Bezos Sebut AI Bikin Hidup Mudah, Amazon Malah PHK Massal

Kamis, 21 Mei 2026 | 13:28:53 WIB
Pendiri Amazon dan Blue Origin, Jeff Bezos (FOTO: NET)

JAKARTA - Pendiri Amazon dan Blue Origin, Jeff Bezos, kembali memicu kontroversi hangat terkait kecerdasan buatan atau AI.

Melalui wawancara teranyar bersama CNBC, Bezos mengklaim bahwa AI bakal melahirkan era kemakmuran dan mempermudah hajat hidup manusia.

Akan tetapi, argumen tersebut langsung dibanjiri kritik pedas di jagat media sosial.

Sejumlah pihak menganggap pandangan Bezos sangat kontradiktif lantaran Amazon justru gencar merumahkan karyawan dan menggenjot otomatisasi kerja lewat AI.

Ia menganalogikan AI layaknya mesin buldozer yang menggusur fungsi sekop dalam menggali fondasi rumah.

Baginya, AI bertugas mendongkrak produktivitas manusia secara masif, bukannya menyingkirkan peran manusia seutuhnya.

"Yang sebenarnya akan terjadi adalah ekonomi kami akan memiliki produktivitas luar biasa besar" kata Bezos dalam wawancara tersebut dikutip dari Gizmodo.

Ia bahkan berpendapat para buruh semestinya merasa sangat bersuka cita atas kehadiran AI karena diklaim mampu menaikkan taraf hidup sekaligus menekan harga kebutuhan.

Bezos memproyeksikan AI bakal memicu deflasi pada berbagai sektor, mulai dari pangan hingga papan.

Dirinya menilai di masa depan sebuah keluarga tidak perlu lagi mengandalkan dua pencari nafkah karena produktivitas sudah meningkat tajam.

"Semuanya akan jadi lebih murah. Makanan lebih murah, pembangunan rumah juga lebih murah," ujarnya.

Kendati demikian, pandangan optimistis itu segera disambut reaksi sinis.

Para warganet dan pengamat menganggap narasi keindahan AI sangat gampang diucapkan oleh seorang konglomerat dengan harta tanpa batas.

Cercaan kian tajam mengingat Amazon dalam beberapa tahun belakangan telah memangkas ribuan stafnya di bermacam-macam lini.

Secara bersamaan, korporasi tersebut malah makin masif mematangkan teknologi AI serta sistem otomatisasi.

Banyak netizen menilai ucapan Bezos tidak berempati terhadap kecemasan para pekerja yang dihantui bayang-bayang pemecatan akibat ekspansi AI.

"Memberi bulldozer ke pekerja itu berbeda dengan menggilas pekerja memakai bulldozer," tulis salah satu komentar viral di media sosial.

Bukan cuma itu, ramalan Bezos mengenai penurunan harga barang juga diragukan.

Beberapa analis berpendapat ongkos hidup dan harga komoditas di berbagai negara justru merangkak naik dalam beberapa tahun belakangan.

Pada sesi wawancara yang sama, Bezos turut merespons fenomena jor-joran investasi AI yang menyentuh angka ratusan miliar dolar AS.

Menurut pandangannya, andai tren AI pada akhirnya terbukti sekadar gelembung ekonomi, hal itu tetap memberikan dampak positif bagi stimulasi inovasi teknologi.

"Kalaupun nantinya AI ternyata cuma bubble, itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan karena bubble tersebut tetap mendorong investasi dan inovasi," kata Bezos.

Pernyataan ini mencuat di kala perusahaan AI kepunyaan Bezos dikabarkan baru saja menyabet suntikan dana segar senilai US$ 10 miliar demi menyokong proyek robotika AI.

Bezos juga menampik asumsi bahwa penarikan pajak yang lebih tinggi bagi kaum miliarder bisa mengatasi problem kesenjangan sosial.

Menurutnya, menaikkan tarif pajak orang-orang kaya bukan merupakan opsi primer untuk menyokong masyarakat kalangan bawah.

Meski begitu, sanggahan kembali mengemuka lantaran hasil investigasi ProPublica tempo hari membongkar bahwa deretan miliarder teknologi, termasuk Bezos, menerapkan taktik finansial khusus agar beban pajak efektif mereka tetap sangat minim.

Alhasil, silang pendapat mengenai AI kian meruncing.

Pada satu sudut, para pemuka teknologi layaknya Bezos memandang AI sebagai gerbang menuju produktivitas tanpa batas dan kenyamanan hidup.

Namun di sudut lain, kaum pekerja merasa cemas AI justru memperlebar jurang pemisah status sosial dan mengikis ketersediaan lapangan kerja bagi manusia.

Apakah AI memang bakal mewujudkan kebahagiaan universal seperti keyakinan Bezos, atau malah memicu badai disrupsi baru bagi para buruh?

Sampai detik ini, polemik tersebut masih terus menggelinding tanpa ujung.

Terkini