Urban Farming di Jakut Sulap Tempat Sampah Jadi Kebun

Urban Farming di Jakut Sulap Tempat Sampah Jadi Kebun
Ilustrasi Berkebun (FOTO: NET)

JAKARTA - Suasana di salah satu sudut RW 07 Kompleks Perumahan Pelindo, Rawa Badak Selatan, terasa berbeda dari biasanya sejak tahun 2025.

Suasana kompleks yang biasanya hanya ramai dengan deru kendaraan atau hiruk pikuk warga, kini terdapat hamparan hijau yang menyelinap di antara pagar-pagar rumah.

Aroma tanah basah bercampur wangi dedaunan segar menguar, mengingatkan pada suasana pedesaan yang jauh dari bayangan kota metropolitan seperti Jakarta.

Di tengah padatnya pemukiman Jakarta, sepetak kebun sayur dan buah itu berhasil menghadirkan ketenangan ala kampung halaman bagi warga sekitar.

Daun kangkung dan bayam terlihat bergoyang pelan setiap kali diterpa angin, sementara tomat ceri merah merona menggantung menunggu untuk dipetik.

Tomat ceri yang sudah matang terlihat tengah dipanen oleh Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kelurahan Rawa Badak Selatan Yuli Purwatiningsih bersama para stafnya.

Tak hanya tomat ceri, para petugas kelurahan juga memanen labu air, terong, dan juga pare dari kebun di tengah kompleks itu.

Ketua TP PKK Kelurahan Rawa Badak Selatan mengapresiasi pembangunan kebun sayur dan buah itu, karena dapat membangun ketahanan pangan untuk warga.

"Terima kasih kepada Bapak RW 07, termasuk pengelola urban farming atau pertanian perkotaan karena sudah bisa membantu warga di sekitar sini. Alhamdulillah, selain sayuran tadi, di sini juga ada nangka, singkong, kangkung, bayam, dan cabai yang sudah berbuah," ucap Yuli ketika di lokasi, Jumat (19/6/2026) siang.

Istri Lurah Rawa Badak Selatan itu mengatakan, berbagai dukungan akan diberikan oleh pemerintah untuk mendukung gerakan urban farming itu.

Ke depannya, pihak kelurahan akan memberikan dukungan berupa penyuburan tanah.

Sebab, salah satu tantangan yang dihadapi para pengelola dalam membangun kebun sayur dan buah itu adalah tanah yang padat.

"Mungkin kami akan mengupayakan bagaimana agar tanah tersebut bisa lebih gembur dan subur kembali untuk ditanami," sambung dia.

Yuli berharap, agar ke depannya banyak lahan-lahan tidak terpakai di Rawa Badak Selatan bisa benefited sebagai ladang pertanian perkotaan, seperti di RW 07.

Ketua RW 07 Triyadi Setyawan (47), mengatakan kebun seluas 450 meter persegi itu dulunya merupakan lahan terbengkalai yang menjadi tempat pembuangan sampah dan puing warga.

Sebelum dibangun urban farming, lahan itu memang sudah ditumbuhi tanaman liar seperti pohon pisang.

"Merupakan lahan kosong yang sering dijadikan tempat pembuangan sampah oleh warga. Bahkan ada warga yang membangun dan menumpuk puing-puing bekas bangunan di sini," ucap Tri di lokasi, Jumat.

Sampah-sampah seperti balok dan organik lainnya dari rumah-rumah warga juga banyak ditemukan menumpuk di lahan itu.

Sampai akhirnya, Lurah Rawa Badak Selatan terdahulu Yuyun Wahyudi berinisiatif untuk mengubah lahan itu menjadi kebun sayur dan buah.

Tri juga meminta bantuan dari Unit Pelaksana (UP) Badan Air untuk membersihkan sampah di lokasi itu dengan alat berat ekskavator.

Setelah itu, pihak kelurahan juga menugaskan sekitar empat orang petugas PPSU untuk membantu membangun lahan urban farming di RW 07.

"Selama kurang lebih dua bulan, dari akhir Juni hingga Agustus, ada empat orang petugas PPSU yang bekerja setiap hari untuk membersihkan sampah dan membangun jalanan di kebun ini," ucap Wahyudi.

Keberadaan petugas PPSU dinilai cukup membantu Tri dalam membangun urban farming tersebut.

Sebab apabila harus menyewa tukang untuk membantu membangun dan mengurusi kebun itu, ia mengaku tidak sanggup untuk membayar upahnya.

Meski baru genap satu tahun berdiri, kebun itu sudah ditumbuhi berbagai jenis tanaman buah, sayur, dan obat.

Mulai dari terong, tomat, kangkung, bayam, kemangi, jagung, pare, mentimun, oyong, labu air, cabai, pisang, jambu, nangka, durian, hingga anggur.

Namun, tidak semua tanaman sudah pernah dipanen, seperti durian yang baru mulai berbuah.

Sementara yang sudah dipanen pun terkadang hasilnya kurang optimal, salah satunya adalah anggur yang sulit untuk tumbuh besar dan rasanya kurang manis.

Sedangkan tanaman yang tumbuh subur di kebun ini adalah kangkung dan bayam, karena siklus tanamnya yang cukup pendek karena hanya membutuhkan waktu sekitar tiga minggu untuk dipanen.

Dalam satu kali panen, kebun tersebut bisa menghasilkan sekitar lima kilogram kangkung dan bayam.

Lalu, sayuran yang berhasil tumbuh subur di kebun ini juga ada jagung, namun waktu tanamnya lebih lama hanya sekitar tiga hingga empat bulan.

"Hasil panen kami bagikan secara gratis kepada warga untuk ketahanan pangan," ucap Tri.

Suku Din Ketahan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Jakarta Utara, mengapresiasi warga RW 07 yang mampu mengubah lahan terbengkalai menjadi kebun sayur dan buah yang produktif.

"Pada prinsipnya kami bangga dan mendukung kegiatan urban farming tersebut, di mana terdapat pemanfaatan lahan tidur menjadi lahan produktif yang bermanfaat untuk masyarakat sekitar lokasi," ucap Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Utara Novy Christine Palit , Jumat.

Sudin KPKP Jakarta Utara mengaku selalu mendukung kegiatan warga yang mampu membangun urban farming di tengah lahan terbatas.

Oleh karena itu, Sudin KPKP selalu berusaha memberikan dukungan berupa tanaman dan sarana pertanian.

Selain itu, Sudin KPKP Jakarta Utara juga terus berupaya melakukan pendampingan langsung ke warga untuk mengedukasi terkait dengan teknis budidaya tanaman agar kebun yang dibangun bisa menghasilkan.

Kemudian, Sudin KPKP juga menyelenggarakan pelatihan kepada para penggiat urban farming berupa bimbingan teknik pertanian perkotaan.

Novy mengatakan, untuk para penggiat urban farming di RW 07, Kelurahan Rawa Badak Selatan, juga akan diikutsertakan dalam berbagai pelatihan yang akan dilaksanakan pada tahun 2026 ini.

Dengan pelatihan, diharapkan urban farming yang sudah dibangun di RW 07 bisa terus berkembang dan menghasilkan untuk warga sekitar.

Sementara pendampingan secara teknik juga akan dilaksanakan oleh Kepala Satuan Pelaksana Kecamatan di setiap wilayah yang ada.

Kasudin KPKP Jakarta Utara itu juga mengatakan, keberadaan lahan urban farming di tengah kota bukan hanya untuk mendukung ketahanan pangan saja.

Namun juga bermanfaat untuk menjaga kelestarian lingkungan di Jakarta agar lebih asri dan hijau.

Apalagi, urban farming RW 07 dibangun di atas lahan bekas tempat sampah, sehingga dinilai sangat efektif menekan angka pencemaran.

"Dengan adanya kegiatan urban farming di lokasi tersebut turut mencegah masyarakat yang membuang sampah sembarangan di lahan yang tidak dimanfaatkan, sehingga turut mengurangi pencemaran lingkungan dan menghilangkan bau yang menyengat dari timbunan sampah yang dahulu ada," sambung Novy.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index