Menjaga Sagu: Identitas dan Ketahanan Pangan Masyarakat Papua

Selasa, 30 Juni 2026 | 15:08:01 WIB
Ilustrasi Warga memanen dan mengolah sagu yang baru dipanen (FOTO: NET)

JAYAPURA - Hutan sagu berfungsi sebagai lahan produksi pangan lokal yang menyimpan potensi besar bagi pemerintah dan seluruh pihak untuk mewujudkan swasembada serta ketahanan pangan berbasis kearifan lokal di Papua.

Penyusutan luas hutan sagu akibat alih fungsi lahan di berbagai kabupaten dan kota menuntut kesadaran semua elemen untuk bersama-sama melindungi hutan sebagai penyangga pangan masa depan bagi masyarakat di wilayah ini.

Berkurangnya hutan sagu tidak hanya mengancam ketersediaan pangan masyarakat adat, tetapi juga berisiko melenyapkan identitas budaya orang Papua yang telah terjaga selama ratusan tahun.

Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih (Uncen) Akhmad Kadir menyatakan sagu memiliki cakupan potensi yang jauh lebih luas daripada sekadar sumber makanan.

"Ketika berbicara tentang sagu, maka tidak hanya berbicara Papua Selatan, Papua Barat, atau wilayah administrasi lainnya, sebab sagu adalah identitas orang Papua. Berdasarkan hasil penelitian lapangan mengenai ketahanan pangan dan kearifan lokal masyarakat Papua, sagu memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hingga ekologi masyarakat adat."

Papua dikenal secara luas sebagai salah satu episentrum keragaman sagu dunia, di mana berbagai jenis sagu tumbuh dan dikelola oleh masyarakat melalui pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi.

Namun, kenyataan ini tengah menghadapi ancaman serius seiring masifnya konversi lahan untuk kepentingan lain dan perkebunan, seperti yang terjadi di Merauke, Papua Selatan, yang menyebabkan area hutan sagu terus berkurang.

Persoalan ini tidak bisa hanya dilihat dari perspektif lingkungan, karena menyangkut hilangnya identitas, pengetahuan lokal, dan sejarah masyarakat Papua, di mana di setiap hutan sagu tersimpan keahlian masyarakat adat dalam mengenal jenis, memahami karakteristik, menentukan masa panen, hingga cara mengolahnya.

Pengetahuan yang tidak tertulis dalam buku akademik ini hidup melalui praktik harian masyarakat adat, sehingga hilangnya hutan sagu juga berarti hilangnya nilai budaya dan pengetahuan tersebut.

Sagu juga memiliki peran sosial dan budaya yang kuat, terutama pada komunitas seperti Suku Marind di selatan Papua, yang menjadikannya bagian tak terpisahkan dalam ritual adat mulai dari penyelesaian konflik hingga prosesi kematian.

Bagi masyarakat adat, sagu merupakan simbol relasi antara manusia, alam, dan leluhur, yang berarti sagu adalah bagian dari sistem nilai kehidupan mereka.

Pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah beras dan makanan instan menjadi tantangan baru karena generasi muda mulai kehilangan keterikatan dengan pangan lokal yang merupakan fondasi identitas budaya Papua.

Jika tren ini berlanjut tanpa upaya pelestarian yang konkret, Papua terancam kehilangan salah satu tiang penting kebudayaannya.

Ancaman terhadap sagu kini telah mencakup persoalan identitas dan masa depan pangan, sehingga memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat adat.

Diperlukan langkah nyata berupa perlindungan kawasan hutan dari alih fungsi lahan, penguatan pendidikan budaya, serta pengakuan terhadap pengetahuan lokal sebagai warisan yang harus dipertahankan.

Sagu perlu diposisikan kembali sebagai unsur penting dalam kebijakan ketahanan pangan daerah agar tidak terus terpinggirkan oleh pangan dari luar, karena menjaga sagu berarti menjaga ekosistem dan hak masyarakat adat.

Antropolog Uncen Abner Krey menekankan bahwa penurunan konsumsi sagu adalah isu serius yang berdampak pada keberlanjutan budaya, ekonomi masyarakat adat, serta ketahanan pangan daerah.

Seminar Sagu Papua 2026 yang dihelat oleh sebuah yayasan bersama Polres Jayapura Kota menjadi wadah untuk mendorong kembali sagu sebagai pangan strategis di tengah perubahan sosial dan tantangan pangan global.

Masyarakat Papua, terutama di wilayah perkotaan, saat ini lebih banyak mengonsumsi beras karena akses yang dinilai lebih mudah dibandingkan sagu.

Ketergantungan pada beras menjadikan Papua rentan terhadap masalah distribusi, lonjakan harga, maupun gangguan pasokan akibat kondisi geografis atau faktor ekonomi.

Papua memiliki karakteristik wilayah unik dengan banyak komunitas yang bergantung pada alam, sehingga sagu menjadi strategis karena mampu tumbuh alami dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat selama berabad-abad.

Sebagai wilayah dengan ekosistem sagu terbesar di dunia, hutan sagu bagi masyarakat adat adalah ruang hidup yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan budaya.

Kerusakan ekosistem ini akan berdampak langsung pada masyarakat yang menggantungkan hidup dari pengolahan hingga perdagangan hasil sagu.

Dalam konteks ketahanan pangan dunia, penting untuk kembali ke pangan lokal, karena ketergantungan pada satu jenis pangan seperti beras berisiko tinggi saat terjadi gangguan cuaca atau ekonomi.

Papua harus membangun konsep ketahanan pangan yang tidak sekadar mengejar ketersediaan makanan, tetapi mempertahankan sumber daya yang sesuai dengan alam dan budaya lokal, yakni sagu.

"Karena itu, ketahanan pangan Papua tidak bisa hanya diukur dari banyaknya beras yang masuk. Kami harus melihat apakah masyarakat masih memiliki akses terhadap pangan yang berasal dari lingkungan mereka sendiri."

Langkah strategis menjaga keberlanjutan sagu meliputi perluasan akses masyarakat terhadap pangan lokal di perkotaan, pengembangan UMKM berbahan baku sagu, integrasi sagu dalam kebijakan ketahanan pangan, serta perlindungan kawasan hutan dan perubahan paradigma pembangunan pangan.

Upaya ini diharapkan mampu mengangkat posisi sagu tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi sebagai sumber pangan masa depan yang bernilai ekonomi tinggi.

Sejak 2023, Festival Colo Sagu rutin diadakan di Jayapura sebagai gerakan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan perjuangan konsisten para pegiat pangan lokal.

Kapolresta Jayapura Kota sekaligus Founder Colo Sagu, Kombes Pol Fredrickus W. A. Maclarimboen, menyatakan festival ini menjadi momentum untuk membangun kesadaran melestarikan hutan sagu serta mendorong regulasi yang mendukung pengembangan sagu sebagai sumber pangan dan ekonomi.

Festival ini diharapkan menjadi gerakan kolektif seluruh masyarakat untuk menjaga warisan leluhur demi masa depan generasi mendatang.

"Kepedulian masyarakat Papua dalam mengembangkan potensi ekonomi sagu yang melimpah ini perlu terus kami dorong bersama. Sagu memang menjadi identitas budaya dan kebanggaan masyarakat di Bumi Cenderawasih, namun masih perlu diperbanyak upaya yang menjadikan bahan pangan itu sebagai sumber usaha bernilai ekonomi."

Data menunjukkan luas hutan sagu di Papua menyusut dari satu juta hektare menjadi 700 ribu hektare, sehingga festival ini diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat mempertahankan kearifan lokal dan ketahanan pangan berbasis sagu.

Terkini