Bontang Siapkan Industri Pengalengan Ikan Dorong Ekonomi Laut

Rabu, 20 Mei 2026 | 05:32:01 WIB
Pemerintah Kota Bontang, Kalimantan Timur, menggebrak dengan rencana besar mengembangkan industri manufaktur pengalengan ikan (FOTO: NET)

BALIKPAPAN — Pemerintah Kota Bontang tengah menyiapkan terobosan ambisius untuk mengubah wajah ekonomi maritim daerah melalui pengembangan industri manufaktur pengalengan ikan.

Langkah ini memanfaatkan potensi melimpah Selat Makassar yang selama ini belum tergarap maksimal, sekaligus menjawab urgensi hilirisasi produk perikanan nasional.

Wakil Walikota Bontang Agus Haris menyatakan komitmen pemerintah daerah membuka akses seluas-luasnya bagi investor yang ingin menanamkan modal di sektor ini.

"Kami siap menyambut karpet merah kepada para calon investor agar masuk ke Kota Bontang melihat potensi industri manufaktur pengalengan ikan menjadi salah satu pilihan berinvestasi di Provinsi Kalimantan Timur," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (20/5/2026).

Dia menambahkan, kepastian regulasi menjadi kunci utama strategi pemerintah kota.

Melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2017, Bontang menjanjikan garansi kepastian hukum, insentif fiskal, hingga pemangkasan jalur birokrasi perizinan.

Sementara itu, Kepala DPMPTSP Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur menyebutkan instansinya tidak sekadar membuka pintu, tetapi mengawal investasi dari hulu hingga hilir.

"Kami di DPMPTSP Bontang tidak hanya membuka pintu, tapi juga memastikan kenyamanan berinvestasi. Sektor ketahanan pangan dan perikanan adalah prioritas utama kami," sebutnya.

Berdasarkan kajian bersama DPMPTSP Provinsi Kalimantan Timur dan DPMPTSP Kota Bontang, empat faktor strategis menjadikan Bontang lokasi ideal bagi hilirisasi perikanan antara lain keberlanjutan pasokan bahan baku laut sepanjang tahun, dan keberadaan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) yang representatif.

Kemudian, kesesuaian tata ruang untuk kawasan industri manufaktur, dan regulasi pro-investasi yang menjamin kemudahan usaha.

Secara geografis, wilayah laut Bontang mencapai 497,57 kilometer persegi, jauh melampaui luas daratan.

Kekayaan ini ditopang produksi perikanan tangkap yang mencapai 20.335,99 ton per tahun, yang melibatkan 3.181 rumah tangga nelayan, dan perikanan budidaya sebesar 4.453,04 ton yang dihasilkan 351 rumah tangga pembudidaya.

Komoditas unggulan seperti cakalang, tongkol, dan tuna terus menunjukkan tren peningkatan keberlanjutan.

Dari sisi kelayakan finansial, Aspian memaparkan hasil studi teknis begitu menjanjikan.

Proyeksi nilai Net Present Value (NPV) pada tahun kelima mencapai Rp3,3 miliar, dengan Internal Rate of Return (IRR) di angka 56,01% atau jauh di atas standar industri.

Rasio Net Benefit/Cost tercatat 1,6, sementara periode pengembalian modal (payback period) diprediksi hanya memerlukan waktu empat tahun empat bulan.

Adapun dia menuturkan titik impas unit produksi berada di angka 549.653 kaleng dengan nilai impas rupiah Rp5,4 miliar per tahun.

"Melalui langkah agresif dan terukur ini, Pemkot Bontang optimistis mampu mentransformasi kekayaan mentah tersebut menjadi produk hilirisasi bernilai tambah tinggi yang siap bersaing di pasar nasional maupun internasional," pungkasnya.

Terkini