Bahaya Keracunan Gas CO Saat Glamping dan 5 Fasenya

Bahaya Keracunan Gas CO Saat Glamping dan 5 Fasenya
Ilustrasi Petugas menyelidiki kasus keracunan gas hasil pembakaran (FOTO: NET)

JAKARTA - Penyebab meninggalnya seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) beserta tiga anggota keluarganya ketika sedang berkemah di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah akhirnya terungkap dengan jelas.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa keempat korban tersebut meninggal dunia akibat menghirup gas karbon monoksida (CO) beracun yang bersumber dari alat pemanas berbahan arang atau briket di dalam tenda yang tertutup rapat.

Berdasarkan penjelasan Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan, Prof Agus Dwi Susanto, SpP, CO termasuk ke dalam golongan gas asfiksian yang bekerja secara agresif merusak sekaligus memutus pasokan oksigen dalam aliran darah manusia.

Karakteristiknya sangat berbeda dengan gas iritan yang dapat memicu batuk, sehingga proses terjadinya keracunan karbon monoksida ini sering kali berlangsung tanpa disadari oleh para korbannya.

"Ketika gas CO ini terhirup oleh seseorang, masuk ke saluran napas, dia akan masuk ke pembuluh darah yang ada di paru yang disebut namanya alveoli. Di situ CO akan masuk ke dalam darah, ketika dia ada di dalam darah, dia akan bersaing dengan oksigen yang kami hirup. Kekuatan CO mengikat HB (hemoglobin) itu 300 kali lebih kuat daripada oksigen mengikat HB," jelas Prof Agus.

Terkait tingkat keparahannya, Prof Agus menerangkan lima tahapan kadar CO di dalam darah (Carboxyhemoglobin atau HbCO) yang bekerja secara simultan, cepat, serta merusak organ tubuh secara bertahap:

Pada Fase 1 (Kadar 5-10%), tahapan ini merupakan kondisi awal yang menimbulkan gejala sangat ringan, sehingga sering kali diabaikan atau hanya dianggap sebagai rasa lelah biasa.

Dampak yang mulai dirasakan oleh korban meliputi sakit kepala serta pusing yang samar, dan korban akan merasa agak mengantuk karena organ otak mulai kekurangan suplai oksigen.

Memasuki Fase 2 (Kadar 20-30%), jika paparan gas terus berlanjut, akumulasi racun akan meningkat dan menyebabkan sakit kepala yang sangat hebat disertai rasa mual hingga muntah.

Sesuatu yang cukup unik pada tahapan ini adalah ritme pernapasan korban akan berubah menjadi lebih cepat atau terengah-engah.

Walaupun sistem tubuh sengaja mempercepat frekuensi bernapas lantaran mendeteksi adanya kekurangan oksigen, kondisi ini justru menjadi bumerang karena membuat korban menghirup lebih banyak gas CO yang telah mengepung area sekitar mereka.

Selanjutnya pada Fase 3 (Kadar 30-40%), kondisi mental korban akan mulai terganggu dengan timbulnya disorientasi atau rasa linglung.

Selain itu, organ jantung dipaksa bekerja dan berdetak jauh lebih cepat demi mengompensasi kekurangan oksigen, hingga akhirnya menyebabkan korban jatuh pingsan.

Pada Fase 4 (Kadar 40-50%) yang merupakan kondisi sangat kritis, tubuh korban akan mengalami gejala kejang-kejang sebelum akhirnya langsung masuk ke tahap koma yang sangat dalam.

Di saat yang bersamaan, kondisi tekanan darah pada tubuh korban juga akan langsung merosot hingga ke tingkat yang paling drastis.

Terakhir adalah Fase 5 (Kadar di atas 60%) yang menjadi tahapan paling fatal.

Ketika persentase kadar HbCO di dalam aliran darah telah melewati angka 60 persen, seluruh organ tubuh dipastikan lumpuh total dan tidak lagi berfungsi akibat hilangnya pasokan oksigen secara menyeluruh.

Faktor tersebut membuat korban akan langsung mengalami kondisi henti napas, henti jantung, hingga berujung pada kematian.

Kondisi fatal ini akan menjadi berkali-lipat lebih mematikan seandainya korban menghirup kepungan gas CO tersebut ketika tengah beristirahat atau tidur dengan lelap.

Efek rasa mengantuk yang muncul di tahapan awal akan menyatu langsung dengan tidur normal korban, sehingga perubahan kondisi dari tidur biasa menjadi pingsan lalu koma akan berlangsung sepenuhnya tanpa disadari.

"Biasanya orang nggak menyadari itu kalau saat dia keracunan CO, karena tadi nggak ada rasanya, nggak ada baunya, nggak berwarna, nggak tahu tuh.Kalau otaknya kekurangan oksigen juga kadang-kadang mulai agak-agak ngantuk gitu kan. Kalau udah 40-50 persen tuh udah pingsan, koma. Tertidur seterusnya, terus abis itu meninggal. Memang nggak sadar," tutur Prof Agus

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index