Transportasi Publik Jakarta: Kebutuhan Vital Kelompok Rentan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:56:51 WIB
Pemprov DKI Bakal Tingkatkan Akses Transportasi Ramah Disabilitas (FOTO: NET)

JAKARTA - Mendekati usia 499 tahun serta menyongsong era lima abad kota ini, sarana angkutan umum ibu kota telah berkembang pesat menjadi lambang modernisasi wilayah.

Tetapi bagi kaum rentan, mulai dari warga lanjut usia hingga penyandang disabilitas, kemajuan tersebut belum selalu berarti pengalaman perjalanan yang gampang.

Sebab bagi mereka, transportasi umum bukan sekadar opsi, melainkan kebutuhan.

Bagi Arif (32), seorang penyandang disabilitas netra yang tiap hari menggunakan KRL untuk pergi bekerja ke wilayah Thamrin, sarana transportasi umum adalah penopang utama mobilitasnya.

“Kalau enggak ada transportasi publik, mobilitas saya jauh lebih terbatas. Saya enggak mungkin mengandalkan kendaraan pribadi,” ujar Arif saat ditemui di Stasiun Sudirman, Kamis (25/6/2026).

Sebagai tunanetra, Arif sangat bergantung pada sarana aksesibilitas yang tersedia di stasiun.

Pria ini mengaku blok taktil dan pengumuman audio sangat membantu dalam mengetahui arah pergerakan serta informasi perjalanan.

“Audio announcement penting banget buat tahu kereta tujuan mana yang datang,” kata dia.

Walau begitu, Arif menilai sarana tersebut belum selalu berfungsi maksimal.

Hambatan sering kali justru muncul dari perilaku penumpang lain.

“Guiding block kadang terhalang orang berdiri atau barang. Jadi akses yang harusnya membantu malah terhambat,” ujar dia.

Bagi Arif, infrastruktur saja tidak cukup untuk mewujudkan transportasi yang inklusif.

Kesadaran warga menjadi faktor yang sama krusialnya.

“Saya berharap awareness masyarakat meningkat. Infrastruktur penting, tapi perilaku pengguna juga sama pentingnya,” kata dia.

Hal serupa dirasakan Maya (28), pengguna kursi roda yang rutin memakai KRL untuk kegiatan pekerjaan serta komunitas.

Menurutnya, kondisi layanan saat ini jauh lebih baik ketimbang beberapa tahun silam.

“Lift sangat membantu pengguna kursi roda seperti saya,” ujarnya.

Namun, Maya menilai aksesibilitas belum merata dari titik awal hingga akhir perjalanan.

Tantangan terbesar justru muncul saat harus berpindah antar-area.

“Kadang dari trotoar ke stasiun masih ada permukaan yang enggak rata atau ramp terlalu curam,” kata Maya.

Pengalaman Maya memperlihatkan bahwa inklusivitas transportasi umum tidak bisa dinilai cuma dari fasilitas di dalam stasiun.

Jalur pejalan kaki, trotoar, hingga konektivitas menuju pusat transportasi juga menentukan.

“Saya ingin aksesibilitas dipikirkan dari awal perjalanan sampai akhir, bukan cuma di stasiun,” tuturnya.

Bagi lansia, perjalanan adalah mengenai kenyamanan serta rasa aman.

Kelompok lansia menghadapi tantangan yang berbeda.

Penurunan kondisi fisik membuat perjalanan yang bagi orang lain terasa biasa bisa menjadi aktivitas yang menguras tenaga.

Nurdin (67), pensiunan PNS yang kerap memakai MRT Jakarta untuk pemeriksaan kesehatan serta bertemu keluarga, mengaku moda ini memberi pengalaman yang relatif nyaman.

“MRT sangat nyaman. Bersih, dingin, teratur,” ujar Nurdin saat ditemui di Stasiun MRT Dukuh Atas BNI.

Ia mengapresiasi fasilitas seperti lift, eskalator, serta kursi prioritas yang memudahkan mobilitas kaum lansia.

“Lift dan kursi prioritas sangat membantu,” katanya.

Walau begitu, Nurdin menyoroti satu persoalan yang sering luput dari perhatian, yakni akses menuju stasiun.

“Masalahnya jalan menuju stasiun kadang cukup jauh. Buat lansia itu lumayan melelahkan,” ujar dia.

Pandangan senada disampaikan Rosita (62), ibu rumah tangga yang sering menggunakan MRT untuk mengunjungi anaknya atau sekadar bepergian.

“Nyaman sekali, saya suka karena tertib,” kata Rosita.

Namun, ia mengaku masih kesulitan saat harus berganti jalur atau mencari arah keluar stasiun.

Bagi Rosita, penunjuk arah yang lebih sederhana serta pendampingan petugas akan sangat membantu kaum lansia.

“Harapannya petunjuk arah lebih jelas dan ada pendampingan untuk lansia yang masih bingung,” ujarnya.

Kisah Nurdin serta Rosita menunjukkan bahwa kelompok lansia membutuhkan lebih dari sekadar sarana fisik.

Mereka juga memerlukan sistem navigasi yang intuitif serta dukungan petugas yang responsif.

Kepala Divisi Corporate Secretary MRT Jakarta Rendy Primartantyo menyatakan dari Sumbernya bahwa MRT Jakarta sudah mengacu pada berbagai standar pelayanan untuk memastikan kelompok prioritas dapat mengakses layanan dengan aman serta nyaman.

Saat ini MRT menyediakan priority passenger gate, lift khusus pelanggan prioritas, blok taktil, toilet disabilitas, portable ramp untuk kursi roda, area kursi roda di dalam kereta, peta braille, hingga pelatihan bahasa isyarat bagi petugas.

Berdasarkan data pengguna Kartu Layanan Gratis (KLG), jumlah penumpang lansia di MRT pada Januari 2026 mencapai 31.993 orang serta meningkat menjadi 42.889 pada Mei 2026.

Sementara pengguna disabilitas meningkat dari 2.450 menjadi 3.436 dalam kurun waktu yang sama.

Angka tersebut memperlihatkan kelompok rentan makin aktif memanfaatkan transportasi umum.

Namun Rendy mengakui tantangan terberat justru terletak pada pembangunan budaya inklusif.

“Masih diperlukan peningkatan kesadaran untuk menghormati hak kelompok rentan, seperti lansia dan penyandang disabilitas,” kata dia.

Sementara itu, Corporate Secretary LRT Jakarta Sheila Maharshi menyebut dari Sumbernya bahwa LRT Jakarta juga terus mengembangkan layanan inklusif.

Fasilitas seperti lift, tactile paving, gerbang prioritas, toilet ramah disabilitas, ruang ibu serta anak, ruang tenang, hingga kursi prioritas sudah disediakan di stasiun serta kereta.

Merujuk data internal, persentase pengguna disabilitas yang memakai kartu layanan gratis di LRT meningkat dari 2,8 persen pada 2025 menjadi 7,29 persen pada pertengahan 2026.

Kendati demikian, Sheila mengakui hambatan utama tetap terletak pada konektivitas.

“First mile dan last mile masih menjadi tantangan agar pelanggan prioritas dapat menjangkau stasiun dengan mudah dan tanpa hambatan,” ujarnya.

Di KRL Commuter Line, persoalan serupa juga muncul.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda menyebut dari Sumbernya bahwa jumlah pengguna KRL terus meningkat signifikan, dari 331,8 juta penumpang pada 2023 menjadi 400,9 juta pada 2025.

Pertumbuhan ini menunjukkan KRL tetap menjadi tulang punggung mobilitas warga metropolitan.

Namun Karina mengakui kepadatan penumpang saat jam sibuk masih menjadi keluhan utama.

“Kondisi kepadatan sangat memengaruhi kenyamanan pengguna transportasi umum,” kata dia.

Bagi kelompok rentan, situasi ini menjadi tantangan berlipat.

Fasilitas mungkin tersedia, tetapi ketika peron padat serta gerbong penuh, aksesibilitas menjadi sulit dirasakan.

Deputy Director Institute for Transportation and Development Policy Deliani Siregar menilai dari Sumbernya bahwa transportasi publik di Jakarta bagi kelompok rentan sejatinya bukan sekadar soal mobilitas, melainkan mengenai keadilan akses terhadap ruang kota.

Menurut Deliani, banyak kelompok rentan seperti lansia, perempuan, serta penyandang disabilitas memakai transportasi umum bukan semata karena preferensi, tetapi karena keterbatasan pilihan mobilitas.

“Transportasi publik bukan sekadar pilihan bagi kelompok rentan, bahkan banyak yang menggantungkan mobilitasnya pada transportasi publik,” ujar Deliani saat dihubungi.

Ia menjelaskan, kelompok rentan sering kali tidak memiliki akses yang setara terhadap kendaraan pribadi.

Dalam banyak rumah tangga, contohnya, kendaraan bermotor lebih banyak dipakai pencari nafkah utama.

Sementara bagi penyandang disabilitas, keterbatasan dalam mengemudi menjadikan transportasi umum sebagai tumpuan utama.

“Bagi penyandang disabilitas, transportasi publik menjadi akses utama untuk layanan kesehatan, pendidikan, hingga kesempatan ekonomi,” katanya.

Deliani menilai, inilah alasan mengapa kualitas serta keandalan transportasi umum Jakarta perlu dilihat sebagai isu keadilan sosial.

Meskipun Jakarta telah mencatat kemajuan besar dalam pengembangan transportasi umum, tantangan inklusivitas dinilai belum usai.

Berdasar data, cakupan layanan transportasi umum Jakarta telah mencapai 91 persen wilayah kota, tetapi mode share atau proporsi warga yang memakai angkutan umum baru sekitar 15 persen.

Artinya, layanan memang semakin luas, tetapi belum sepenuhnya menarik atau nyaman untuk dipilih masyarakat.

Menurut Deliani, aksesibilitas menjadi salah satu faktor kunci yang masih perlu diperbaiki.

“Layanannya tersedia, tapi belum cukup menarik untuk dipilih. Aksesibilitas adalah salah satu kuncinya,” ujar dia.

Ia mengapresiasi adanya progres dari sisi infrastruktur.

Dari cuma satu halte uji coba inklusif pada 2023, kini ratusan halte telah dilengkapi fasilitas seperti peta braille, lift, jalur pemandu, serta gerbang yang lebih ramah bagi pengguna kursi roda.

Sejumlah intervensi tersebut juga mulai diadopsi operator seperti MRT Jakarta.

Namun, Deliani menegaskan bahwa pembangunan fasilitas fisik saja belum cukup.

Menurutnya, kelompok rentan masih menghadapi kendala nyata seperti waktu tunggu yang lama, kebutuhan transfer antarmoda yang rumit, serta akses menuju halte serta stasiun yang belum sepenuhnya ramah.

“Yang sering jadi persoalan justru pengalaman perjalanan secara keseluruhan, bukan hanya fasilitas di dalam stasiun atau halte,” kata dia.

Ia menyoroti persoalan first mile serta last mile, yakni perjalanan dari rumah menuju pusat transportasi serta sebaliknya, sebagai titik lemah utama transportasi Jakarta.

Selama trotoar masih terputus, penyeberangan belum aman, serta jalur pejalan kaki belum inklusif, maka kelompok rentan akan tetap menemui hambatan.

“Selama trotoar masih terputus dan penyeberangan masih tidak ramah, transportasi publik tidak akan pernah benar-benar inklusif,” ujar Deliani.

Menurut dia, ada anggapan bahwa tarif murah atau gratis sudah cukup untuk menarik kelompok rentan memakai transportasi umum.

Padahal, hasil pemantauan ITDP menunjukkan hal berbeda.

Tarif memang penting, tetapi bukan faktor utama yang menentukan apakah seseorang mau beralih ke transportasi umum.

“Yang menggerakkan orang beralih ke transportasi publik bukan harga tiketnya, melainkan kualitas keseluruhan pengalaman bermobilitas,” kata Deliani.

Di usia Jakarta ke-499 serta menuju lima abad kota ini pada tahun depan, Deliani menilai masih ada pekerjaan rumah besar yang perlu dituntaskan.

Selain integrasi antarmoda yang benar-benar aksesibel, ia juga menekankan pentingnya pelibatan langsung kelompok rentan dalam perencanaan serta evaluasi transportasi.

Menurutnya, kelompok rentan bukan hanya pengguna, melainkan pihak yang paling memahami apakah sebuah fasilitas benar-benar inklusif atau tidak.

“Infrastruktur bisa dibangun dengan niat terbaik, tetapi tanpa keterlibatan langsung perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas, hasilnya akan terus meleset dari kebutuhan nyata,” tuturnya.

Terkini