Psikolog Bagikan 4 Cara Mencegah Perilaku Menyimpang pada Anak

Psikolog Bagikan 4 Cara Mencegah Perilaku Menyimpang pada Anak
Ilustrasi Memilih Sekolah untuk Anak Berkebutuhan Khusus (FOTO: NET)

YOGYAKARTA - Setiap orang tua mendambakan buah hatinya tumbuh dengan kepribadian terpuji, sekaligus sanggup menaati segala regulasi dan tatanan sosial yang ada.

Namun realitasnya, ayah dan ibu tidak selamanya dapat memantau aktivitas anak secara utuh saat berada di luar kediaman maupun di dunia maya.

Orang tua bahkan sering terkejut oleh tindakan anak yang melenceng seperti mengutil, berjudi, atau perbuatan lain yang menyalahi aturan masyarakat.

Situasi ini memicu rasa waswas karena tindakan melenceng berisiko merusak masa depan anak serta mengganggu masyarakat di sekelilingnya.

Lantas, bagaimana cara orang tua membentengi anak supaya tidak terperosok ke dalam tindakan yang menyimpang tersebut?

Seorang pakar psikologi dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, memaparkan bahwa tindakan melenceng tidak timbul secara mendadak.

“Dalam psikologi, perilaku ini tidak muncul tiba-tiba. Biasanya ada interaksi antara faktor individu, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan,” ujar Ratna saat dihubungi Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Tindakan preventif harus berfokus pada kedekatan batin, pemantauan, serta teladan orang tua yang diperkuat oleh beragam studi.

Berikut merupakan empat strategi yang dapat diterapkan oleh orang tua:

Buat pola kedekatan yang aman sekaligus sehat

Merujuk pada teori attachment milik Bowlby dan Ainsworth, orang tua diimbau menciptakan secure attachment bersama anak.

“Anak yang memiliki hubungan aman dengan orang tua cenderung menginternalisasi nilai-nilai orang tua. Mereka merasa didengar dan diterima, sehingga lebih terbuka saat ada masalah,” jelas Ratna.

Aksi nyata yang bisa dipraktikkan adalah meluangkan waktu 15–20 menit setiap hari untuk mengobrol bersama anak tanpa terdistraksi oleh gawai.

Orang tua juga disarankan menyikapi emosi yang ditunjukkan anak tanpa memberikan penghakiman secara langsung.

“Kalimat seperti ‘Aku paham kamu kesal’ lebih efektif daripada ‘Sudah dibilang jangan!’,” tambahnya.

Terapkan metode asuh otoritatif

Ratna memaparkan metode asuh otoritatif merupakan bauran dari pengaplikasian regulasi tegas, penyampaian argumen, dan kehangatan pada anak.

"Ini paling protektif terhadap perilaku menyimpang," kata Ratna.

Terdapat perbedaan kontras dalam menunjukkan sikap otoritatif, otoriter, maupun permisif.

Pada tindakan otoritatif, orang tua condong berkonsentrasi pada penyampaian argumen, alasan, serta jalan keluar terbaik.

Contoh konkretnya ialah sebagai berikut: "Kamu nggak boleh merokok. Bahaya buat paru-paru dan aku khawatir. Kalau ada tekanan dari teman, kami cari cara mengatasinya".

Di sisi lain, respons otoriter condong bersifat memaksa sekaligus menetapkan sanksi berat kepada anak.

Contohnya seperti: “Pokoknya jangan! Kalau ketahuan nanti akan dihukum.”

Sedangkan respons permisif condong memperlihatkan gestur ketidakpedulian terhadap anak.

Contohnya berupa: "Perserah kamu deh".

Studi membuktikan remaja dengan orang tua otoritatif mempunyai tingkat tindakan menyimpang, pelanggaran norma, hingga penyalahgunaan zat terlarang yang lebih minim.

Jalankan pemantauan dan supervisi

Mengacu pada teori Kontrol Sosial dari Hirschi, dipaparkan bahwa tindakan melenceng dapat terjadi seandainya ikatan sosial berada dalam kondisi rapuh.

"Orang tua dapat memperkuat ikatan itu lewat pengawasan yang wajar dan bukan memata-matai," jelas Ratna.

Strateginya ialah dengan memahami rekan main anak, kesibukannya seusai sekolah, hingga ke mana saja anak melangkah.

Langkah lain yang dapat diterapkan ialah merumuskan aturan terkait batas jam pulang, manajemen keuangan, serta pemanfaatan gawai secara selaras.

Menjadi figur teladan bagi anak

Berlandaskan teori Belajar Sosial milik Bandura, Ratna menerangkan bahwa anak-anak menyerap pelajaran lewat proses pengamatan langsung.

"Kalau orang tua suka ngomong kasar, melanggar aturan, atau merokok, pesan untuk tidak boleh melakukan hal serupa menjadi tidak kuat," kata Ratna.

Anak dapat mencermati imbas dari tindakan orang tua mereka sekaligus menirukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun demikian, tidak ada garansi mutlak dari semua cara pencegahan tersebut.

Ratna mempertegas tidak ada garansi 100 persen yang menjamin anak tidak bakal melakukan tindakan melenceng.

“Masa remaja adalah fase eksplorasi identitas,” ujarnya.

Walau begitu, terdapat sejumlah indikator yang memperlihatkan tingkat risiko yang lebih minim pada anak.

Pertama, adanya ikatan emosional bersama keluarga di mana anak bersedia bercerita tanpa rasa cemas dan menikmati momen berkumpul.

Kedua, memiliki kontrol diri yang bagus seperti sanggup mengerem ambisi membeli barang tidak mendesak serta tetap fokus belajar.

Ketiga, penyerapan nilai kebaikan di mana anak menolak perkara negatif karena menganggapnya keliru, bukan karena takut dihukum.

Keempat, relasi yang sehat bersama teman sebaya dengan pola hidup positif, capaian belajar bagus, serta tidak ikut tindakan berbahaya.

Kelima, keterikatan bersama organisasi atau lingkungan positif melalui kegiatan ekstrakurikuler serta memiliki sosok penasihat yang baik.

"Kalau aspek di atas kuat, anak punya buffer saat ada tekanan dari lingkungan. Tapi ingat, remaja juga butuh ruang buat salah dan belajar. Tujuan pencegahan bukan membuat anak takut salah, tapi membuat mereka merasa aman untuk kembali kalau salah," jelas Ratna.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index