Tantrum merupakan kondisi di mana anak mengalami ledakan emosi hebat atau melakukan tindakan yang mengganggu lingkungan sekitar. Bagi Anda yang memiliki balita, situasi ini pasti sudah tidak asing lagi. Saat tantrum, anak biasanya akan menangis histeris, merengek, berguling-guling di lantai, melempar mainan, hingga memukul.
Kondisi ini bisa memburuk jika anak belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan atau inginkan. Umumnya, fase ini akan dihadapi orang tua ketika anak memasuki usia satu hingga empat tahun. Menghadapi momen ini tentu menjadi tantangan tersendiri, sehingga dibutuhkan tips parenting yang tepat agar orang tua tidak ikut stres. Yuk, pelajari langkah lengkapnya di bawah ini!
Gejala Tantrum pada Anak

Tantrum berbeda dengan luapan rasa sedih atau kecewa yang biasa. Ketika tantrum, anak akan menguras seluruh energinya untuk menumpahkan emosi melalui tindakan fisik, seperti:
Merengek dan menangis kencang
Berteriak atau menjerit
Menendang, memukul, atau mendorong benda di sekitarnya
Menahan napas hingga tubuh menjadi lemas
Menggigit atau melempar barang
Meronta-ronta dan menjatuhkan diri ke lantai
Menginjak-injak kaki atau justru terpaku tidak mau bergerak
Berlari-larian tanpa arah
Faktor Penyebab Tantrum
Tantrum sebenarnya adalah bagian dari proses perkembangan yang normal pada anak di bawah usia 4 tahun. Namun, intensitasnya bisa berbeda pada setiap anak. Perilaku ini merupakan cara mereka mengekspresikan rasa frustrasi atau kecewa. Mengingat kemampuan bahasa mereka belum matang, memahami psikologi anak usia dini sangat penting karena keterbatasan kosakata membuat mereka sulit berkomunikasi.
Secara umum, tantrum dapat dipicu oleh beberapa kondisi berikut:
Kelelahan atau mengantuk
Rasa lapar
Merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar
Keinginan atau kemauannya tidak terpenuhi
Merasa bosan karena tidak ada teman bermain
Selain itu, tantrum juga sering terjadi ketika anak ingin melakukan atau mengendalikan sesuatu secara mandiri, namun mereka belum mampu secara fisik. Rasa ketidakberdayaan inilah yang memicu ledakan emosi.
Mengenal Dua Tipe Tantrum Anak
Secara garis besar, tantrum dibagi menjadi dua jenis, yaitu tipe mengamuk (downstairs) dan tipe manipulatif. Berikut perbedaannya:
1. Tantrum Mengamuk (Downstairs Tantrum)
Pada tipe ini, anak murni mengekspresikan kekesalannya tanpa memedulikan perhatian orang di sekitarnya.
Contoh: Saat sedang berjalan-jalan, anak meminta mainan baru namun Anda menolaknya. Karena kecewa, ia langsung mengamuk atau memukul benda di dekatnya. Ia tidak sadar sedang menjadi pusat perhatian karena fokusnya hanya meluapkan amarah. Kabar baiknya, emosi ini akan mereda dengan sendirinya.
2. Tantrum Manipulatif
Tipe ini memiliki gejala fisik yang mirip, namun memiliki tujuan tertentu. Anak melakukan aksi mogok atau mengamuk dengan sengaja agar orang tua menuruti keinginannya, dan ia sadar betul bahwa tindakannya menarik perhatian orang lain.
Contoh: Anak yang awalnya ceria tiba-tiba merengek dan memukul lantai saat permintaannya membeli mainan ditolak di tempat umum. Ia sengaja melakukannya agar Anda merasa malu dan terpaksa membelikan mainan tersebut. Begitu keinginannya dituruti, suasana hatinya akan langsung berubah drastis dan kembali tersenyum.
Cara Mengatasi Anak Rewel saat Tantrum

Jika anak mulai menunjukkan gejala tantrum, berikut beberapa tips parenting yang bisa Anda terapkan sebagai cara mengatasi anak rewel:
Pindahkan Anak ke Tempat yang Tenang:
Bawa anak menjauh dari keramaian. Jika di rumah, bawa ke kamar tidur. Jika di tempat umum, carilah sudut yang sepi. Berikan waktu 1-5 menit agar emosinya mereda.
Diamkan Sejenak (Abaikan Perilakunya):
Jika tantrum bertujuan mencari perhatian, mendiamkannya seolah tidak terjadi apa-apa sangat efektif. Jika ia melempar barang, amankan benda berbahaya di sekitarnya dan tunggu sampai tenang sebelum mengajaknya bicara.
Alihkan Perhatian Anak:
Alihkan fokusnya ke aktivitas lain yang menyenangkan seperti menggambar, membaca buku cerita, atau melihat hal menarik di sekitar (seperti kucing yang lucu atau mobil yang lewat).
Validasi Perasaannya:
Validasi bukan berarti membenarkan tindakannya, melainkan menunjukkan bahwa Anda paham perasaannya. Ini adalah kunci penting dalam mendidik anak tanpa membentak.
Contoh kalimat: "Ibu tahu kamu ingin mainan itu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membelinya."
Berikan Kenyamanan Fisik:
Jika tantrum dipicu oleh rasa lapar atau lelah, berikan pelukan hangat dan ajak bicara dengan nada lembut. Langkah ini akan membantu menenangkan sistem sarafnya secara perlahan.
Langkah Pencegahan agar Anak Tidak Sering Tantrum
Setelah emosi anak stabil, Anda bisa menerapkan beberapa tips parenting berikut untuk mencegah tantrum berulang di kemudian hari:
Berikan Pujian pada Perilaku Baik:
Puji anak saat ia mampu bersikap tenang agar ia tahu perilaku mana yang diharapkan.
Konsisten Menegakkan Aturan:
Selalu ingatkan dengan lembut namun tegas bahwa tindakan merusak atau memukul itu berbahaya dan tidak boleh diulangi.
Penuhi Kebutuhan Kasih Sayang:
Sering-seringlah berinteraksi, membaca buku bersama, atau bermain saat anak sedang tidak tantrum agar ia merasa diperhatikan.
Terapkan Rutinitas Harian yang Teratur:
Jadwal harian yang konsisten membantu anak memprediksi aktivitasnya, sehingga mengurangi kecemasan.
Jadilah Teladan yang Baik:
Anak adalah peniru ulung. Tunjukkan cara mengelola emosi dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin sebagai contoh nyata mendidik anak tanpa membentak.
Jaga Pola Tidur Anak: Pastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup tepat waktu untuk menghindari tantrum akibat kelelahan fisik.
Kapan Harus ke Psikolog atau Dokter Spesialis Anak?
Jika intensitas tantrum semakin sering dan parah, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Mengonsultasikan masalah ini ke psikolog sangat disarankan untuk mendalami psikologi anak usia dini serta mendapatkan terapi emosi yang tepat.
Namun, jika tantrum sudah mulai mengganggu kesehatan fisiknya—seperti anak melakukan aksi mogok makan, mengalami gangguan tidur, atau menyakiti diri sendiri—sebaiknya segera periksakan ke dokter spesialis anak. Mengombinasikan konsultasi ke psikolog untuk penanganan emosi dan ke dokter anak untuk memantau tumbuh kembang serta nutrisinya adalah opsi terbaik yang bisa diambil orang tua.