JAKARTA - Dokter spesialis konsultan bedah digestif dr. Errawan Ramawitana Wiradisuria menyebutkan bahwa bedah bariatrik kini menjadi salah satu solusi medis yang semakin diandalkan dalam menangani obesitas ekstrem yang disertai penyakit penyerta (komorbid).
Dalam sebuah pemaparan medis, dr. Errawan menegaskan bahwa bedah bariatrik ialah prosedur medis metabolik yang memiliki tujuan untuk mengembalikan fungsi normal tubuh, sehingga bukan sekadar untuk pemenuhan kebutuhan estetika atau kosmetik belaka.
"Bedah bariatrik metabolik ini adalah suatu tindakan untuk mengembalikan fungsi-fungsi normal atau mengurangi komorbid. Jadi bukan untuk kosmetik, salah. Bahwa saja dia kurus kemudian dia menjadi lebih cantik, yaitu adalah efek samping. Efek utamanya adalah menghilangkan komorbid," ujar dr. Errawan.
Dokter Errawan menerangkan bahwa tidak semua individu yang mengalami kelebihan berat badan dapat langsung menempuh operasi ini.
Ia menjelaskan bahwa indikasi utama untuk tindakan bedah bariatrik ditentukan lewat perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) dari pasien.
Berdasarkan pertimbangan medis, tindakan operasi ini dianjurkan bagi pasien yang telah masuk ke dalam kategori Obesitas Kelas 2 dengan BMI di atas 35.
Kendati demikian, pasien yang berada pada kategori Obesitas Kelas 1 dengan BMI 30–34.9 tetap diperbolehkan menempuh operasi ini asalkan mempunyai penyakit penyerta atau komorbid yang dinilai berbahaya.
Komorbiditas yang dimaksud tersebut di antaranya adalah hipertensi, diabetes melitus, gangguan tidur ekstrem (obstructive sleep apnea/OSA), nyeri lutut parah karena menahan beban tubuh, hingga masalah ketidakseimbangan hormonal pada wanita.
Di sisi lain, apabila BMI pasien telah melebihi angka 50, maka diperlukan adanya prosedur tambahan di luar pengecilan lambung, contohnya seperti bypass usus.
Operasi bariatrik ini pun mempunyai batasan usia, di mana tindakan hanya dapat diterapkan pada pasien yang berumur antara 15 sampai 70 tahun, dengan catatan kondisi organ-organ vital pasien dipastikan memenuhi syarat medis sesudah melalui pemeriksaan yang ketat.
Langkah menuju meja operasi bariatrik ini pun bukanlah sebuah jalan pintas yang instan serta mudah.
Dokter Errawan menegaskan betapa pentingnya kolaborasi multidisiplin ilmu yang melibatkan dokter bedah, ahli gizi, sampai psikolog atau psikiater demi memastikan keamanan sekaligus keberhasilan jangka panjang bagi pasien.
Sebelum tindakan operasi dilaksanakan, kondisi kejiwaan dari pasien wajib diperiksa terlebih dahulu oleh psikolog atau psikiater.
Pasien yang kedapatan memiliki gangguan psikologis berat layaknya bipolar yang tidak stabil, tidak dianjurkan untuk menjalani operasi ini karena komitmen setelah operasi menuntut stabilitas mental yang kokoh.
Pasien pun harus benar-benar siap secara mental untuk mengubah total gaya hidup mereka sepanjang hayat.
Setelah operasi berhasil dilakukan, peran dari ahli gizi menjadi sangat krusial.
Oleh karena kapasitas lambung pasien telah dipotong hingga 70 persen dan cuma menyisakan sekitar 30 persen saja, maka pola makan pasien wajib diubah secara bertahap.
Pada minggu pertama pasien hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan cair, lalu minggu kedua beralih ke makanan semi-cair, selanjutnya minggu ketiga mengonsumsi makanan semi-padat (bubur), sampai pada akhirnya bisa kembali menyantap makanan padat namun dengan porsi yang sangat sedikit (3–4 sendok makan untuk sekali makan) dengan frekuensi mencapai 6 hingga 8 kali sehari.
"Setelah selesai operasi, makannya harus bertahap. Sebebas-bebasnya masih cuma 3-4 sendok, makannya harus teratur. Komunikasi dengan ahli gizi harus intens, terutama untuk apapun tentu yang kira-kira makanannya meragukan," tambah dr. Errawan mengenai pentingnya bimbingan nutrisi pasca-tindakan.
Bukan hanya itu, pasien juga diharuskan mematuhi empat aturan wajib setelah operasi berjalan: mengonsumsi vitamin seumur hidup lantaran terjadinya penurunan penyerapan nutrisi, banyak meminum air putih secara berkala dan tidak boleh sekaligus, mematuhi regulasi gizi, serta berolahraga secara rutin guna mengencangkan kulit yang menggelambir akibat penurunan berat badan yang drastis.
Dukungan yang penuh dari pihak keluarga pun turut menjadi pilar utama yang penting supaya pasien tidak kembali terjebak ke pola hidup lama yang berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan lagi hingga 30 persen di masa mendatang.