Bitcoin

Harga Bitcoin Turun Ke Kisaran 65 Ribu Dipicu Konflik Global Memanas

Harga Bitcoin Turun Ke Kisaran 65 Ribu Dipicu Konflik Global Memanas
Harga Bitcoin Turun Ke Kisaran 65 Ribu Dipicu Konflik Global Memanas

JAKARTA - Tekanan global kembali membayangi pasar aset digital, mendorong harga Bitcoin mendekati batas bawah dalam satu bulan terakhir. 

Ketidakpastian yang dipicu konflik geopolitik membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, bahkan memilih melakukan aksi jual untuk mengamankan posisi.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa aset kripto masih sangat sensitif terhadap dinamika global. Di tengah meningkatnya tensi di Timur Tengah, investor terus memantau perkembangan situasi yang berpotensi memengaruhi arah harga dalam jangka pendek maupun menengah.

Pergerakan harga kripto di tengah tekanan pasar

Secara umum, mata uang kripto mengalami penurunan. Bitcoin, yang merupakan aset digital terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, sempat turun hingga 3,6% ke level US$65.709 sebelum memangkas penurunannya selama perdagangan di New York.

Tidak hanya Bitcoin, Ether juga mengalami tekanan dengan penurunan hingga 5,9%. Sementara itu, Solana mencatat pelemahan dengan besaran yang serupa.

Kondisi ini mencerminkan pelemahan yang merata di pasar kripto. Investor terlihat melakukan aksi jual secara luas, seiring meningkatnya ketidakpastian global yang memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Dampak konflik geopolitik terhadap pasar global

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pidatonya pada Rabu berjanji untuk melanjutkan perang melawan Iran. Pernyataan ini memberikan tekanan tambahan pada pasar, khususnya sektor energi.

Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Selat Hormuz tidak akan segera dibuka kembali. Jalur strategis tersebut merupakan salah satu titik penting dalam distribusi minyak dunia, sehingga setiap gangguan dapat berdampak luas pada ekonomi global.

Ketegangan geopolitik ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas di berbagai instrumen keuangan, termasuk aset kripto. Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah kondisi yang belum pasti.

Korelasi dengan pasar energi dan keuangan global

Pergerakan pasar tidak hanya terjadi di sektor kripto. Saham dan obligasi juga mengalami fluktuasi seiring ekspektasi bahwa harga minyak akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah.

Minyak mentah WTI Amerika Serikat bahkan melonjak hingga melampaui US$111 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global di tengah konflik yang belum mereda.

“Apa yang Trump sampaikan mengenai perang dengan Iran memicu aksi jual yang tajam di tengah kurangnya tanda-tanda de-eskalasi,” kata Alex Kuptsikevich, kepala analis pasar di FxPro.

Perbandingan dengan tren sebelumnya

Pelemahan Bitcoin saat ini terjadi setelah sebelumnya mencatat kinerja positif pada bulan Maret. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih sangat dinamis dan mudah berubah arah dalam waktu singkat.

“Bitcoin sejatinya mengikuti arah pergerakan saham, walau dalam beberapa pekan terakhir ia menunjukkan sensitivitas yang lebih rendah terhadap berita baik maupun buruk,” kata Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets.

Meskipun demikian, Bitcoin dinilai masih cukup tangguh dibandingkan aset lainnya dalam menghadapi dampak konflik. Pada akhir Maret, harganya tercatat naik 2% dibandingkan bulan sebelumnya, mengakhiri tren penurunan selama lima bulan berturut-turut.

Permintaan pasar dan prospek ke depan

Di sisi lain, permintaan terhadap Bitcoin masih tergolong lemah. Meskipun sempat mengalami kenaikan pada bulan Maret, harga Bitcoin saat ini masih jauh di bawah puncaknya.

Tercatat bahwa Bitcoin telah turun sekitar 45% dari level tertinggi US$126.000 yang dicapai pada Oktober. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar masih dalam fase konsolidasi setelah mengalami reli besar sebelumnya.

Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan Bitcoin ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan sentimen pasar. Investor pun diharapkan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan di tengah volatilitas yang tinggi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index