai harga pelaksanaan sebesar Rp126 per lembar saham, dana segar yang bisa dihimpun berpotensi menyentuh Rp27,65 triliun jika seluruh hak terserap secara penuh.
Porsi sebesar 76,81 persen dari dana hasil aksi korporasi tersebut, setelah dikurangi ongkos emisi, bakal dialokasikan untuk mengambil alih 49 persen saham Borneo Prima kepunyaan IMR Asia Holding Pte Ltd dengan nilai Rp21,24 triliun lewat jalur inbreng.
Sedangkan sisa dana bersihnya akan digulirkan sebagai pinjaman bagi Borneo Prima untuk menyokong kebutuhan modal kerja operasional tambang serta aktivitas produksi.
Selaras dengan langkah taktis ini, FORU juga bakal menggeser core bisnisnya dari sektor media dan percetakan menjadi sebuah perusahaan holding.
Selaku pemegang saham pengendali, IMR Asia Holding Pte Ltd bakal mengeksekusi penyertaan modal atas 168,58 miliar lembar saham baru lewat mekanisme inbreng berupa 10.780 saham seri A Borneo Prima atau setara 49 persen porsi kepemilikan.
Rangkaian rencana aksi korporasi besar ini masih harus menanti keputusan final dari para pemegang saham dalam RUPSLB yang sedianya dihelat pada 16 Juli 2026.