Waspada Faktor Risiko Penyakit Ginjal Anak Sejak Dalam Kandungan

Senin, 29 Juni 2026 | 08:27:38 WIB
Ilustrasi Sakit gagal ginjal (FOTO: NET)

JAKARTA - Mendeteksi penyakit ginjal pada anak bisa dilakukan lebih awal jika orang tua mampu mengenali berbagai faktor peningkat risikonya.

Hal ini dikarenakan gangguan ginjal pada anak sering kali tidak menunjukkan gejala spesifik pada fase awal, sehingga baru terdeteksi ketika kondisinya sudah memburuk.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi RS Pondok Indah, dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, menyatakan bahwa langkah krusial dalam menjaga kesehatan ginjal anak diawali dengan mengidentifikasi apakah anak memiliki faktor risiko tertentu.

"Kalau punya (faktor risiko), berarti dia harus lebih hati-hati," ujar dr. Henny dalam acara pemaparan informasi mengenai gangguan ginjal pada anak yang diselenggarakan RS Pondok Indah Group (19/06).

Risiko gangguan ginjal, menurut dr. Henny, sebenarnya bisa bermula sejak anak masih di dalam kandungan, sehingga riwayat kehamilan dan persalinan perlu dicermati orang tua.

"Pertama kalau anak lahirnya prematur, artinya lahir di bawah 37 minggu, kedua kalau berat badan lahirnya rendah di bawah 2,5 kilo, itu punya faktor risikonya," kata dr. Henny.

Ia menjelaskan bahwa kondisi seperti oligohidramnion atau minimnya volume air ketuban bisa menjadi petunjuk bahwa produksi urine janin tidak berjalan optimal.

“Di akhir-akhir masa kehamilan atau di semester-semester akhir, jumlah air ketubannya sedikit, karena pipisnya bayi itu masuk ke dalam air ketuban. Jadi kalau air ketuban sedikit, itu bisa jadi clue kalau si bayi produksi pipisnya enggak cukup,” tutur dr. Henny.

Selain itu, paparan obat nefrotoksik selama hamil, ibu dengan diabetes gestasional, hingga preeklamsia dapat mengganggu perkembangan ginjal janin.

“Kalau ibu hamil dikit-dikit sakit minum asam mefenamat, dikit-dikit pusing minum ini, itu, bisa masuk ke plasenta dan masuk ke bayinya, mengganggu perkembangan ginjal,” jelasnya.

Riwayat penyakit ginjal dalam keluarga juga menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan, terutama jika ada anggota keluarga yang mengalami gagal ginjal tanpa penyebab jelas.

"Kalau kami lihat itu berturut-turut, misalnya pamannya sakit ginjal-cuci darah, bapaknya sakit ginjal-cuci darah, kakaknya sakit ginjal-cuci darah, tapi penyebabnya enggak tahu, itu hati-hati karena bisa jadi ada penyakit yang sama, yang diturunkan kepada anak," ujarnya.

Selain faktor keturunan, anak dengan kelainan bawaan pada ginjal dan saluran kemih, sindrom genetik, serta displasia ginjal memiliki risiko lebih tinggi.

Penyakit kronis seperti diabetes tipe 1 atau 2, hipertensi, lupus, obesitas, dan penyakit jantung juga menuntut pemantauan lebih ketat.

"Kalau seorang anak sudah punya diagnosis penyakit komorbid, penyakit diabetes tipe 1 maupun tipe 2, hipertensi, lupus, anaknya obesitas, atau punya penyakit jantung, maka dia punya risiko mengalami penyakit ginjal. Jadi harus dilakukan pemeriksaan yang berkala," jelas dr. Henny.

Infeksi tertentu, seperti streptokokus yang memicu radang tenggorokan, juga dapat menyebabkan glomerulonefritis pada anak yang rentan.

“Jadi kalau anaknya pernah mengalami sakit tenggorokan disertai demam tinggi, kemudian biasanya kalau kami cek darahnya, sel darah putihnya naik. Infeksi saluran napas yang disebabkan oleh streptokokus, ini bisa men-trigger terjadinya peradangan di ginjal. Enggak semua anak, tapi ada beberapa anak yang dia memang rentan terhadap munculnya penyakit ginjal lanjutan akibat streptokokus,” ungkap dr. Henny.

Infeksi saluran kemih berulang, sepsis, dan hepatitis B juga termasuk faktor risiko yang perlu diwaspadai.

Di luar sisi medis, kebiasaan hidup seperti konsumsi garam berlebih dan dehidrasi kronis dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal jangka panjang.

Dr. Henny menyarankan orang tua untuk memenuhi kebutuhan cairan, membatasi makanan asin, menjaga anak aktif bergerak, menghindari penggunaan obat tanpa resep, serta melakukan pemeriksaan fungsi ginjal berkala bagi anak yang berisiko.

Terkini