Heboh Kedatangan Pesulap Merah di Gunung Kawi Malang

Heboh Kedatangan Pesulap Merah di Gunung Kawi Malang
Pesulap Merah Gunung Kawi, Marcel Radhival (FOTO: NET)

MALANG - Wilayah wisata ritual Keraton Gunung Kawi yang berada di Kabupaten Malang seketika menjadi geger.

Hal tersebut terjadi lantaran kedatangan Marcel Radhival, pria yang populer dengan nama Pesulap Merah, ke area yang kerap dikaitkan dengan tempat pesugihan itu.

Bukan berniat merusak atau membongkar rahasia trik secara radikal, pria berambut merah menyala ini hadir justru untuk meluruskan asumsi keliru yang berkembang di tengah masyarakat.

Ia memberikan pemahaman kepada warga agar dapat membedakan antara tindakan merawat warisan budaya sejarah dengan praktik penipuan yang berkedok hal mistis.

Kedatangan Marcel di tempat sakral itu pun langsung menyedot perhatian yang sangat besar dari masyarakat maupun pengguna media sosial.

Melalui sebuah rekaman video yang disebarkan di akun media sosial miliknya, Marcel menegaskan bahwa tujuannya mengunjungi Keraton Gunung Kawi adalah untuk melihat langsung sinkronisasi antara mitos dan fakta di lapangan.

"Saya datang ke sini bukan untuk merusak adat, melainkan untuk mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan mana tempat bersejarah yang harus dihormati dan mana oknum yang memanfaatkan tempat ini untuk penipuan mistis atau pesugihan abal-abal. Berpikir logis itu perlu agar kami tidak mudah tertipu," kata Pesulap Merah, Kamis (21/5/2026).

Aksi kunjungan Marcel ini pun mendapatkan respons yang sangat baik dari pengelola tempat serta tokoh masyarakat setempat di area Keraton Gunung Kawi.

Mereka menyambut hangat edukasi tersebut dengan harapan dapat mengubah cara pandang para wisatawan yang datang berkunjung.

Ketika mengeksplorasi suatu sudut lokasi bersama sang juru kunci, Marcel menemukan beberapa hal yang cukup mengagetkan.

Mulai dari tempat penaruhan sesajen, dupa, foto, patung arca, tumpukan batu, hingga sebuah gua yang dipenuhi sesajen di dekat prasasti tanda berdirinya keraton.

Satu hal yang menarik perhatian, Marcel juga mendapati sebuah buku tamu yang memuat deretan nama pelancong yang pernah singgah ke tempat tersebut untuk mengadu peruntungan. "Ada daftar buku tamu, ada usaha rental mobil dan MBG. Ada di sini," ucap Marcel sambil menunjuk daftar buku tamu tersebut.

Tidak hanya menjelajahi gua dan patung Hanoman, Marcel pun mendatangi sejumlah lokasi petilasan makam yang berkaitan erat dengan tradisi kejawen.

Melalui hasil penelusuran itu, Marcel mengambil sebuah konklusi bahwa banyak kegiatan ritual di kawasan tersebut yang telah keluar dari koridor ajaran agama, terutama Islam.

"Ini ada makam kejawen, yang sebenarnya dalam Islam tidak boleh. Apalagi meminta-minta atau ngalap berkah. Dari hasil eksplore, bisa dilihat ada kepercayaan-kepercayaan di luar Islam itu sendiri. Dan bahkan dari keterangan orang-orang yang menjalankan ritual, itu memang mereka memintanya ke kuburan. Dan bagi umat muslim, minta ke kuburan itu memang tidak diperbolehkan, karena itu bagian dari musyrik," tegasnya.

Berdasarkan hasil obrolannya dengan pihak juru kunci, Marcel mengungkapkan bahwa tempat wisata budaya itu memang sering didatangi orang dengan maksud untuk berburu berkah.

Meski begitu, perkara menjadi kaya atau meraih kesuksesan pada dasarnya tetap kembali pada takdir serta garis hidup masing-masing orang.

"Kalau kami dengarkan dari juru kuncinya, pesugihan di sana atau ngalap berkah bahasanya itu pasti kaya raya tetapi tergantung nasib. Kalau tergantung nasib, apa bedanya dengan kami berdoa?" cetus Marcel.

Ia menambahkan, masyarakat asli Malang sendiri sebetulnya banyak yang tidak memercayai adanya praktik pesugihan di Keraton Gunung Kawi. "Orang Malang sendiri tidak percaya ada pesugihan. Yang katanya berhasil, karena nasib mereka. Bukan karena faktor dari Gunung Kawi," tandasnya.

Setelah menyelesaikan penelusuran yang cukup panjang di Keraton Gunung Kawi, Marcel menitipkan pesan kepada masyarakat luas agar tidak perlu membuang energi, waktu, serta biaya untuk melakukan ritual yang menyimpang dari agama.

Ia mengimbau publik untuk tetap memanjatkan doa berdasarkan tuntunan keyakinan masing-masing.

Kendati demikian, Marcel tetap menyarankan agar Keraton Gunung Kawi ini dikunjungi oleh masyarakat.

Namun bukan dijadikan sebagai tempat untuk ritual pesugihan, melainkan dimanfaatkan sebagai destinasi wisata edukasi budaya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index