HSBC Optimalkan Stabilitas Inflow Valas Berkat Kontribusi Nasabah Affluent

Kamis, 08 Januari 2026 | 09:57:42 WIB
HSBC Optimalkan Stabilitas Inflow Valas Berkat Kontribusi Nasabah Affluent

JAKARTA - Pergerakan dana valuta asing terus menghadapi tekanan akibat dinamika pasar keuangan global. 

Fluktuasi nilai tukar dan perubahan arus modal asing turut memengaruhi aktivitas perbankan nasional. Di tengah kondisi tersebut, stabilitas inflow valas menjadi indikator penting ketahanan bank.

PT Bank HSBC Indonesia mencatat kondisi inflow valas yang relatif terjaga. Stabilitas ini terjadi meskipun pasar global menunjukkan ketidakpastian. Ketahanan tersebut mencerminkan karakteristik nasabah yang adaptif terhadap perubahan pasar.

Data menunjukkan adanya perlambatan transaksi pasar uang antarbank valas. Aktivitas PUAB valas tercatat mengalami penurunan signifikan secara bulanan. Kondisi ini menandakan melemahnya permintaan pendanaan valas jangka pendek.

Penurunan PUAB Valas Cerminkan Permintaan Melemah

Transaksi pasar uang antarbank valas tercatat menurun tajam pada periode terbaru. Nilai transaksi turun 39,13 persen secara bulanan menjadi US$59,65 juta. Penurunan ini terjadi seiring terbatasnya arus masuk dana asing.

Lembaga terkait menilai kondisi tersebut mencerminkan permintaan pendanaan valas yang melambat. Sektor perbankan lebih selektif dalam mengelola likuiditas valas. Situasi ini juga dipengaruhi oleh sikap wait and see pelaku pasar.

Meski tekanan terlihat di level industri, kondisi tersebut tidak sepenuhnya dirasakan merata. Beberapa bank tetap mencatat stabilitas transaksi valas. Faktor profil nasabah menjadi pembeda utama dalam menjaga arus dana.

Nasabah Affluent Jadi Penopang Utama

Direktur International Wealth and Premier Banking PT Bank HSBC Indonesia Lanny Hendra menyampaikan inflow valas HSBC tetap relatif stabil. Ia menilai nasabah HSBC telah terbiasa menghadapi dinamika pasar. Diversifikasi aset menjadi strategi utama dalam mengelola volatilitas.

“Kondisi inflow valas di HSBC relatif stabil. Nasabah affluent kami sudah berpengalaman menghadapi volatilitas pasar dengan melakukan diversifikasi aset, sehingga tidak ada satu produk valas yang terlalu dominan,” ujar Lanny.

Segmen nasabah affluent dinilai berperan besar menjaga keseimbangan transaksi. Kelompok ini tidak bergantung pada satu instrumen tertentu. Pendekatan pengelolaan aset yang matang membuat arus valas lebih terkendali.

Dolar AS Tetap Jadi Pilihan Dominan

Meskipun diversifikasi diterapkan, dolar Amerika Serikat masih menjadi mata uang favorit. Hal ini sejalan dengan peran dolar sebagai mata uang global yang likuid. Penggunaannya luas dalam transaksi lintas negara.

Preferensi tersebut didorong oleh kebutuhan nyata nasabah. Transaksi internasional masih banyak menggunakan dolar AS. Stabilitas dan kemudahan akses menjadi pertimbangan utama.

Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah, pemerintah mendorong peningkatan inflow valas. Salah satu kebijakan yang ditempuh adalah menaikkan bunga deposito valas dolar AS. Kebijakan ini diterapkan pada bank-bank milik negara.

Kebutuhan Riil Dorong Stabilitas Transaksi

Kebijakan peningkatan bunga deposito berpotensi memicu persaingan antarbank. Namun, HSBC tidak merasakan dampak signifikan terhadap aktivitas nasabahnya. Hal ini disebabkan pola penggunaan valas yang berbeda.

Menurut Lanny, keputusan nasabah HSBC tidak semata didorong imbal hasil. Kebutuhan riil menjadi faktor utama dalam penggunaan valuta asing. Valas digunakan untuk berbagai keperluan nyata lintas negara.

“Nasabah kami menggunakan valas untuk berbagai kebutuhan nyata, seperti perjalanan ke luar negeri, pendidikan internasional, hingga layanan kesehatan, termasuk medical check-up,” jelasnya.

Prospek Valas HSBC Tetap Stabil Tahun Depan

Ke depan, HSBC memproyeksikan transaksi dan simpanan valas tumbuh stabil. Proyeksi ini didasarkan pada kebutuhan nasabah affluent yang berkelanjutan. Aktivitas lintas negara diperkirakan tetap tinggi.

Kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan perjalanan internasional dinilai terus berlanjut. Kondisi tersebut menopang permintaan layanan keuangan global. HSBC optimistis stabilitas inflow dapat dipertahankan.

“Kami melihat pertumbuhan transaksi dan simpanan valas akan tetap stabil pada 2026, seiring kebutuhan nasabah yang bersifat berkelanjutan,” tutup Lanny.

Terkini