JAKARTA - Pihak Indonesia bersama China terpantau terus mendalami peluang jalinan kerja sama pada sektor pertanian melalui agenda kunjungan bersama antara Kementerian Transmigrasi (Kementrans) Republik Indonesia (RI) bersanding dengan Kedutaan Besar (Kedubes) China untuk Indonesia menuju area pengembangan transmigrasi di kawasan Salor, Provinsi Papua Selatan, pada momen awal pekan ini.
Melalui rilis keterangan resminya, pihak Kementrans memaparkan bahwa kedua negara mengantongi rencana kolaborasi guna mendirikan pusat riset komoditas padi sekaligus lembaga sekolah vokasi pertanian di wilayah Salor demi menyokong program swasembada pangan serta pendongkrakan mutu pendidikan bagi elemen masyarakat di Papua Selatan.
Wilayah transmigrasi di Salor sendiri terdata menguasai kisaran 40.000 hektare lahan yang berstatus sebagai salah satu pusat produksi pangan strategis di kawasan Papua Selatan.
Bermodalkan sokongan aspek teknologi disertai ketersediaan infrastruktur yang representatif, kawasan ini dipandang mengantongi potensi besar untuk mendongkrak sumbangsihnya terhadap ketahanan pangan di tingkat nasional.
Kedua belah pihak dilaporkan turut mengulas peluang seputar ekspansi sektor industri pendukung pertanian, tidak terkecuali potensi pendirian fasilitas produksi perlengkapan alat dan mesin pertanian di wilayah Merauke.
Langkah ini menyusul adanya penyampaian masukan dari pihak pemerintah daerah setempat sehubungan dengan tingginya tingkat kebutuhan akan ketersediaan fasilitas perbaikan untuk sarana alat-alat pertanian.
Kawasan Salor di Provinsi Papua Selatan bertindak sebagai destinasi pemberhentian pertama dari rangkaian rencana agenda kunjungan kemitraan Kementrans bersama Kedubes China menuju ke empat wilayah transmigrasi, yang mana rute berikutnya bakal menyasar area Raja Ampat di Papua Barat Daya, Halmahera Utara di Maluku Utara, serta Manggarai Barat di Nusa Tenggara Timur.
Bukan semata-mata mengincar aspek ketahanan pangan saja, pihak Kementrans menguraikan bahwa agenda kunjungan ini bertransformasi menjadi bagian dari langkah penjajakan peluang kemitraan bersama China pada bidang penanggulangan kemiskinan, sektor pendidikan vokasi, aktivitas perdagangan, nilai investasi, hingga urusan pengembangan sektor pariwisata.
Rangkaian agenda ini menjadi cerminan bentuk jalinan kerja sama tingkat lanjut antara kedua belah pihak seusai pada periode sebelumnya Kementrans sukses mendelegasikan sebanyak 36 orang peserta menuju ke negara China, yang komposisinya tersusun atas jajaran pegawai Kementrans hingga kalangan akademisi, guna mendalami rekam jejak pengalaman China dalam urusan pengembangan kawasan transmigrasi serta formula pengentasan kemiskinan.