JAKARTA - PT GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) menyatakan kesiapannya untuk mematuhi instruksi Presiden Prabowo Subianto mengenai regulasi pembagian komisi ojek online (ojol) senilai 8 persen bagi pihak aplikator dan 92 persen untuk mitra pengemudi.
Ketetapan komisi ojol sebesar 8 persen ini diprediksi bakal memberikan dampak terhadap lini bisnis On-Demand Services (ODS), terutama pada layanan GoRide.
Kendati begitu, pasar menilai bahwa GOTO masih mempunyai daya tahan berkat adanya diversifikasi bisnis, khususnya dari sektor fintech yang senantiasa mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Melalui konferensi pers yang digelar pada Selasa (19/5/2026), pihak manajemen GOTO menegaskan bakal segera mengimplementasikan skema komisi teranyar tersebut pada layanan transportasi roda dua.
Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, mengutarakan bahwa perusahaan juga bakal memaksimalkan lini bisnis lainnya demi menjaga stabilitas kinerja perseroan di tengah penyesuaian skema komisi ojol tersebut.
Lantas, seperti apa proyeksi saham dari emiten yang menjadi induk perusahaan Gojek ini?
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, memberikan penilaian bahwa regulasi tersebut memang memiliki potensi untuk menekan pendapatan dari bisnis ODS milik GOTO, khususnya pada produk GoRide.
Namun, menurut pandangannya, GOTO tidak sekadar bertumpu pada satu pos pendapatan saja lantaran mempunyai ekosistem bisnis yang sudah terdiversifikasi dengan baik.
“Sebagai ekosistem GOTO memiliki sumber pendapatan yang terdiversifikasi. Tidak hanya bertumpu pada ODS, tetapi ada fintech yang growth-nya tinggi, ada juga logistik dan pengantaran serta pendapatan dari e-commerce service fee,” ujar Kafi dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Kafi menyambung bahwa sektor bisnis fintech saat ini telah bertransformasi menjadi salah satu pilar utama bagi pertumbuhan sekaligus profitabilitas GOTO.
Berdasarkan penilaian Kafi, peluang ekspansi fintech GOTO masih terbuka sangat lebar apabila melihat kuantitas pengguna aktif serta tingkat penetrasi pasar keuangan digital di Indonesia yang terus melaju.
“Ada 27,5 juta pengguna bertransaksi per bulannya di fintech GOTO dan transaksi tembus 2 billion dalam satu kuartal di 1Q26. Angka ini terlihat signifikan tetapi realitanya ada hampir 200 juta populasi dewasa di Indonesia. Ini artinya ruang pertumbuhan masih terbuka lebar,” kata dia.
Merujuk pada laporan capaian kinerja pada kuartal pertama tahun 2026, GOTO berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan bersih fintech hingga mencapai 58 persen menjadi sebesar Rp 1,9 triliun.
Akselerasi tersebut ditopang oleh langkah akuisisi pengguna baru, penguatan pada lini bisnis pembayaran digital, serta ekspansi nilai buku pinjaman.
Di lain sisi, aplikasi GoPay turut mencatatkan nilai buku pinjaman yang menyentuh angka Rp 9,9 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 59 persen bila dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Di tengah lonjakan penyaluran kredit tersebut, mutu kredit GOTO dipandang tetap berada dalam kondisi yang aman melalui sistem manajemen risiko yang berbasis data.
“Fintech telah menjadi growth and profitability engine untuk GOTO. Marjin bisnis fintech yang terus membaik pada waktunya akan membuat sumber pendapatan maupun laba GOTO akan semakin berimbang dan secara model bisnis akan semakin solid dan resilien,” ujar Kafi.
Kafi merasa optimis bahwa GOTO akan tetap melaju di rute yang tepat untuk menjelma sebagai emiten teknologi yang kian kuat, meskipun bisnis GoRide sempat terimbas oleh regulasi komisi ojol 8 persen tersebut.