Konflik AS-Iran Memanas, DPR Warning Jalur Pasokan Energi RI

Jumat, 29 Mei 2026 | 14:35:14 WIB
Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran (FOTO: NET)

JAKARTA - Ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan kembali membara setelah sempat mereda dalam masa gencatan senjata beberapa pekan terakhir.

Menyikapi situasi tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono mengimbau Pemerintah Indonesia untuk memperketat kewaspadaan, terutama terkait keamanan jalur pasokan energi nasional.

Pada mulanya, Dave memberikan respons atas kembali meletusnya bentrokan militer antara pihak AS dan Iran.

Ia menilai bahwa pertempuran tersebut kembali pecah karena stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah yang masih sangat rapuh.

"Perkembangan terbaru di Timur Tengah, khususnya pecahnya kembali konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran setelah masa gencatan senjata, menegaskan betapa rapuhnya stabilitas kawasan tersebut," kata Dave saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Dave kemudian memberikan perhatian mendalam terhadap aksi saling balas serangan yang terjadi di jalur strategis Selat Hormuz.

Ia menegaskan bahwa pergolakan di wilayah tersebut dipastikan bakal memberikan efek nyata bagi Indonesia.

"Saling balas serangan, termasuk di jalur strategis Selat Hormuz, jelas menimbulkan dampak serius bagi keamanan global dan kelancaran perdagangan internasional, yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kepentingan Indonesia," ucapnya.

Oleh sebab itu, Dave mendesak agar Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah bersiap siaga guna mengamankan ketersediaan pasokan energi.

Ia juga berharap Indonesia tetap konsisten memegang teguh prinsip politik luar negeri bebas aktif, sembari memperkuat kolaborasi global dan menjamin perlindungan penuh bagi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di zona konflik tersebut.

"Komisi I DPR RI menegaskan bahwa Indonesia senantiasa berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, dengan orientasi pada perdamaian dunia dan penghormatan terhadap hukum internasional. Dalam menghadapi ketidakpastian ini, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif yang komprehensif, mulai dari perlindungan warga negara Indonesia di kawasan, pengamanan aset nasional, hingga penguatan kerja sama internasional untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan jalur perdagangan," ujar dia.

Melihat kondisi konflik yang terus memanas, Dave menyarankan agar Indonesia memprioritaskan pendekatan diplomasi kepada kedua negara yang tengah bertikai.

Dalam pandangannya, Indonesia memiliki rekam jejak yang sangat baik dalam mengupayakan misi perdamaian dunia.

"Diplomasi yang intensif, baik melalui jalur bilateral maupun multilateral, menjadi kunci untuk meredakan eskalasi dan mencegah meluasnya konflik. Indonesia memiliki rekam jejak sebagai negara yang mampu memainkan peran sebagai jembatan dialog, dan kami optimis kontribusi aktif Indonesia akan membantu membuka ruang bagi penyelesaian damai," tuturnya.

Seperti yang telah diketahui, kekuatan militer AS kembali melancarkan serangan udara terbaru di wilayah Iran pada Kamis pagi.

Operasi udara itu ditargetkan langsung ke sejumlah titik di sekitar Selat Hormuz yang dianggap berpotensi mengancam pasukan militer AS serta kelancaran arus lalu lintas komersial global, merujuk pada pernyataan resmi seorang pejabat AS.

Untuk membalas gempuran udara tersebut, militer Iran dilaporkan langsung melepaskan rentetan tembakan peringatan ke arah armada kapal yang mencoba melintas di Selat Hormuz.

"Empat kapal mencoba melewati Selat Hormuz dan memasuki Teluk Persia tanpa berkoordinasi dengan pasukan keamanan yang bertanggung jawab atas selat tersebut," demikian dilaporkan beberapa media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran dilansir CNN Internasional, Kamis, (28/5).

"Mereka telah diperingatkan, dan setelah mengabaikan peringatan tersebut, tembakan peringatan dilepaskan ke arah mereka, memaksa mereka untuk berbalik arah," menurut laporan tersebut.

Terkini