JAKARTA – Pemkab Bekasi antisipasi kemarau jaga produktivitas pertanian melalui normalisasi irigasi dan pompanisasi guna memastikan ketahanan pangan tetap stabil.
Pemerintah Kabupaten Bekasi kini mulai melakukan pemetaan intensif terhadap wilayah persawahan yang memiliki risiko tinggi terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa target produksi padi di wilayah tersebut tetap berada pada jalur yang direncanakan tanpa kendala air.
Dinas Pertanian setempat tengah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan saluran irigasi sekunder dan tersier berfungsi secara optimal dalam mendistribusikan air. Perbaikan pada pintu air dan pembersihan sampah di sepanjang jalur pengairan menjadi prioritas utama untuk memperlancar arus menuju lahan milik warga.
"Kami melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk meminimalisasi dampak kemarau bagi petani di wilayah Kabupaten Bekasi," ujar Penjabat Bupati Bekasi Dedy Supriyadi pada Kamis, 23 April 2026.
Selain pembenahan infrastruktur, bantuan alat mesin pertanian berupa pompa air mulai disalurkan kepada kelompok tani yang berada di zona merah kekeringan. Pompa ini diharapkan mampu menarik air dari sumber permukaan seperti sungai atau embung yang masih memiliki cadangan debit air mencukupi.
Pemanfaatan teknologi pompanisasi dinilai efektif untuk menjangkau lahan sawah yang berada di ujung saluran irigasi atau wilayah dengan elevasi yang cukup tinggi. Upaya ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi para petani yang sangat bergantung pada cuaca.
"Salah satunya dengan menginstruksikan perangkat daerah terkait untuk mengoptimalkan pompanisasi serta normalisasi saluran irigasi guna menjaga ketersediaan air," ujar Dedy Supriyadi.
Data dari dinas terkait menunjukkan bahwa ribuan hektare sawah di wilayah utara Bekasi, seperti Sukawangi dan Muaragembong, kerap menjadi daerah yang paling terdampak saat kemarau panjang tiba. Oleh karena itu, pengaturan pola tanam juga mulai disosialisasikan agar selaras dengan ketersediaan air yang ada.
Petani diimbau untuk menggunakan varietas benih yang lebih tahan terhadap kondisi minim air atau mempercepat masa tanam sebelum puncak musim kering benar-benar datang. Koordinasi dengan pihak pengelola bendungan juga terus ditingkatkan agar pengaturan debit air dapat dilakukan secara adil dan merata.
"Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjaga produktivitas sektor pertanian kita agar tetap stabil dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga," ujar Dedy Supriyadi.
Keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah dan kesadaran para petani dalam merawat infrastruktur pengairan yang telah diperbaiki tersebut. Dengan antisipasi yang dilakukan sejak dini, ancaman gagal panen akibat kekeringan diharapkan dapat ditekan serendah mungkin tahun ini.