BRIN dan Bulog

BRIN dan Bulog Gunakan Teknologi Iradiasi untuk Ketahanan Pangan

BRIN dan Bulog Gunakan Teknologi Iradiasi untuk Ketahanan Pangan
BRIN dan Bulog Gunakan Teknologi Iradiasi untuk Ketahanan Pangan

JAKARTA - Dalam upaya menjaga ketahanan pangan nasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menggandeng Perum Bulog untuk menjajaki pemanfaatan teknologi iradiasi sebagai solusi pengendalian hama pascapanen beras. 

Langkah ini diambil untuk mengatasi masalah umum yang dihadapi oleh Bulog, yakni kutu beras (weevil) yang bisa berkembang biak selama masa penyimpanan beras yang panjang.

Kolaborasi ini menjadi penting, mengingat Perum Bulog menargetkan masa simpan beras hingga mencapai 10 bulan, dan risiko hama kutu beras yang tidak terdeteksi sejak tahap penggilingan dapat merusak kualitas beras. 

Telur kutu yang menyerupai butiran beras sering kali tersembunyi di dalam kemasan dan berkembang menjadi larva serta serangga dewasa selama proses penyimpanan. Oleh karena itu, penerapan teknologi iradiasi diharapkan dapat memutus siklus hidup hama tanpa menurunkan kualitas beras.

Pemanfaatan Teknologi Iradiasi untuk Pengendalian Hama

BRIN menawarkan solusi melalui teknologi iradiasi pengion dengan berkas elektron berenergi tinggi (electron beam irradiation) yang dirancang untuk merusak struktur biologis telur, larva, dan serangga dewasa tanpa meninggalkan residu kimia atau meningkatkan suhu produk secara signifikan. 

Menurut Bimo Saputro, peneliti dari ORTN BRIN, teknologi ini mampu mengatasi masalah hama pascapanen tanpa merusak mutu fisik dan kandungan gizi beras, menjadikannya alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia konvensional.

"Iradiasi pengion ini efektif untuk menghentikan siklus hidup hama pada beras, sekaligus memastikan kualitas dan kandungan gizi tetap terjaga. Ini adalah solusi yang lebih ramah lingkungan dan lebih aman dibandingkan dengan penggunaan bahan kimia," ujar Bimo. 

Dengan menggunakan teknologi ini, diharapkan masa simpan beras bisa lebih panjang tanpa risiko kerusakan yang disebabkan oleh hama.

Langkah Kolaboratif untuk Mengoptimalkan Pengelolaan Gudang

Untuk memastikan efektivitas dari penerapan teknologi iradiasi ini, tim peneliti BRIN melakukan kunjungan langsung ke gudang Bulog yang ada di Jakarta Timur. 

Di sana, mereka memetakan berbagai kondisi terkait penyimpanan beras, termasuk sistem ventilasi, tata letak karung, pola distribusi, serta potensi titik masuk hama dari lingkungan sekitar. Langkah ini diambil sebagai bagian dari pendekatan berbasis data lapangan untuk merancang solusi yang tepat guna dan aplikatif.

"Sebelum memutuskan dosis dan strategi operasional, penting bagi kami untuk memahami kondisi pergudangan secara langsung. Hal ini memastikan bahwa solusi yang kami tawarkan dapat diterapkan dengan efektif di lapangan," kata Bimo. 

Dengan pendekatan berbasis data ini, diharapkan kolaborasi antara BRIN dan Bulog dapat menghasilkan solusi yang lebih efisien dan tepat sasaran.

Tantangan dan Prospek Implementasi Teknologi Iradiasi

Syaiful Bahkri, Kepala ORTN BRIN, menjelaskan bahwa dosis iradiasi yang dibutuhkan relatif rendah, yaitu sekitar 1 kilogray (kGy) hingga maksimal 3 kGy. Dosis ini dianggap cukup untuk membasmi telur dan larva yang tersembunyi di dalam butiran beras, tanpa mengubah kualitas beras itu sendiri. 

Namun, ia juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi sangat bergantung pada beberapa faktor penting, seperti tata kelola pergudangan yang baik, kemasan yang rapat, serta pengendalian akses yang ketat.

"Dosis iradiasi yang digunakan memang rendah, namun untuk memastikan keberhasilan implementasi, perlu ada pengelolaan pergudangan yang optimal, serta kontrol ketat terhadap proses pengemasan dan distribusi beras," ujar Syaiful. 

Kunci keberhasilan lainnya adalah penggunaan sistem pengendalian yang dapat mencegah masuknya hama dari luar gudang.

Masa Depan Teknologi Iradiasi untuk Pangan

Pada tahap awal implementasi, BRIN dan Bulog menargetkan kapasitas layanan mencapai 4 hingga 5 ton beras per hari sebagai fase percontohan.

 Setelah fase ini berhasil, kajian teknis lanjutan akan dilakukan untuk menentukan dosis optimal, melakukan uji keamanan pangan, serta membandingkan efektivitas iradiasi dengan teknologi pengendalian hama lainnya.

Menurut Syaiful, meskipun teknologi iradiasi menawarkan banyak potensi, riset dan evaluasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan bahwa semua aspek terkait penerapannya, dari segi teknis maupun regulasi, dapat berjalan dengan lancar. 

"Kami akan melanjutkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan teknologi ini dapat diterapkan secara lebih luas dalam pengendalian hama pascapanen beras, serta membandingkannya dengan teknologi lain yang tersedia," ungkapnya.

BRIN dan Bulog berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi iradiasi ini dan berencana untuk memperluas penerapannya di berbagai daerah di Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan produksi beras terbesar di dunia. 

Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan cara yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan aman bagi konsumen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index