Gelombang Panas Eropa, Permintaan AC Portabel China Melonjak

Rabu, 01 Juli 2026 | 11:28:39 WIB
Warga borong AC di tengah panas ekstrem di Prancis (FOTO: NET)

SHANGHAI - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa mengakibatkan lonjakan permintaan terhadap perangkat pendingin udara.

Kondisi tersebut mendorong produsen peralatan rumah tangga asal China untuk meningkatkan kapasitas produksi AC portabel guna memenuhi pesanan dari berbagai negara di kawasan tersebut.

Berdasarkan laporan Global Times, Rabu (1/7/2026), Midea, produsen AC asal China, mengoperasikan pabriknya di Shunde, Provinsi Guangdong, selama 24 jam untuk meningkatkan produksi model AC portabel PortaSplit.

Perusahaan mengirimkan unit-unit tersebut ke Eropa melalui jalur kereta barang China-Eropa agar tiba sebelum musim panas berakhir.

"Kami melihat pertumbuhan penjualan yang kuat di beberapa wilayah Eropa Barat. Penjualan AC kami di pasar dengan tingkat penetrasi AC yang relatif rendah, termasuk Perancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris, masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," kata Midea dalam keterangannya.

Produsen lainnya, seperti Gree dan TCL, juga meningkatkan produksi AC portabel serupa seiring tingginya permintaan yang dilaporkan oleh yicai.com.

Permintaan AC portabel meningkat tajam setelah Eropa mengalami gelombang panas yang memecahkan rekor suhu di beberapa negara.

Data BBC mencatat rekor suhu terjadi pada akhir Juni di Jerman, Belgia, dan Belanda, sementara angka kematian akibat cuaca panas juga meningkat di Spanyol dan Perancis.

Kondisi cuaca tersebut memaksa warga mencari pendingin ruangan yang mudah dipasang tanpa harus melakukan renovasi besar.

Selama ini, tingkat kepemilikan AC di Eropa tergolong rendah dibandingkan wilayah lain.

Di Paris dan kota-kota bersejarah lainnya, terdapat aturan ketat yang melarang pengeboran dinding untuk pemasangan AC split konvensional.

Selain itu, biaya pemasangan profesional yang sering kali lebih mahal dari harga unit AC membuat konsumen enggan membeli tipe konvensional.

Kondisi ini memberikan peluang bagi AC portabel yang tidak memerlukan instalasi permanen.

Popularitas AC portabel China juga terlihat di media sosial, di mana pengguna memberikan ulasan positif karena produk dinilai praktis dan terjangkau.

Bahkan, seorang warganet di Jerman membuat situs untuk memantau stok AC PortaSplit milik Midea.

Seorang pengguna media sosial mengaku harus menempuh perjalanan sejauh 200 kilometer untuk mendapatkan unit terakhir, dengan harga yang dilaporkan naik 100 euro akibat tingginya permintaan.

China saat ini mendominasi rantai pasok global produk pendingin udara.

Data Observatory of Economic Complexity (OEC) mencatat ekspor AC China mencapai 27,2 miliar dollar AS sepanjang 2025, atau sekitar 40 persen dari total ekspor dunia.

Permintaan untuk produk pendingin lainnya dari China, seperti kipas genggam, topi dengan kipas, hingga selimut pendingin, juga turut meningkat.

Pengamat internet China, Liu Dingding, menyatakan bahwa tingginya permintaan ini didorong oleh kebutuhan konsumen dan desain produk yang disesuaikan dengan kondisi pasar lokal.

"Di tengah gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa, produk pendingin asal China yang ramah pengguna mampu mengisi kekosongan di pasar regional sekaligus memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat setempat," ujar Liu.

Profesor dari Academy of Regional and Global Governance, Beijing Foreign Studies University, Cui Hongjian, menyebut China memiliki rantai industri lengkap serta daya saing manufaktur kuat untuk memenuhi kebutuhan Eropa.

"China, dengan rantai industri yang lengkap dan daya saing manufaktur yang kuat, menawarkan keunggulan perdagangan yang saling melengkapi dengan Eropa dan seharusnya tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat dari kawasan tersebut," kata Cui.

Namun, Cui mencatat bahwa hubungan perdagangan antara China dan Uni Eropa kini menghadapi tantangan baru.

"Namun berbeda dengan sebelumnya, kini Eropa mulai mengadopsi langkah-langkah yang lebih proteksionis dalam perdagangan dengan China," ujarnya.

Cui menyarankan Uni Eropa untuk meninggalkan kebijakan proteksionisme, menghormati mekanisme pasar dan pilihan konsumen, serta menjaga kerja sama perdagangan bilateral yang terbuka demi manfaat bagi kedua belah pihak.

Terkini