JAKARTA - Pergerakan harga emas batangan kembali menjadi perhatian investor pada awal Januari 2026.
Pada Jumat, harga emas 24 karat produksi Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk mengalami kenaikan yang relatif terbatas. Meski tidak terlalu besar, perubahan harga ini tetap penting dicermati, terutama bagi masyarakat yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Kenaikan harga juga memunculkan pertanyaan klasik di kalangan investor, apakah momentum ini menjadi sinyal positif atau sekadar fluktuasi sementara.
Berdasarkan data resmi Logam Mulia, harga emas batangan bersertifikat naik Rp 7.000 per gram. Harga sebelumnya berada di level Rp 2.570.000 per gram dan kini menjadi Rp 2.577.000 per gram.
Perubahan ini mencerminkan adanya penyesuaian harga seiring dinamika pasar emas global dan domestik. Meski kenaikannya tipis, harga emas tetap berada di level historis yang relatif tinggi dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan Harga Emas Antam Awal Januari
Kenaikan harga emas pada hari ini juga diikuti oleh penyesuaian harga buyback atau harga beli kembali. Logam Mulia mencatat harga buyback naik Rp 6.000 per gram, dari sebelumnya Rp 2.426.000 per gram menjadi Rp 2.432.000 per gram.
Dengan kondisi ini, selisih antara harga jual emas dan harga buyback tercatat sebesar Rp 145.000 per gram. Selisih inilah yang kerap menjadi perhatian utama investor emas batangan.
Selama ini, Antam memang menetapkan dua jenis harga untuk emas batangan produksinya, yakni harga emas dan harga beli kembali atau buyback. Kedua harga ini memiliki fungsi berbeda dan perlu dipahami secara menyeluruh. Harga emas digunakan saat konsumen membeli emas dari gerai Logam Mulia, sedangkan harga buyback berlaku ketika konsumen menjual kembali emas tersebut ke Antam.
Perbedaan Harga Jual dan Buyback
Pemahaman terhadap perbedaan harga jual dan buyback menjadi kunci penting bagi investor emas. Harga emas yang tercantum merupakan harga resmi ketika membeli emas batangan dari gerai Logam Mulia.
Sementara itu, harga buyback adalah harga yang ditetapkan ketika investor ingin menjual emasnya kembali. Perbedaan ini sering kali menimbulkan kejutan bagi investor pemula yang belum memahami mekanisme pasar emas fisik.
Sebagai ilustrasi, jika seseorang membeli emas Antam pagi ini dengan harga Rp 2.577.000 per gram, lalu karena kebutuhan mendesak harus menjualnya kembali pada hari yang sama, maka emas tersebut hanya akan dihargai Rp 2.432.000 per gram. Kondisi ini menunjukkan bahwa dalam jangka pendek, investasi emas berpotensi mengalami kerugian akibat selisih harga jual dan buyback yang cukup lebar.
Implikasi Selisih Harga Bagi Investor
Selisih harga jual dan buyback yang mencapai ratusan ribu rupiah per gram membuat emas kurang ideal untuk investasi jangka pendek. Investor yang tidak memperhitungkan selisih ini berisiko salah menghitung potensi keuntungan dan kerugian. Oleh karena itu, emas batangan lebih cocok dijadikan instrumen investasi jangka panjang, di mana kenaikan harga diharapkan mampu menutup spread tersebut.
Dalam jangka panjang, investor berharap harga emas terus meningkat secara signifikan. Dengan demikian, selisih harga jual dan buyback dapat terkompensasi, bahkan memberikan keuntungan yang optimal. Inilah sebabnya banyak perencana keuangan menyarankan emas sebagai alat lindung nilai dan penyimpan nilai kekayaan, bukan sebagai sarana mencari keuntungan cepat.
Simulasi Keuntungan Dan Kerugian Investasi
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ilustrasi perhitungan potensi untung dan rugi bagi investor emas batangan pada beberapa periode pembelian.
Investor yang membeli emas pada 2 Januari 2026 dengan harga Rp 2.504.000 per gram hingga hari ini masih mencatatkan kerugian sekitar 2,88 persen. Hal ini menunjukkan bahwa dalam rentang waktu sangat singkat, emas belum tentu memberikan hasil positif.
Namun, gambaran berbeda terlihat pada periode pembelian yang lebih lama. Membeli emas pada 9 Desember 2025 di harga Rp 2.403.000 per gram kini menghasilkan keuntungan sekitar 1,21 persen. Jika ditarik lebih jauh, pembelian pada 9 Oktober 2025 di harga Rp 2.303.000 per gram menghasilkan keuntungan sekitar 5,60 persen, menunjukkan tren positif seiring waktu.
Kinerja Emas Dalam Jangka Panjang
Keuntungan yang lebih signifikan terlihat pada pembelian emas dalam jangka menengah hingga panjang. Investor yang membeli emas pada 9 Juli 2025 dengan harga Rp 1.894.000 per gram kini menikmati keuntungan sekitar 28,41 persen.
Bahkan, pembelian pada 9 April 2025 di harga Rp 1.812.000 per gram memberikan keuntungan sekitar 34,22 persen, mencerminkan kekuatan emas sebagai aset jangka panjang.
Jika ditarik ke periode yang lebih lama lagi, hasilnya semakin mencolok. Pembelian emas pada 9 Januari 2025 di harga Rp 1.546.000 per gram kini menghasilkan keuntungan sekitar 57,31 persen. Sementara itu, pembelian pada 9 Oktober 2024 dan 9 Juli 2024 masing-masing memberikan keuntungan sekitar 63,99 persen dan 75,09 persen.
Kinerja terbaik terlihat pada pembelian emas 9 April 2024 di harga Rp 1.306.000 per gram, yang kini mencatatkan keuntungan sekitar 86,22 persen. Data ini menegaskan bahwa emas memang lebih tepat diposisikan sebagai investasi jangka panjang. Dengan strategi yang tepat dan kesabaran, emas batangan tetap menjadi pilihan menarik untuk menjaga nilai aset di tengah dinamika ekonomi.