JAKARTA - Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak selamanya memberikan efek buruk bagi perekonomian domestik.
Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menilai bahwa kondisi ini justru bisa membuka peluang bagi industri berbasis ekspor dan berpotensi meningkatkan ketersediaan lapangan kerja di sektor produktif.
Eddy berpendapat bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap membawa dampak positif bagi beberapa sektor ekonomi, khususnya industri yang berorientasi ekspor.
Menurut pandangannya, depresiasi rupiah memang dapat membebani perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang-barang impor.
Namun di sisi lain, situasi tersebut justru menguntungkan bagi perusahaan yang menggunakan modal rupiah tetapi memperoleh pendapatan dalam mata uang dolar AS, seperti para eksportir.
“Meskipun dapat dipersepsikan ‘turun kelas’ atau ‘kurang diminati’, sebenarnya depresiasi mata uang itu banyak manfaatnya jika negara mampu memanfaatkan momentum tersebut. Misalnya, produk negara itu menjadi lebih kompetitif untuk diekspor ke negara lain,” kata Eddy, Senin (18/5/2026).
Dia menjelaskan bahwa produk buatan dalam negeri bisa memiliki daya saing yang lebih tinggi ketika disandingkan dengan produk impor yang harganya mulai melonjak akibat depresiasi rupiah.
Tidak hanya itu, Eddy juga melihat adanya dampak berantai pada sektor ketenagakerjaan.
Menurut dia, meningkatnya potensi aktivitas ekspor dapat mendorong penyerapan tenaga kerja di bidang produktif.
“Lapangan kerja ada kemungkinan meningkat di sektor produktif karena peningkatan potensi ekspor,” ujarnya.
Eddy juga menilai bahwa biaya operasional di dalam negeri yang menjadi lebih murah dapat menarik kedatangan modal asing melalui foreign direct investment (FDI).
“Lebih murahnya biaya beroperasi di dalam negeri menyebabkan derasnya capital inflow dari luar dalam bentuk foreign direct investment sehingga ekonomi bisa tumbuh dan lapangan kerja meningkat,” sambungnya.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa tidak semua sektor usaha mendapatkan keuntungan dari melemahnya mata uang rupiah.
Industri yang sangat bergantung pada pasokan bahan baku impor justru akan merasakan dampak buruknya.
Menurut Eddy, sektor seperti minyak dan gas, bahan pangan impor, mesin, hingga alat berat menjadi bidang yang paling rentan terdampak penurunan nilai rupiah.
Sebelumnya, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan peringatan mengenai adanya risiko pengurangan jumlah karyawan apabila tekanan terhadap dunia usaha terus berlanjut, termasuk akibat depresiasi mata uang rupiah.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyebutkan bahwa biaya operasional perusahaan semakin membengkak seiring dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan penjelasannya, kondisi tersebut bisa berdampak pada menurunnya omzet perusahaan hingga memicu terjadinya pengurangan karyawan atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kami hindari,” kata Sarman, Jumat (15/5/2026).
Dia menegaskan bahwa dunia usaha mendukung penuh langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tekanan terhadap sektor usaha tidak semakin berat.
“Kami mendukung penuh berbagai upaya, usaha, dan langkah pemerintah agar penguatan nilai tukar rupiah ini segera terjadi,” imbuhnya.
Sarman menjelaskan bahwa para pelaku usaha mulai meningkatkan kewaspadaan sejak nilai mata uang rupiah menembus angka Rp17.000 per dolar AS.
Oleh karena itu, dia berharap pemerintah bisa segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak penurunan rupiah terhadap sektor ketenagakerjaan.
“Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja,” pungkasnya.