Prediksi Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Konflik AS-Iran

Prediksi Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Konflik AS-Iran
Ilustrasi Harga MInyak.

JAKARTA – Proyeksi harga minyak dunia diprediksi bisa menyentuh angka USD 150 per barel menyusul kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan pihak Iran saat ini.

Pasar energi internasional kini sedang menghadapi tekanan besar setelah upaya stabilisasi kawasan melalui jalur diplomatik tidak kunjung membuahkan hasil positif.

“Minyak diperdagangkan lebih kuat pagi ini setelah upaya untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai AS-Iran gagal, menghapus harapan pemulihan aliran energi melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat,” ujarnya dalam catatan riset sebagaimana dikutip dari liputan6.com oleh Warren Patterson, Selasa (28/4/2026).

Warren Patterson mengamati bahwa ketiadaan perkembangan signifikan dalam proses negosiasi tersebut secara otomatis membuat kondisi pasar minyak menjadi semakin ketat setiap harinya.

“Kurangnya kemajuan berarti pasar semakin ketat setiap hari, sehingga harga minyak perlu menyesuaikan ke level yang lebih tinggi,” tambahnya dilansir dari liputan6.com, Selasa (28/4/2026).

Lonjakan nilai komoditas ini terlihat jelas pada penutupan harga minyak Brent yang merangkak naik hingga hampir 3% menuju level USD 108,23 per barel.

Sementara itu untuk pengiriman bulan Juni, harga minyak mentah jenis WTI milik Amerika Serikat juga mengalami penguatan sekitar 2% di posisi USD 96,37 per barel.

Lembaga keuangan Goldman Sachs ikut merevisi proyeksi rata-rata harga Brent menjadi USD 90 per barel pada periode kuartal ke-4 tahun ini.

Ketidakpastian semakin meruncing setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan tegas melalui kanal media sosial resminya mengenai situasi kepemimpinan di pihak lawan.

“Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada pertikaian dan kebingungan besar dalam ‘kepemimpinan’ mereka,” tulis Trump di media sosial Truth Social sebagaimana dikutip dari liputan6.com, Selasa (28/4/2026).

Trump mengklaim bahwa pihak Amerika Serikat memegang kendali penuh atas situasi dan meminta pihak seberang untuk segera menghubungi jika ingin berdialog.

“Tidak ada yang tahu siapa yang memimpin, termasuk mereka sendiri. Kami memegang semua kartu; mereka tidak punya! Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!” lanjutnya lewat liputan6.com, Selasa (28/4/2026).

Kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat menjadi dampak nyata yang mulai dirasakan masyarakat luas saat ini.

Pihak Citigroup memperingatkan bahwa angka USD 150 per barel bukan mustahil terjadi apabila gangguan distribusi terus berlangsung hingga akhir Juni mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index