JAKARTA - Sebuah riset yang dimuat dalam Science of The Total Environment membuktikan terjadinya penurunan populasi kunang-kunang di berbagai belahan dunia.
Dicky Budiman selaku ahli kesehatan lingkungan menjelaskan bahwa hilangnya serangga ini menjadi penanda bahwa kondisi kesehatan lingkungan sedang memburuk.
"Tentu kami harus bergerak menjaga atau memperbaiki kesehatan lingkungan ini, jadi mengurangi polusi termasuk polusi cahaya karena polusi ini mengganggu sinyal bioluminescence kunang-kunang untuk kawin," kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com saat dihubungi Senin (22/6/2026).
Dicky memberikan perbandingan dengan situasi di negara maju, yang mana suasana malam hari cenderung lebih gelap karena penggunaan lampu hanya dilakukan seperlunya.
Langkah pencegahan tidak hanya terbatas pada pengaturan pencahayaan, melainkan juga mencakup pemulihan habitat mikro yang krusial untuk dirawat, seperti area rawa, keberadaan kayu yang membusuk, serta rumput yang tumbuh tinggi.
"Biarkan sebagian area taman atau kebun kami itu alami, juga kurangi atau hindari penggunaan pestisida, pertahankan juga vegetasi tepi sungai saluran air. Pengurangan pestisida termasuk insektisida ini sangat penting karena ini dapat mengurangi dampak pada larva atau fase dewasa dari kunang-kunang," tambahnya.
Terkait dengan mutu air, ia melanjutkan bahwa upaya pembenahan kualitas air di wilayah sekeliling juga sangat penting untuk diperhatikan.
Hal tersebut dikarenakan habitat hidup kunang-kunang berada di kawasan yang dekat dengan sumber air serta tanah yang basah.
Oleh sebab itu, Dicky memberikan rekomendasi agar masyarakat tidak membuang limbah langsung ke aliran air, serta mulai memisahkan pembuangan limbah rumah tangga dan sisa detergen.
"Pemerintah juga perlu peduli karena dalam konteks ini perlu peran besar dari pemerintah misalnya dalam mengatur tata kota, evaluasi izin bangunan di zona tepi sungai, mengatur penggunaan pestisida, dan pencahayaan luar ruangan," ujarnya.
Secara fungsi ekologis, kunang-kunang memegang peran vital sebagai bioindikator bagi kesehatan lingkungan sekitar.
Dengan kata lain, ketika kunang-kunang mulai menghilang, hal itu menjadi cerminan dari merosotnya mutu kesehatan lingkungan hidup.
"Menghilangnya kunang-kunang adalah indikasi menurunnya kesehatan lingkungan. Ini secara ilmiah sangat kuat karena kunang-kunang secara ekologis berfungsi sebagai bioindikator vital kesehatan lingkungan," kata Dicky.
Lantas, apa yang menyebabkan serangga bercahaya ini mampu menjadi indikator biologis bagi kondisi kesehatan lingkungan?
"Karena siklus hidupnya multihabitat yang sangat kompleks. Kondisi ini membuat hewan ini sangat sensitif terhadap semua parameter kualitas lingkungan secara umum," ujarnya.
Saat masih berwujud larva, kunang-kunang menghabiskan waktu selama satu hingga dua tahun dengan hidup di dalam tanah.
Memasuki fase berikutnya, larva tersebut akan berubah menjadi pupa atau kepompong dan tinggal di area lumut yang basah atau di dalam tanah selama kurun waktu tiga hingga empat minggu.
Ketika sudah beranjak dewasa, kunang-kunang akan berpindah habitat ke area vegetasi yang berada di pinggiran air.
"Ancaman yang terdeteksi pada level larva adalah pestisida, kekeringan, perubahan iklim. Kalau pada pupa ya kompresi tanah dan urbanisasi," ujar Dicky.
Faktor polusi, rusaknya habitat alami, serta pemakaian insektisida menjadi deretan penyebab utama yang membuat kunang-kunang kesulitan bertahan hidup dari satu fase ke fase berikutnya.
Perubahan cuaca dan pola iklim diduga kuat menjadi faktor pengancam paling dominan lantaran larva kunang-kunang sangat bergantung pada tingkat kelembapan tanah agar bisa tetap bertahan hidup.
"Urbanisasi, perluasan pertanian dan deforestasi juga secara langsung menghancurkan habitat basah, hutan, dan rawa yang esensial bagi siklus hidup kunang-kunang," tambahnya.
Apabila ditinjau dari sudut pandang One Health (kesatuan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan), lenyapnya populasi kunang-kunang merupakan sebuah sinyal cascade ecological.
"Jadi, kalau serangga yang sangat sensitif ini tidak bisa bertahan, maka ekosistem tersebut telah kehilangan integritas fundamentalnya. Artinya memengaruhi ekosistem yang manusia butuhkan yaitu air bersih, tanah subur, dan rantai pangan," ujar Dicky.
Selain jenis kunang-kunang, kelompok hewan amfibi seperti katak juga bisa difungsikan sebagai penanda bagi kondisi kesehatan lingkungan.
Pada umumnya, hilangnya populasi katak di sebuah kawasan perairan menjadi sebuah petunjuk nyata mengenai adanya pencemaran air.
"Juga ada lebah sebagai indikator kesehatan ekosistem, tonggeret (riang-riang) juga sama," kata Dicky.
Bukan cuma dari dunia hewan, beberapa jenis tumbuhan pun dapat dimanfaatkan sebagai penanda kesehatan lingkungan, contohnya adalah lichen atau yang dikenal sebagai lumut kerak.
Lumut jenis ini merupakan tumbuhan indikator yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap polusi udara.
Apabila lumut kerak ini tidak lagi ditemukan di area perkotaan, hal tersebut menjadi indikasi bahwa mutu udara di sana tergolong buruk.
"Kalau bicara pemetaan bioindikator berdasarkan komponen lingkungan, misalnya kualitas air sungai, biasanya ini bisa kami lihat dari amfibi seperti katak dan salamander," tambahnya.
Kelompok hewan amfibi ini memiliki tingkat kepekaan yang sangat tinggi terhadap zat polutan di dalam air, serta kerap memperlihatkan gangguan pertumbuhan atau penurunan keberhasilan proses reproduksi saat berada di lingkungan yang terpolusi.
"Kalau udara atau lingkungan darat, itu misalnya lebah madu. Lebah madu ini terbukti jadi biomonitor yang sangat berharga dalam melihat polutan tanah dan udara," pungkasnya.
Di samping itu, burung walet juga diketahui memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai bioindikator terhadap resistensi antimikroba di lingkungan sekitar.