Kredit Multifinance

Kredit Multifinance Tumbuh Tipis, Hadapi Tantangan Berat di 2026

Kredit Multifinance Tumbuh Tipis, Hadapi Tantangan Berat di 2026
Kredit Multifinance Tumbuh Tipis, Hadapi Tantangan Berat di 2026

JAKARTA - Per November 2025, sektor pembiayaan multifinance di Indonesia mencatatkan angka piutang yang cukup signifikan, mencapai Rp506,82 triliun. Angka ini tercatat tumbuh 1,09% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Meskipun ada pertumbuhan, pencapaian ini menandakan bahwa industri multifinance menghadapi sejumlah tantangan yang membuat laju pertumbuhannya relatif terbatas.

Dalam konferensi pers Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diadakan pada Desember 2025, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Agusman, menjelaskan bahwa pembiayaan kerja menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ini dengan kenaikan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 8,99% year-on-year (YoY). 

Meskipun begitu, pembiayaan yang bermasalah atau non-performing financing (NPF) menunjukkan angka yang cukup mencemaskan, yakni sebesar 2,44% (NPF gross) dan 0,85% (NPF net).

Bagaimana situasi ini berpengaruh terhadap prospek sektor pembiayaan multifinance ke depan? Berikut adalah penjabaran lebih lanjut mengenai perkembangan sektor ini.

Penurunan Pertumbuhan Kinerja Sektor Pembiayaan

Meskipun mengalami kenaikan secara tahunan, sektor pembiayaan multifinance Indonesia hanya tumbuh 1,09% pada November 2025. Angka ini menggambarkan bahwa kinerja industri tetap terbatas, terutama jika dibandingkan dengan proyeksi yang diharapkan sebelumnya. Secara bulanan, piutang pembiayaan meningkat tipis sebesar 0,30% dibandingkan dengan bulan Oktober yang tercatat Rp505,30 triliun.

Dalam hal ini, Agusman menyoroti bahwa sektor pembiayaan modal kerja menjadi salah satu yang paling mencatatkan pertumbuhan positif, dengan angka mencapai 8,99%. Ini mencerminkan bahwa meskipun industri multifinance masih menghadapi sejumlah hambatan, sektor-sektor tertentu, seperti pembiayaan untuk modal kerja, masih menunjukkan kinerja yang cukup baik.

Namun, meskipun ada pencapaian tersebut, tantangan dalam sektor ini tetap tidak bisa diabaikan. Kenaikan pembiayaan yang relatif kecil dan masih tingginya tingkat pembiayaan bermasalah mencerminkan tantangan struktural yang dihadapi industri.

Risiko Non-Performing Financing yang Menghantui

Salah satu indikator utama yang memengaruhi kesehatan sektor pembiayaan multifinance adalah tingkat pembiayaan bermasalah, atau yang lebih dikenal dengan istilah non-performing financing (NPF). 

Berdasarkan laporan yang dipaparkan oleh OJK, NPF gross sektor multifinance tercatat sebesar 2,44%, sementara NPF net tercatat 0,85%. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun sektor ini terus berkembang, risiko kredit dan pembiayaan bermasalah masih menjadi tantangan besar.

Tingginya tingkat NPF ini mencerminkan adanya masalah di lapangan, di mana beberapa debitur mungkin tidak dapat memenuhi kewajibannya tepat waktu, sehingga menciptakan beban tambahan bagi perusahaan pembiayaan. NPF yang tinggi juga dapat memengaruhi daya tarik sektor ini bagi investor dan menambah tekanan pada sektor keuangan secara keseluruhan.

Meskipun begitu, dengan adanya kebijakan yang hati-hati dari pelaku industri, diharapkan risiko tersebut dapat diminimalisir, meskipun hasilnya mungkin tidak segera terlihat.

Sikap Hati-Hati Menyambut Tahun 2026

Menurut Suwandi Wiratno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), pelaku industri multifinance di Indonesia akan memasang sikap hati-hati dalam menghadapi tahun 2026. 

Proyeksi kinerja yang kurang optimis, ditambah dengan tantangan yang dihadapi sektor ini, menyebabkan pertumbuhan sektor pembiayaan di masa depan cenderung flat.

Suwandi menambahkan bahwa dengan proyeksi pasar otomotif yang cenderung stagnan pada 2026, baik itu kendaraan bermotor maupun alat berat, perusahaan multifinance harus berpikir lebih realistis. 

“Kalau kinerja pasar flat, kita bagaimana bisa tumbuh? Tahun 2025 saja kami tutup dengan pertumbuhan 1%,” ujarnya.

Untuk itu, bagi Suwandi dan asosiasi, yang terpenting bukan lagi berfokus pada angka pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa perusahaan dapat beroperasi dengan sehat, memiliki kualitas yang baik, dan memperoleh profit yang memadai. 

Sikap hati-hati ini akan menjadi strategi yang diambil untuk menjaga agar perusahaan multifinance tetap dapat bertahan dan berkembang meski dalam kondisi pasar yang tidak optimal.

Tantangan Pembiayaan Modal Kerja bagi UMKM

Di sisi lain, salah satu sektor yang masih menunjukkan potensi adalah pembiayaan untuk modal kerja, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

 Pembiayaan modal kerja tercatat tumbuh sebesar 9,28% year-on-year (YoY), dengan total mencapai Rp53,19 triliun pada Oktober 2025. 

Etika Karyani Suwondo, Direktur Riset Core Indonesia, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh sektor produktif, terutama UMKM, yang belum sepenuhnya terlayani oleh sektor perbankan.

Namun, meskipun ada peluang besar di sektor ini, perusahaan multifinance masih dihadapkan pada beberapa tantangan. Salah satunya adalah risiko kredit yang lebih tinggi, terutama karena banyak UMKM yang belum memiliki akses penuh ke layanan perbankan atau data keuangan yang lengkap. 

Selain itu, adanya mismatch tenor antara kebutuhan jangka menengah dari usaha UMKM dan sumber pendanaan multifinance yang cenderung lebih pendek juga menjadi masalah yang harus diatasi.

Untuk itu, solusi yang lebih inovatif dan adaptif mungkin diperlukan untuk mengatasi tantangan dalam sektor pembiayaan modal kerja bagi UMKM agar dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian.

Kesimpulan: Tantangan dan Peluang dalam Industri Multifinance

Secara keseluruhan, meskipun sektor pembiayaan multifinance di Indonesia masih menunjukkan angka pertumbuhan, tantangan dalam meningkatkan kinerja dan mengurangi risiko pembiayaan bermasalah tetap menjadi fokus utama. 

Pelaku industri harus lebih hati-hati dalam menghadapi proyeksi pasar yang stagnan di tahun-tahun mendatang, dan menjaga keseimbangan antara kualitas pembiayaan dan potensi pertumbuhannya.

Di sisi lain, sektor pembiayaan untuk UMKM memiliki peluang besar untuk dikembangkan, meskipun harus dihadapkan pada berbagai tantangan struktural. 

Dengan strategi yang tepat, industri multifinance bisa tetap bertumbuh dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index