Prabowo Serahkan Alutsista Strategis Termasuk Rafale ke TNI AU

Prabowo Serahkan Alutsista Strategis Termasuk Rafale ke TNI AU
Presiden Prabowo Subianto secara resmi menyerahkan deretan alutsista strategis kepada TNI Angkatan Udara (FOTO: NET)

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menyerahkan secara simbolis sederet alat utama sistem persenjataan (alutsista) anyar kepada pihak TNI bertempat di Landasan Udara Halim Perdanakusuma International Airport, Senin (18/5/2026).

Agenda penyerahan tersebut bertindak sebagai bagian dari langkah penguatan lini pertahanan udara Indonesia, termasuk kehadiran unit jet tempur Rafale buatan Prancis guna memperkokoh TNI Angkatan Udara.

Dalam prosesi ritual tersebut, Prabowo menyerahkan simbolis kunci pesawat MRCA Rafale, Falcon 8X, serta Airbus A400M Atlas menuju ke tangan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.

Alutsista yang diserahterimakan itu terdiri atas enam unit pesawat tempur Dassault Rafale, empat armada pesawat Dassault Falcon 8X, satu unit pesawat angkut militer Airbus A400M Atlas, beserta sejumlah perlengkapan sistem persenjataan pendukung seperti Radar GCI GM403, Smart Weapon Hammer, dan Missile Meteor.

Sebelum agenda penyerahan dilangsungkan, Prabowo membuka kain tirai penutup lambang Skuadron 12 yang melekat di badan pesawat Rafale serta melewati tradisi sakral penyiraman air kembang sekaligus pemecahan kendi.

Negara Indonesia sendiri sukses menempatkan diri sebagai salah satu pihak pembeli utama dari pesawat Rafale produksi Dassault Aviation sesudah Kementerian Pertahanan meresmikan proses akuisisi dengan total mencapai 42 unit jet tempur tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun dari laman dassault-aviation.com, Senin (18/5/2025), armada pesawat tempur Rafale merupakan jenis jet tempur dengan mesin ganda rakitan Prancis yang sanggup dioperasikan dengan baik lewat kapal induk maupun dari basis pangkalan udara di daratan.

Pesawat tempur ini dikonsep sebagai jet tempur multirole atau multiperan yang mempunyai kecakapan untuk mengeksekusi hampir seluruh ragam misi tempur era modern.

Rafale diklaim dapat diterjunkan untuk kebutuhan misi superioritas udara, sistem pertahanan udara, sokongan terhadap serangan darat, aksi serangan jarak jauh, operasi pengintaian, gempuran anti-kapal hingga pemenuhan misi penangkal nuklir.

Jet tempur ini mulai dioperasikan oleh jajaran Angkatan Laut Prancis pada periode tahun 2004 serta secara resmi masuk ke dalam barisan pelayanan Angkatan Udara Prancis pada tahun 2006.

Semenjak tahun 2007, Rafale dilaporkan telah terlibat aktif dalam beraneka macam operasi militer sehingga dipandang sebagai salah satu jenis pesawat tempur yang paling kaya pengalaman di dunia.

Torehan keberhasilan dari angka ekspor Rafale pun terus memperlihatkan tren peningkatan.

Pada masa sekarang, total jumlah pesanan yang datang dari luar negeri bahkan diinfokan telah melampaui total volume pesanan dari pihak pemerintah Prancis sendiri.

Bagi roda industri pertahanan di Prancis, Rafale bertransformasi menjadi lambang dari kedaulatan nasional lantaran seluruh perangkat sistem tempurnya berhasil dikembangkan dengan mengandalkan kemampuan teknologi mandiri.

Pesawat tempur ini dirancang sedemikian rupa demi menjamin independensi operasional negara Prancis dalam rangka menghadapi beraneka macam ancaman modern.

Semenjak fase awal pengembangannya, Rafale memang dikonsep sebagai sebuah sistem superioritas militer yang sanggup menyatukan beraneka macam kemampuan tempur di dalam satu misi penerbangan.

Mulai dari aspek penguasaan wilayah udara, aksi serangan darat, misi pengintaian, proyeksi kekuatan tempur jarak jauh hingga pemenuhan misi penangkal nuklir.

Kemampuan hebat tersebut disokong penuh oleh adanya pembaruan sektor teknologi secara berkala sehingga Rafale dinilai tetap andal dalam menghadapi potensi ancaman perang modern di masa depan.

Di dalam berbagai pelaksanaan operasi militer, Rafale juga terbukti mempunyai kecakapan untuk beroperasi pada jarak yang sangat jauh dari wilayah asalnya.

Hal tersebut mempertontonkan fleksibilitas tinggi serta kemampuan strategis mumpuni yang dimiliki oleh pesawat tempur tersebut.

Selain bertindak sebagai andalan utama bagi sektor militer, Rafale pun turut memberikan topangan terhadap industri teknologi serta pertahanan di Prancis.

Program pengembangan pesawat tempur ini melibatkan kehadiran ribuan tenaga kerja terampil di sektor kedirgantaraan, bidang elektronik, hingga lini permesinan pesawat.

Pada pangsa pasar internasional, Rafale tercatat telah dipilih oleh delapan negara berbeda guna memperkuat barisan angkatan bersenjata mereka.

Deretan negara tersebut antara lain adalah Mesir dengan kepemilikan 55 unit Rafale, India yang mengantongi 36 unit untuk Angkatan Udara serta 26 unit bagi Angkatan Laut, Qatar dengan total 36 unit, Yunani dengan kepemilikan 24 unit, Kroasia 12 unit, Uni Emirat Arab sebanyak 80 unit Rafale dengan standar F4, Indonesia sejumlah 42 unit, serta Serbia dengan total 12 unit.

Pihak Prancis menilai kehadiran Rafale turut memberikan andil besar dalam memperkuat kedaulatan dari negara-negara penggunanya lantaran menganugerahkan kebebasan penuh dalam menetapkan strategi pertahanan serta modernisasi militer tanpa perlu memiliki ketergantungan terhadap pihak luar.

Rafale hadir ke permukaan dengan menawarkan beberapa varian model, yakni Rafale C dengan kursi tunggal yang diperuntukkan bagi Angkatan Udara, Rafale B dengan fasilitas dua kursi, serta model Rafale M khusus untuk kebutuhan Angkatan Laut.

Ketiga model tersebut dipastikan mempunyai kesamaan sistem serta kecakapan tempur yang tingkatannya hampir identik.

Pesawat tempur ini populer lantaran mempunyai sejumlah keunggulan utama seperti aspek fleksibilitas misi, kemampuan interoperabilitas bersama dengan jajaran negara sekutu, kapasitas dalam melangsungkan beberapa misi sekaligus di dalam satu kali penerbangan, hingga tingkat daya tahan yang tinggi kala berada di dalam lingkungan tempur dengan risiko besar.

Rafale juga dipersenjatai dengan perangkat sistem peperangan elektronik berteknologi canggih, kapasitas untuk terbang rendah secara otomatis dalam beraneka macam kondisi cuaca, serta dukungan sistem keamanan aktif yang mampu mendongkrak peluang untuk bertahan hidup di medan laga modern.

Pesawat tempur ini bahkan kerap dijuluki sebagai “force multiplier” disebabkan kemampuannya yang dinilai sanggup menggantikan tujuh varian jenis pesawat tempur berbeda hanya dalam satu platform tunggal saja.

Berkat adanya faktor fleksibilitas disertai kecakapan adaptasinya yang tinggi, Rafale dinilai menjadi jalan keluar jitu bagi jajaran angkatan udara modern yang dituntut untuk sanggup melangsungkan lebih banyak misi dengan pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien di tengah bergulirnya dinamika geopolitik serta ekonomi global.

Pihak Prancis pun memberikan kepastian bahwasanya Rafale masih bakal terus diandalkan untuk menjadi tulang punggung bagi kekuatan udara militernya hingga melewati tahun 2060 mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index