KEK Industropolis Batang Siapkan Revolusi Logistik 1 Juta TEUs

Rabu, 22 April 2026 | 13:28:46 WIB
Ilustrasi KEK Industropolis Batang

JAKARTA – KEK Industropolis Batang targetkan kapasitas dryport 1 juta TEUs guna memperkuat efisiensi logistik dan daya saing industri manufaktur di Jawa Tengah.

Visi Besar KEK Industropolis Batang Targetkan Kapasitas Dryport 1 Juta TEUs

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang kini tengah memacu pembangunan infrastruktur pendukung untuk mengukuhkan posisinya sebagai magnet investasi baru. Fokus utama terletak pada penyediaan fasilitas pelabuhan daratan yang mampu menampung volume peti kemas dalam skala besar secara berkelanjutan.

Langkah berani ini diambil untuk merespons geliat sektor manufaktur yang diprediksi akan terus tumbuh pesat di koridor utara Jawa Tengah. Ketersediaan sarana logistik yang mumpuni menjadi jawaban atas keraguan pelaku usaha terkait kelancaran arus barang dan kepastian biaya operasional di masa depan.

Nantinya, setiap pabrik yang beroperasi di dalam kawasan ini akan memiliki akses langsung ke sistem distribusi global yang lebih terorganisir. Hal ini sejalan dengan ambisi pemerintah untuk menjadikan Batang sebagai percontohan kawasan industri yang memiliki kemandirian fasilitas tingkat dunia.

"Kami memiliki target ambisius untuk menjadikan dryport di KEK Industropolis Batang sebagai pusat logistik dengan kapasitas mencapai 1 juta TEUs per tahun," ujar Direktur Utama PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Ngurah Wirawan, dalam keterangannya pada Rabu, 22 April 2026.

Efisiensi Rantai Pasok Melalui Layanan Kepabeanan Terpadu

Salah satu terobosan yang diusung dalam proyek ini adalah penyederhanaan birokrasi logistik melalui sistem satu pintu di dalam kawasan industri. Pengusaha kini tidak perlu lagi direpotkan oleh kendala teknis saat barang harus mengantre lama di pelabuhan laut yang seringkali mengalami kepadatan.

Dryport ini dirancang untuk menjalankan fungsi administratif kepabeanan secara mandiri, layaknya pelabuhan laut namun berlokasi di daratan. Proses verifikasi dokumen hingga pengecekan fisik peti kemas dapat diselesaikan lebih cepat sebelum dikirim ke tujuan akhir melalui moda transportasi darat.

Ngurah Wirawan menjelaskan bahwa pengembangan ini merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem industri yang benar-benar mandiri. Beliau menegaskan, "Dryport ini akan menjadi urat nadi yang menghubungkan produksi dalam kawasan dengan pasar internasional secara lebih efisien."

Integrasi ini juga membantu menekan biaya tak terduga yang sering muncul akibat keterlambatan distribusi barang di jalan raya. Melalui jaminan kelancaran arus keluar-masuk barang, daya saing produk lokal di kancah internasional dipastikan akan meningkat secara signifikan di masa mendatang.

Konektivitas Multimoda: Rel Kereta Api dan Jalur Bebas Hambatan

Keunggulan kompetitif dari fasilitas ini terletak pada lokasinya yang bersinggungan langsung dengan jaringan transportasi utama nasional. Pemanfaatan rel kereta api logistik menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada armada truk kontainer yang sering terjebak dalam kepadatan lalu lintas.

Skema ini memungkinkan pengiriman barang dilakukan dalam volume yang jauh lebih besar dalam satu waktu tempuh saja. Dampaknya tidak hanya terasa pada kecepatan pengiriman, tetapi juga pada pengurangan emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas logistik industri secara keseluruhan.

"Integrasi dengan jaringan rel kereta api nasional akan memastikan kelancaran arus barang dan mengurangi beban lalu lintas di jalan raya nasional secara signifikan," kata Ngurah. Keberadaan jalur khusus ini menjadikan proses pengangkutan barang lebih stabil dan terukur jadwalnya.

Pemerintah juga memastikan akses jalan tol yang terhubung langsung ke pintu kawasan tetap terjaga kualitasnya untuk mendukung mobilitas kendaraan logistik. Kombinasi antara jalur rel dan tol ini menciptakan sistem transportasi multimoda yang modern dan sangat efisien.

Terkini